AMETHYST : Kekasih Drucless

AMETHYST : Kekasih Drucless
AKD - 3


__ADS_3

 


 


 


 


Malam ini aku sedang asyik melakukan video call dengan Ashlan. Kami hanya membicarakan hal yang berhubungan dengan sekolah. Tidak ada hal yang bisa dibicarakan selain itu.


 


 


Twisy mengeong terus di sampingku. Sesekali aku menoleh padanya. Kedua mata Twisy tidak pernah beralih dari sudut kamarku. Padahal tidak ada apa pun di sana.


 


 


"Vita? Aku mendengar suara Twisy. Apa dia belum makan?" Tanya Ashlan. Pandanganku dari sudut kamar teralihkan ke layar laptop.


 


 


"Aku sudah memberinya snack sehat untuk kucing," jawabku.


 


 


"Mungkin dia masih lapar."


 


 


Aku pikir juga begitu. "Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku akan memberikannya makan."


 


 


"Iya."


 


 


Aku pun berlalu ke dapur dan membawa makanan kering kucing. Twisy yang manja mendekat padaku dan mengeluskan tubuh berbulunya ke betisku.


 


 


"Kau masih lapar, huh?" Tanyaku sambil meletakkan makanan kucing ke wadah.


 


 


Twisy memakannya.


 


 


"Makan yang kenyang, ya." Aku mengusapnya kemudian kembali ke kamar.


 


 


"Maaf membuatmu lama menunggu," kataku.


 


 


Kulihat Ashlan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Yang penting aku senang, karena kau mau merawat Twisy dengan baik."


 


 


"Terima kasih telah mengirimkan Twisy ke rumah. Aku senang sekali."


 


 


"Sama-sama. Oh ya, kamu punya kakak laki-laki, ya?"


 


 


"Aku tidak punya saudara. Aku anak tunggal, Slan. Memangnya kenapa?" Tanyaku penasaran.


 


 


"Tadi aku melihat ada laki-laki di sudut kamarmu melihat tajam padaku."


 


 


Mendadak bulu kudukku merinding mendengar ucapan Ashlan. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.


 


 


"Jangan bercanda! Tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain aku dan omma."


 


 


"Aku tidak bercanda. Aku serius. Aku melihatnya tadi."


 


 


Mendadak lampu di kamarku mati. Laptopku yang kehabisan baterai juga mati, karena aku video call sambil di charge.


 


 


Aku melihat ke sekeliling. Tanganku menggapai ke lemari dan mengambil lampu senter dari lacinya.


 


 


Setelah ketemu, aku menyalakannya dan menyorot ke sekeliling kamar.


 


 


Kenapa harus mati lampu di saat seperti ini? Mana mungkin aku lupa membayar listrik. Aku menyingkap gorden kamar. Ternyata bukan hanya lampu di rumah ini yang mati. Lampu di rumah tetangga juga mati semua.


 


 


Sebentar lagi lampu rumah ini pasti akan menyala, karena rumah ini dipasang dinamo. Benar saja, dalam waktu 3 menit, lampunya menyala.


 


 


Aku kembali ke kamar. Pandanganku tertuju pada layar laptop yang kembali menyala. Sayang sekali video call dengan Ashlan harus berakhir.


 


 


Aku pun merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Rasa kantuk mulai menghampiri. Kedua mataku tertutup.


 

__ADS_1


 


Sebelum aku benar-benar terlelap, aku merasakan sesuatu yang basah menyentuh telingaku.


 


 


Mungkin Twisy.


 


 


Keesokan paginya, aku terkejut ketika menyadari kalau aku tidur sendirian di kamar. Pintu kamarku dikunci setelah aku kembali dari bawah semalam. Tidak ada Twisy di kamar ini.


 


 


Lalu... yang semalam itu siapa?


 


 


Sudah dua kali aku merasa terganggu sebelum tidur. Namun, kali ini aku benar-benar ketakutan. Waktu video call dengan Ashlan, dia bilang, dia melihat seseorang di sudut kamar. Lalu Twisy juga terus memandang ke sana sambil mengeong terus.


 


 


Apa mungkin ada hantu di rumah ini?


 


 


Aku tidak berani mandi di kamar mandi yang merangkap dengan kamarku. Aku memilih kamar mandi lain.


 


 


Aku sudah siap dengan seragamku. Setelah sarapan dengan omma, aku menceritakan kejadian semalam pada omma. Tidak hanya kejadian semalam, kejadian di hari sebelumnya kuceritakan juga.


 


 


"Benarkah? Ada hantu di rumah ini? Bagaimana bisa? Jika Omma menemukan hantu itu, Omma akan mengusirnya," ucap omma dengan serius.


 


 


Wah, ommaku hebat sekali. Apa beliau pernah mengusir hantu sebelumnya?


 


 


"Omma mau mengusir dengan cara apa?" Tanyaku penasaran.


 


 


"Omma akan melemparinya dengan bawang."


 


 


"Omma mau mengusir hantu atau mau masak?" Tanyaku.


 


 


"Hantu itu membenci bawang."


 


 


 


 


Setelah berpamitan pada omma, aku berangkat sekolah dengan mobil baru. Ya, aku yang menyetirnya sendiri.


 


 


Sesampainya di sekolah, aku bertemu Angel, temanku.


 


 


"Wah, mobil baru." Angel menatap takjub pada mobilku.


 


 


Aku bingung melihat kedua matanya yang sembab. Sepertinya dia baru menangis.


 


 


"Enak sekali menjadi kau. Kau bisa meminta apa saja pada papamu, termasuk mobil keren ini."


 


 


Aku tidak berniat menanggapi ucapannya. Aku lebih mencemaskan keadaannya.


 


 


"Kau baik-baik saja? Kenapa matamu bengkak dan memerah? Apa terjadi sesuatu yang membuatmu menangis?" Tanyaku dengan suara pelan.


 


 


Angel memelukku dengan erat. "Aku putus dengan Dio."


 


 


Aku membalas pelukan Angel. "Jangan menangis. Ayo kita masuk kelas dan kau harus menceritakannya padaku."


 


 


Sesampainya di kelas, kami pun berbicara serius.


 


 


"Dio bilang, dia tidak akan memutuskan hubungan kami, kalau aku mau tidur dengannya."


 


 


Aku terkejut mendengar itu. Dio benar-benar brengsek. Aku tidak mengira sikap aslinya tidak semanis wajahnya.


 


 


"Kau tidak tidur dengannya, kan?" Tanyaku sambil mengguncangkan tubuh Angel.


 


 

__ADS_1


Gelengan kepala Angel membuatku menghela napas lega. "Jangan dekati dia lagi. Dia laki-laki yang berbahaya."


 


 


Teman-temanku sering curhat tentang hubungan mereka padaku. Aku juga dengan senang hati memberikan mereka solusi.


 


 


Padahal aku sendiri masih jomblo. Ah, dasar aku.


 


 


Di jam istirahat, aku pergi ke kantin dan bertemu dengan Ashlan. Namun, tampaknya dia pura-pura tidak melihatku.


 


 


Apa yang terjadi?


 


 


Aku sedih sekali. Padahal aku ingin sekali makan bersamanya.


 


 


Apa aku telah berbuat salah? Mungkinkah semalam dia merasa tersinggung, karena aku sedikit membentaknya?


 


 


Hari terus berlalu.


 


 


Sikap Ashlan semakin dingin padaku. Dia bahkan memblokir akun chat-ku.


 


 


Suatu hari, aku memberanikan diri bertanya langsung padanya. Mau tahu jawabannya?


 


 


"Kau tidak bilang, kalau kau punya pacar. Kenapa kau memberikan harapan padaku?"


 


 


Pacar dari mana coba?


 


 


"Slan, aku tidak punya pacar."


 


 


"Kau berbohong. Laki-laki di kamarmu itu adalah pacarmu, kan?"


 


 


Deg!


 


 


Jadi... Ashlan benar-benar melihat seseorang di kamarku waktu kami melakukan video call?


 


 


Lagi-lagi bulu kudukku merinding mendengarnya. Ini bukan main-main. Ucapan Ashlan terdengar serius, ekspresinya juga.


 


 


"Padahal aku sudah menyukaimu sejak lama. Kenapa tidak bilang? Seharusnya dari awal aku tidak mendekatimu." Ashlan menatapku dengan ekspresi kecewa.


 


 


"Ashlan, aku tidak punya pacar." Aku meyakinkannya.


 


 


Ashlan mendengus. "Laki-laki itu sendiri yang datang padaku, dan bilang, kalau aku sudah mengganggu hubungan kalian yang sedang renggang."


 


 


Deg!


 


 


Benarkah?


 


 


Ini terdengar lebih menakutkan. Aku pun bersuara, "Bisa jadi laki-laki yang kau maksud itu berbohong, kan? Bisa saja dia tidak menyukai kedekatan kita."


 


 


Ashlan mengangguk. "Itu bisa saja, tapi melihatnya di kamarmu malam-malam, aku semakin yakin, dia memang pacarmu."


 


 


Setelah berkata demikian, dia berlalu meninggalkanku yang masih membeku.


 


 


-


 


 


 


 


 


 


15.30 : 1 Oktober 2019


Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2