AMETHYST : Kekasih Drucless

AMETHYST : Kekasih Drucless
AKD - 1 - AQUAMARINE


__ADS_3

 


 


 


 


-◎◎ Devitaa ◎◎-


 


 


Aku terlahir dengan nama Devitaa Joanne. Dalam bahasa nasional, artinya adalah kejombloan.


 


 


Ah, tidak.


 


 


Aku hanya bercanda.


 


 


Amit-amit.


 


 


Sekarang aku kelas 12 di salah satu SMA di Planet Bumi ini. Sebut saja di Asia Tenggara, tepatnya negara tercintaku, Indonesia.


 


 


Pertanyaannya adalah... kenapa aku harus jomblo di abad ini?!


 


 


Tolonglah, aku tidak sejelek itu. Kadang aku merasa iri melihat teman-teman perempuanku yang sudah punya pacar.


 


 


Sebenarnya tidak sedikit laki-laki yang datang padaku dan mengungkapkan perasaan mereka dengan sungguh-sungguh. Ketika PDKT, semuanya berjalan baik-baik saja. Namun, beberapa hari kemudian, mereka tidak lagi mau bersamaku.


 


 


Entah apa alasannya.


 


 


Mereka akan pergi dan seolah tidak mengenalku. Pada akhirnya aku jomblo lagi.


 


 


Aku belum pernah punya pacar, sungguh.


 


 


Apa pacar itu penting? Sebenarnya tidak juga. Tapi, karena teman-temanku punya pacar, aku jadi sendirian.


 


 


Mereka meninggalkanku bersama pacar mereka. Tega sekali bukan? Mereka sudah mendzolimi makhluk jomblo ini.


 


 


Lupakan.


 


 


Masa remajaku ini memang tidak menyenangkan. Tidak perlu dibahas.


 


 


Saat ini aku sedang berada di dalam taksi. Setelah jam pembelajaran di sekolah selesai, aku mau langsung pulang ke rumah.


 


 


Aku adalah anak tunggal dari orang tua yang berpisah. Sekarang aku tinggal bersama nenekku yang berkursi roda. Beliau mengalami stroke dan juga tidak bisa melihat.


 


 


Aku merawatnya dengan baik, karena beliau yang sudah merawatku sejak kecil. Aku selalu memanggil nenekku dengan panggilan omma.


 


 


Bulan Desember ini sangat dingin. Taksi yang aku tumpangi terjebak macet. Semoga saja ommaku makan dengan baik. Ada dua perawat yang menjaganya selama aku tidak berada di rumah.


 


 


Hari Sabtu dan Minggu mereka akan pulang, karena aku yang akan menjaga omma.


 


 


Aku melihat jalanan yang mulai basah di jatuhi serangan mendadak dari langit. Ya, hujan mengguyur kota.


 


 


Aku mengeratkan jaketku sambil mengedarkan pandangan ke luar mobil. Aku melihat mantel bulu berwarna hijau yang tebal di salah satu toko di pinggir jalan. Tampaknya akan hangat jika dipakai di cuaca seperti ini.


 


 


Omma akan menyukainya. Kebetulan sekali beliau menyukai warna hijau. Namun, tokonya mau tutup. Aku segera menepuk kursi sopir.


 


 


"Pak sopir, saya turun dulu, ya."


 


 


"Oh iya, silakan."


 


 


Aku turun dari taksi sambil berlari ke toko tersebut menerobos hujan.


 


 


"Permisi."


 


 


Mendengar suaraku, kedua orang yang sedang menutup toko itu menoleh.

__ADS_1


 


 


"Saya boleh memilih baju?" Tanyaku.


 


 


"Silakan masuk."


 


 


Tampaknya kedua orang itu adalah sepasang suami istri. Dengan ramah, mereka mempersilakanku untuk memilih pakaian yang terpasang di torso yang berjejer rapi di depanku.


 


 


"Saya menyukai ini, berapa harganya?" Aku menunjuk mantel hijau yang membuatku jatuh hati ketika pertama melihatnya.


 


 


Setelah membayar dengan 'kartu ajaib', aku pun kembali ke dalam taksi dan pulang ke rumah.


 


 


Di rumah, aku melihat ommaku sedang berada di depan. Beliau duduk di kursi roda. Sepertinya menungguku.


 


 


Lagi-lagi aku harus berlari menerobos hujan.


 


 


"Omma." Aku menyapanya.


 


 


"Sayang? Kau sudah pulang?" Omma mengangkat kedua tangannya ingin memelukku.


 


 


Bagaimana ini? Aku 'kan basah.


 


 


"Vita? Kau lupa membawa payung lagi?"


 


 


"Hehe, iya." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


 


 


"Lain kali, minta papamu mendonorkan salah satu mobilnya," canda omma.


 


 


Aku tertawa. "Aku memakai jaket, jadi tidak terlalu basah."


 


 


Omma mengangguk pelan.


 


 


 


 


Jika rumah kotor, aku akan memanggil perusahaan yang menyediakan jasa pembersihan rumah. Biasanya rumah omma dibersihkan seminggu sekali.


 


 


"Omma sudah makan?" Tanyaku.


 


 


"Tadi pengantar makanan sudah membawa sesuatu yang enak aromanya. Tapi, Omma mau makan bersamamu."


 


 


Oh iya, ada restoran langganan yang sengaja aku pesan untuk mengantarkan makanan ke rumah setiap hari di jam tertentu.


 


 


Itulah sebabnya barang dapur di rumah omma selalu mengkilap.


 


 


Tidak ada yang memasak.


 


 


Aku juga tidak bisa memasak.


 


 


"Kenapa Omma tidak makan duluan?" Protesku.


 


 


"Tidak enak jika tidak makan bersamamu."


 


 


Ommaku romantis sekali. Seandainya orang lain yang mengatakan itu.


 


 


Ah, bucinku mulai lagi.


 


 


Aku membuka jaketku dan meletakkannya di kursi. "Sekarang aku sudah di sini, ayo kita makan."


 


 


Aku menyuapi omma dengan telaten. Waktu kecil, omma sering menyuapiku. Dibandingkan ibu kandungku, aku lebih dekat dengan omma.


 


 


"Para perawat mengingatkan Omma untuk makan, kan?" Tanyaku hati-hati.

__ADS_1


 


 


Dengan ketus, omma menjawab, "Omma tidak nyaman dengan keberadaan mereka. Suruh saja mereka berhenti."


 


 


Padahal kedua perawat itu bekerja dengan baik. Aku sangat menghargai kerja keras mereka selama 2 bulan ini.


 


 


"Jika mereka berhenti, siapa yang akan menjaga Omma ketika aku sekolah?"


 


 


"Omma memang tidak bisa melihat, tidak bisa berjalan, dan pendengaran Omma juga sudah mulai buruk. Tapi, Omma bisa sendiri."


 


 


Aku memeluk omma kesayanganku ini. Sedih sekali aku mendengarnya.


 


 


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Omma, aku membawa kejutan untuk Omma."


 


 


Omma terlihat senang. "Benarkah? Apa itu, sayang?"


 


 


Aku mengambil mantel yang tadi kubeli dan menyelimutkannya ke tubuh omma. Terlihat sangat cocok untuk beliau.


 


 


"Omma terlihat cantik," pujiku.


 


 


"Benarkah? Hangat sekali. Ini warna apa?" Tanya omma semangat.


 


 


Aku tersenyum getir. "Hijau. Warna kesukaan Omma."


 


 


Pelukan hangat kuterima dari ommaku yang manja ini. "Terima kasih, Vita, cucuku sayang."


 


 


"Aku sayang Omma."


 


 


"Omma juga menyayangi Vita."


 


 


Setelah mengantar omma tidur, aku pun berlalu ke kamar dan merebahkan tubuhku ke tempat tidur.


 


 


Saking dinginnya, aku tidak mau mandi. Namun, aku merasa tidak nyaman kalau harus tidur tanpa mandi dulu.


 


 


Terpaksa aku menyalakan shower dan mandi dengan air hangat. Setelah beberapa menit, aku keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian tidur.


 


 


Sejenak aku melihat wajahku di cermin. Aku memiliki sepasang mata yang bulat dan besar. Omma bilang, mataku seperti tupai.


 


 


Iris mataku berbeda dengan mata orang Indonesia kebanyakan. Warnanya amethyst, padahal aku bukan berdarah campuran. Orang tuaku adalah orang asli Indonesia.


 


 


Warnanya tidak terlalu jelas jika aku sedang berada di tempat yang terang. Warnanya akan terlihat seperti coklat muda. Jika aku berdiri di tempat yang gelap, maka warna mataku ini akan tampak jelas berwarna ungu gelap.


 


 


Papa dan mama sempat mempermasalahkan namaku. Mama ingin nama Violet untukku, sementara papa ingin nama Resvita. Artinya sama saja ungu.


 


 


Entah kenapa, akhirnya nama Devitaa yang dipilih. Mungkin kedengarannya agak imut untukku.


 


 


Setelah bercermin, aku melompat ke ranjang dan menarik selimut tebal untuk membungkus tubuhku. Perlahan aku mulai tertidur. Ketika diambang kesadaran menuju alam mimpi, aku merasakan ada seseorang yang duduk di tepi ranjangku.


 


 


Selanjutnya sebuah tangan dingin menyentuh leherku dengan lembut. Aku makin merasa kedinginan.


 


 


Ketika kucoba membuka kedua mataku, rasanya sulit sekali. Kelopak mataku terasa sangat berat.


 


 


Yang lebih mengejutkan lagi, aku merasakan sesuatu yang basah menyentuh bibirku.


 


 


Siapa orang ini?


 


 


Berani sekali dia menciumku!


 


 


-


 


 

__ADS_1


14.38 : 1 Oktober 2019


By Ucu Irna Marhamah


__ADS_2