
"Rean, aku ingin memotretmu?" Tanya Vita. Ada kamera di tangannya.
Tidak memerlukan jawaban dari Rean, Vita langsung memotret pria itu. Dia memperlihatkan hasil jepretannya pada Rean.
"Kau mau memotret sesuatu?" Tanya Vita. Gadis itu mengajarkan Rean caranya memotret menggunakan kamera.
Pria itu memotret Twisy dan memotret objek lainnya. Vita membiarkan Rean menggunakan kameranya. Gadis itu duduk di ayunan sambil memperhatikan Rean di kejauhan.
Vita melamun sambil menggerakkan ayunan.
Rean kembali sambil menunjukkan objek yang dipotretnya pada Vita. Gadis itu tersenyum melihat dirinya yang jadi objek pemotretan Rean.
"Bagus juga. Kau belajar dengan cepat. Aku akan merekam wajahmu. Tapi, kau harus menunjukkan senyuman, ya." Vita mengarahkan kameranya ke wajah Rean. Dia mulai merekam.
Pria itu tersenyum hangat sambil menunjukkan jari piece. Vita tertawa lalu mengakhiri rekamannya. Untuk pertama kalinya dia melihat senyuman manis pria itu.
"Kau tampan sekali saat tersenyum seperti itu. Jangan berhenti tersenyum untukku." Vita mengguncangkan lengan Rean.
"Aku tidak suka tersenyum," ujar Rean.
Vita cemberut.
Rean kembali bersuara, "Tapi, jika untukmu, aku akan tersenyum."
Vita terkekeh. "Terima kasih."
"Rean, aku rasa... aku memang menyukaimu. Kita pacaran, kan?" Tanya Vita.
Rean menoleh pada gadis itu. "Iya, kita pacaran. Tapi, kau tidak menyukaiku dengan tulus.
Vita terlihat bingung. "Maksudmu?"
"Kau menyukaiku karena aku tampan. Yang kumau, kau menyukaiku karena tulus dari hatimu," ujar Rean.
Ucapan pria itu ada benarnya.
Rean sangat tampan, sehingga Vita terjebak dalam pesonanya. Gadis itu telah melupakan Rean yang pernah melakukan hal buruk padanya ketika pertama kali bertemu.
"Aku akan menunggumu untuk jatuh cinta padaku. Aku tidak mau memaksamu," tambah Rean.
Vita tersenyum. Dia punya pemikiran seperti manusia. Dia memang pria yang baik. Meskipun dia kadang mengerikan.
"Mau berfoto denganku?" Tanya Vita sambil mengarahkan lensa kamera kepada mereka berdua. Keduanya tersenyum lebar.
Cekrek.
__ADS_1
Vita melihat hasilnya. Mereka berdua tampak seperti pasangan yang bahagia. Meskipun terlihat jauh perbedaan tinggi badan, ukuran tubuh, dan usia mereka.
Tawa Vita meledak. "Teman-temanku akan mengira, kalau kau adalah kakakku, jika melihat foto ini."
Rean tertawa. "Apa aku terlalu dewasa? Aku pikir, para gadis lebih menyukai pria yang dewasa. Bukankah lebih daddy?"
Vita mengernyit. Ucapan Rean merujuk ke arah hal yang mesum. Dia menyikut lengan pria itu.
"Kau tahu dari mana?" Gerutu Vita.
"Aku membaca bukumu. Bukumu banyak sekali."
Kedua pipi Vita memerah mendengarnya. "Sudahlah, lupakan itu. Jangan membaca bukuku tanpa izin lagi, lain kali."
-
Vita selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan jubah mandi yang terpasang di tubuhnya. Gadis itu terkejut melihat Rean sedang memakai hair dryer miliknya.
Rean menoleh dengan rambut yang sudah berantakan. Vita tertawa melihat kekonyolan Rean.
"Apa yang kau lakukan?" Gadis itu duduk lalu memakai hair dryer tersebut ke rambutnya yang basah. Rean memperhatikannya dengan serius.
"Kalau kau mau menggunakan hair dryer, kau harus mandi dan keramas dulu," ucap Vita.
Rean mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi. Vita hanya menggeleng pelan melihat tingkah manis Rean yang berbanding terbalik dengan wajah seriusnya.
Vita telah berganti pakaian. Dia memakai bedak dan sedikit lipstik. Rean keluar dengan haduk hitam melilit di pinggangnya.
Pria itu menghampiri Vita dan memperhatikan apa yang dilakukan gadis itu. Rean mengambil lipstik yang baru saja dipakai Vita. Dia mengoleskan lipstik itu ke bibirnya meniru Vita.
Gadis itu mendongkak menatap Rean, kemudian beranjak dari kursi. "Duduk di sini."
Rean pun duduk. Vita mengeringkan rambut putih Rean dengan hair dryer.
"Hangat," ucap Rean. Vita hanya tersenyum menanggapinya.
"Kenapa rambutmu berwarna putih? Kau mengecatnya?" Tanya Vita.
Rean menjawab dengan suara pelan, "Tidak, aku terlahir dengan rambut putih, seperti ibuku."
"Ibumu pasti sangat cantik," kata Vita.
Tidak ada jawaban dari Rean. Pria itu mengambil bedak dan mengoleskannya ke wajah.
Vita tertawa. "Sebenarnya ini gaya perempuan. Laki-laki tidak pernah memakai bedak dan lipstik."
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Rean sambil menoleh pada Vita lewat cermin.
"Bedak dan lipstik dibuat untuk digunakan perempuan agar mereka terlihat lebih cantik," jawab Vita.
"Kau lebih cantik tanpa benda ini." Rean menunjuk bedak di tangannya.
"Aku terbiasa dengan make-up. Yang penting tidak terlalu tebal. Memangnya kau menyukaiku dengan, atau tanpa make-up?" Tanya Vita.
"Kau lebih cantik ketika sebelum tidur dan bangun tidur. Dengan benda ini, kau terlihat lebih tua." Jawaban sarkas dari Rean tidak membuat Vita marah.
Gadis itu malah tertawa. "Meskipun kau sering bilang, 'jika untukmu, aku akan melakukannya', aku tidak akan seperti itu. Aku akan tetap menggunakan make-up."
"Aku tidak akan memaksa. Kau tidak suka dipaksa, bukan?" Tanya Rean.
Vita terkekeh sambil mengusap bahu kekar pria itu. "Kau memang pengingat yang baik."
Setelah itu, Vita mengerjakan PR-nya. Rean melihat aktivitas gadis itu dengan duduk di sampingnya.
Vita mencari lewat Google dengan penelusuran suara. "Faktor penyebab perang dunia pertama, oke Google."
Google pun menjawab dan menjelaskan secara rinci. Vita segera melingkari pilihan ganda di buku.
"Penyebab perang dunia salah satunya adalah...."
"Manusia tidak memiliki kekuatan, tapi mereka memiliki pemikiran," ujar Rean.
"Kau mau mengatakan sesuatu?" Tanya Vita sambil menyerahkan ponselnya pada Rean.
"Apa yang harus aku katakan?" Tanya pria itu.
"Apa saja, Google bisa menjawab semua pertanyaan."
Rean mengambil ponsel Vita. "Kenapa Vita tidak tinggi?"
Mendengar pertanyaan konyol Rean, Vita mencubit lengan pria itu.
"Google tidak bisa menjawab pertanyaan seperti itu," gerutu Vita.
Rean tertawa.
Vita tersenyum melihat cara tertawa Rean. Pria itu tersenyum sangat indah. Terdapat lesung pipit yang cukup dalam jika tertawa seperti itu. Kedua matanya juga ikut tersenyum.
Perhatian Rean dan Vita teralihkan pada jawaban Google.
"Cara untuk mendapatkan tinggi badan yang ideal. Satu, perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran. Dua, perbanyak olahraga. Tiga, terima apa adanya takdir dari Yang Maha Kuasa."
-
__ADS_1
20.33 : 2 Oktober 2019
Ucu Irna Marhamah