
Tanah di dunia drucless terbelah dan muncullah makhluk-makhluk mengerikan dari dalam sana dan merusak apa pun yang ada di hutan tersebut.
Semua drucless di berbagai tempat bisa merasakan kedahsyatan itu. Mereka segera berdoa di kuil drucless.
"Dewi Amiless sedang marah. Apa ini adalah pertanda kehancuran dunia drucless?"
"Apa yang membuat Dewi Amiless marah?"
"Kita harus melakukan sesuatu, bukan?"
"Apa yang harus kita lakukan?"
Di sungai suci,
Vita memegangi tangan Rean. "Jangan pergi, kumohon kita pergi saja ke dunia manusia sekarang."
"Dewi Amiless adalah ibuku. Hanya aku yang memiliki separuh kekuatan miliknya. Hanya aku yang bisa menghentikannya. Dia tidak akan berhenti sebelum membunuhku." Rean melepaskan tangan Vita darinya.
Namun, gadis itu tetap memegang erat lengannya. "Ini berbahaya. Kita harus kembali sekarang dan memulai kehidupan kita di dunia manusia."
Rean menatap gadis yang sangat dia cintai itu. "Aku akan kembali. Aku tidak akan lama."
Vita mengecup bibir Rean dengan penuh cinta. Rean menangkup wajah gadis itu dengan sebelah tangannya.
Dewi Amiless melayang di udara. Dia tampak begitu murka. Tawanya menggema ketika melihat makhluk-makhluk itu merusak dunia drucless.
Wanita bermata merah itu merentangkan kedua tangannya. "Kalian akan musnah!"
Tiba-tiba Rean muncul di hadapannya dengan kedua warna matanya yang merah. Dewi Amiless terkejut.
"Baiklah, tidak boleh ada yang memilikiku hanya kau. Mari kita pergi bersama."
Deg!
Kedua mata mereka bertatapan lama membuat getaran dan lama-lama tubuh mereka membeku.
Suara kucing terngiang-ngiang di telinga Dewi Amiless. Itu membuatnya ketakutan. Keringat dingin mengalir dari segala arah.
Rean menggunakan darahnya untuk membuat segel terlarang. Tiba-tiba muncul kain merah dan mengikat seluruh tubuh Dewi Amiless.
__ADS_1
"Aaaarrgghhhh!"
Kain itu membalut seluruh tubuh Dewi Amiless dan menariknya jatuh ke sungai suci.
Vita membeku ketika melihat kain merah itu membalut tubuh Rean juga.
"Rean! Tidak! Kumohon kembali!" Vita berlari ke dekat sana, tapi tanah masih berguncang seperti gempa bumi. Banyak pohon yang berjatuhan.
Beberapa pohon akan menimpa tubuh Vita, tapi segel drucless milik Rean melindunginya. Terdapat gelembung setengah lingkaran di sekitar Vita. Berkat itu, pohon-pohon yang tumbang tidak menimpanya.
Rean tersenyum. "Aku mencintaimu, Devitaa."
Kain itu menarik tubuh Rean ke dasar sungai menyusul Dewi Amiless bersamaan dengan tersedotnya makhluk-makhluk yang merusak hutan itu.
Vita menangis saat merasakan segel Rean tidak lagi di lehernya. Segel itu menghilang bersamaan dengan perginya Rean.
Guncangan gempa pun berhenti. Vita berlari menghampiri tepi kolam. Dia melihat ke dalam sana. Terlalu gelap, dia tidak bisa melihat apa pun.
Bulan merah di langit warnanya memudar. Vita menyaksikan langsung warna bulan yang berubah normal.
Tak lama kemudian, matahari dari belakangnya muncul dan terbit secara perlahan.
Untuk pertama kalinya ada pagi hari di dunia drucless yang dipenuhi misteri.
Beberapa drucless datang ke hutan. Diantaranya ada tabib dan herfos (drucless yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki hutan yang rusak).
"Seumur hidup, baru kali ini aku melihat pagi di dunia drucless. Rasanya aku sedang berada di perbatasan," ucap pria tua bernama Geross. Dia adalah kepala tabib yang bertugas di perbatasan.
"Aku lihat, bulan merah semalam juga berubah menjadi putih seperti di dunia lain."
"Apa yang terjadi pada Dewi Amiless?"
"Entahlah."
Sesampainya di sungai suci, mereka terkejut melihat pohon besar yang tumbuh di tengah-tengah sungai. Sampai-sampai air sungainya meluber keluar batas tepi sungai.
"Dari mana datangnya pohon itu?!"
Mereka juga menemukan tubuh perempuan yang terkapar di tepi sungai bersama seekor kucing berwarna putih. Tidak lain perempuan itu adalah Vita.
"Siapa dia? Apa dia dari bangsa kita?" Tanya salah satu herfos sambil mencolek lengan Vita dengan hati-hati.
__ADS_1
"Dia seperti manusia," kata yang lain.
"Kau tahu dari mana?"
"Bukankah manusia memiliki tubuh yang lebih pendek dari kita?"
"Ini apa, ya?" Herfos dan tabib mengambil ponsel Vita yang tergeletak di tanah. Mereka berdua melihat kamera depan yang menunjukkan wajah mereka.
Ckrek!
"Aaa!!" Mereka tekejut saat ada blitz dan suara bidikan kamera, shingga mereka melemparkan ponsel tersebut ke tanah.
Salah satu dari mereka menyentuh Twisy. "Ini benda apa? Aku pikir, ini treteaa."
Twisy bangun dan mengeong. Beberapa herfos dan tabib perempuan menjerit karena terkejut.
"Makhluk apa dia?!"
Vita terbangun mendengar kebisingan di sekitarnya. Dia melihat orang-orang asing di sekitarnya. Gadis itu mundur ketakutan.
"Jangan takut, nak. Kami tidak melukai siapa pun." Geross menenangkan Vita.
Gadis itu menoleh pada pohon besar di tengah-tengah sungai suci. Kedua matanya membulat lebar.
Rean, gumamnya dalam hati.
"Aku bukan drucless. Aku manusia dan aku ingin pulang," kata Vita.
"Bisakah kau menceritakan apa yang terjadi sebenarnya? Kami belum bisa mengembalikanmu ke dunia manusia, sebelum kau menjelaskan apa yang terjadi. Hanya kau yang ada di tempat ini. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan kami selain dirimu."
Vita menangis tersedu-sedu. Meskipun merasa tertekan, gadis itu menceritakan semuanya. Dia mengerti, para drucless membutuhkan kejelasan darinya. Saat ini Vita sedang berada di dunia mereka, dia tidak bisa apa-apa, karena takut.
"Maafkan kami yang membuatmu tertekan. Terima kasih sudah menjelaskannya. Memang tidak seharusnya manusia dan drucless bertemu. Kami berjanji akan membuat dinding yang lebih kuat agar tidak ada salah satu dari dua makhluk yang berbeda untuk bertemu."
Vita hanya mengangguk pelan.
"Sebenarnya kami bukanlah makhluk yang berbahaya, jika tidak ada yang mengusik kami. Kami akan memulangkanmu ke dunia manusia dengan satu syarat, rahasiakan tentang dunia kami. Kami juga akan melupakan masalah yang berhubungan dengan dunia manusia."
Setelah itu, Vita diantarkan pulang bersama Twisy.
-
__ADS_1
9.41 : 19 Oktober 2019
Ucu Irna Marhamah