AMETHYST : Kekasih Drucless

AMETHYST : Kekasih Drucless
AKD - 4


__ADS_3

 


 


 


 


Aku sedang tengkurap di tempat tidur sambil memainkan ponselku. Aku berharap ada teman yang bisa diajak curhat. Aku ingin berbagi kesedihanku dengan mereka. Namun, sepertinya mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing.


 


 


Tampaknya Angel juga sudah punya gebetan baru. Dia bahkan tidak membuka chat dariku.


 


 


Aku memperhatikan Twisy yang mulai mengeong sambil menatap ke sudut kamar. Aku melihat ke sana. Tidak ada apa pun di sana.


 


 


Namun, ketika aku melihat kedua iris mata Twisy, aku melihat ada pantulan bayangan gelap di sudut kamar.


 


 


Ada seseorang yang berdiri di sana, tapi aku tidak melihatnya. Sementara Twisy melihat keberadaannya dan mencoba memberitahuku.


 


 


Seketika tubuhku membeku. Aku ketakutan dan tidak bisa bergerak. Tidak mau sedikit pun menoleh ke sudut kamar.


 


 


Bahkan sekarang aku bisa mendengar suara napas yang berat dari belakangku. Twisy mengeong semakin keras.


 


 


Kututup rapat-rapat kedua mataku. Aku merasakan kecupan hangat di leher dan telingaku.


 


 


Samar-samar aku mendengar suara bisikan tepat di telingaku. "Aku merindukanmu, kekasihku."


 


 


Tubuhku gemetar ketakutan.


 


 


"Vita?"


 


 


Aku tersentak dan menoleh ke pintu, karena mendengar suara nenekku. Twisy berhenti mengeong. Aku melihat ke sekeliling. Tidak ada siap pun di kamarku.


 


 


Aku segera bangkit menuju ke pintu dan melihat omma bersama perawat yang mendorong kursi rodanya.


 


 


"Nona, ada teman anda di depan. Dia ingin menemui anda," ucap perawat.


 


 


"Siapa?" Tanyaku.


 


 


"Temanmu yang waktu itu sedang lari pagi dan bertemu kita," jawab omma.


 


 


Ashlan?


 


 


Aku pun berlalu menemui orang yang mereka maksud. Ternyata benar, itu Ashlan.


 


 


"Vita."


 


 


"Ashlan, ada apa?"


 


 


Kami berbicara di kursi taman di depan rumah.


 


 


"Aku mau minta maaf. Waktu itu aku bicara kasar padamu. Aku harap, kita tetap berteman," kata Ashlan.


 


 


Teman, iya.


 


 


"Kau mau merawat Twisy dengan baik, kan?"


 


 


Aku mengangguk. "Iya, tentu saja."


 


 


"Semoga kau bahagia bersamanya," ucap Ashlan dengan pandangan tertuju pada jendela kamarku.


 


 


Aku mengernyit dan mengikuti arah kandangnya.


 


 

__ADS_1


Deg!


 


 


Aku bisa merasaka jantungku yang serasa dihantam Palu Thor ketika melihat ada seseorang di dalam kamarku. Sepertinya dia sedang melihat kami dari jendela.


 


 


Ashlan bangkit dari kursi. "Aku harus pergi. Maaf mengganggu waktumu dengannya, sampai jumpa."


 


 


Dia pun berlalu.


 


 


Aku segera masuk ke rumah dan berlari menaiki tangga menuju kamarku. Kubuka pintu kamar dengan kasar.


 


 


Tidak ada siapa-siapa di kamarku.


 


 


"Kumohon, siapa pun kau, tolong jangan menggangguku. Aku juga tidak pernah mengganggumu," ucapku.


 


 


Rasanya ada seseorang di belakangku. Ketika berbalik, aku terkejut melihat salah satu perawat ommaku berdiri di sana.


 


 


"Ada apa, Kak?" Tanyaku.


 


 


"Nyonya besar ingin makan siang bersama anda."


 


 


-


 


 


Keesokan harinya, aku menceritakan semuanya pada teman-temanku.


 


 


Angel, Theresia, dan Gabriella.


 


 


Theresia bergidik seram. "Ada hantu di rumahmu? Menakutkan sekali. Biasanya rumah besar memang banyak hantunya."


 


 


"Aku baru mengalami kejadian itu kemarin. Bahkan hantu itu mengganggu hubunganku dengan Ashlan," kataku lagi.


 


 


 


 


"Hubungan pertemanan," ucapku.


 


 


"Memangnya apa yang terjadi? Hantu itu meneror Ashlan juga?" Tanya Gabriella sambil tertawa.


 


 


"Haha, kasihan Ashlan."


 


 


Aku semakin merasa kesal. "Kalian mendengarkanku dengan serius, tidak?"


 


 


"Kami serius." Jawaban yang berbanding terbalik dengan ekspresi mereka.


 


 


Aku beranjak dari kursi kemudian berlalu mengabaikan suara mereka yang terus-menerus memanggilku dan meminta maaf.


 


 


Tidak aku dengarkan. Aku langsung masuk ke mobil.


 


 


Ketika dalam kesulitan, mereka mencurahkan semua masalah mereka padaku. Aku juga memberikan solusi semampuku untuk mereka.


 


 


Sementara ketika aku dalam masalah, mereka mendengarkanku sambil meledek.


 


 


Apa mereka pantas disebut teman?!


 


 


Aku rasa, aku terlalu berlebihan pada mereka.


 


 


Biarlah, nanti juga baikan lagi. Aku melajukan mobilku menuju ke rumah.


 


 


Sayangnya aku terjebak macet. Hujan kembali mengguyur kota. Aku menaikkan kaca mobil dan mematikan AC.


 

__ADS_1


 


Cuacanya dingin sekali.


 


 


Ponselku berdering. Aku mendapatkan banyak pesan dari teman-temanku. Aku memutuskan untuk tidak membukanya.


 


 


Kemarin mereka kemana, ketika aku berada dalam kesedihan?


 


 


Keesokan harinya, aku bangun dengan kedua mata panda. Itu karena semalaman aku tidak bisa tidur mendengar Twisy terus-menerus mengeong.


 


 


Aku sudah siap dengan seragamku dan sarapan dengan omma.


 


 


"Apa hantu yang menggangumu itu sudah pergi?" Tanya omma.


 


 


Sambil mengunyah makananku, aku menggeleng. "Tidak, Omma. Kemarin waktu Ashlan datang, hantu itu muncul di jendela kamar."


 


 


Tangan omma menggapaiku. Aku mendekat dan meraih tangannya. "Dulu tidak ada hantu di rumah ini. Omma akan memanggil seseorang untuk mengusir hantu itu dari rumah ini."


 


 


"Apa hantunya tidak akan marah? Bagaimana jika hantunya semakin galak?" Tanyaku.


 


 


"Semoga saja tidak."


 


 


"Omma akan menyuruh orang pintar?" Tanyaku penasaran.


 


 


Dengan cepat, Omma menggeleng. "Tidak, Omma tidak percaya dukun."


 


 


Siapa yang bisa mengusir hantu, jika bukan orang pintar?


 


 


"Kenapa dukun disebut orang pintar oleh kebanyakan orang?" Tanya omma.


 


 


"Kenapa?" Aku bertanya balik.


 


 


"Karena yang datang pada orang pintar adalah orang bodoh."


 


 


Meski kedengaran ambigu, aku tertawa. Omma kesayanganku ini memang savage.


 


 


Aku pun pamit pergi ke sekolah. Ketika akan membuka pintu mobil, aku lupa di mana meletakkan kunci mobilku.


 


 


Aku membuka tasku dan tidak menemukannya. Sehingga aku harus kembali ke kamar. Mungkin saja kunciku tertinggal di kamar.


 


 


Ketika memasuki kamar, aku segera mencarinya. Di mana aku meletakkan kunci tersebut?


 


 


Bagaimana bisa aku melupakannya?


 


 


Ternyata ada di bawah di dekat nakas. Aku meghela napas lega sambil berjongkok mengambilnya kemudian membuka pintu untuk keluar.


 


 


Namun, seketika aku membeku saat melihat pria asing berdiri di depan kamarku. Jantungku berdetak kencang saking terkejut dan takutnya.


 


 


Pria bertubuh tinggi dengan rambut seputih salju dan sepasang mata berwarna aquamarine menatapku dengan penuh intimidasi.


 


 


Dia memakai pakaian serba hitam yang aneh.


 


 


"Si-siapa kau?"


 


 


"Aku suamimu."


 


 


-


 


 

__ADS_1


15.15 : 1 Oktober 2019


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2