
"Si-siapa kau?"
"Aku suamimu."
Apa-apaan dengan jawabannya?! Pria itu mendekat dengan tatapan yang tidak lepas dariku. Otomatis aku mundur menjauh darinya.
"Jangan mendekat, berani sekali kau menyusup ke rumah ini dan masuk ke kamarku!" Bentakku.
"Apa salahnya aku masuk ke kamar istriku sendiri." Dia merengkuh tubuhku dan memelukku dengan erat. Aku bisa menghirup aroma mint dari tubuhnya.
Dia berbisik lirih, "Aku merindukanmu, sayang."
Aku memukuli punggungnya. "Jangan macam-macam padaku! Aku akan melaporkanmu pada polisi! Lepaskan aku!"
"Kau berisik sekali, sayang." Dia mendorongku ke tempat tidur. Lalu dengan tidak sopannya, dia menindihku.
Aku meringis keberatan ditindih tubuhnya yang dua kali lipat lebih besar dariku. Aku memukuli dada dan bahunya sekeras mungkin agar dia pergi dariku. Dia sedikit condong dan mengungkung tubuhku yang kecil di antara kedua lutut dan kedua tangannya yang bertumpu pada ranjang.
"Sayang, kenapa kau jadi galak begini?" Dia mendekatkan wajahnya membuatku membeku.
Pria itu sangat tampan di jarak sedekat ini. Tapi, dia terlihat menakutkan dengan sepasang mata seperti serigala.
"Mendadak diam. Apa aku membuatmu takut?" Desahnya seraya menyentuh bibirku dengan tangannya yang dingin.
Aku mengingat sentuhan ini. Sesuatu yang sering menggangguku sebelum tidur, itu pasti dia. Apa dia hantu?
Tapi, aku mendengar suara detak jantungnya, meskipun samar.
Jadi, selama ini dia datang padaku malam-malam lalu menyentuh tubuhku? Menjijikan!
Hidungnya yang tegas dan mancung itu menyentuh pinggir hidungku. Yang selanjutnya aku rasakan adalah kecupan hangat pada bibirku. Aku terdiam sesaat merasakan bibirnya yang menyesap bagian bawah bibirku.
Akal sehatku mengembalikan kesadaranku. Aku mendorongnya, tapi dia malah menghimpit tubuhku. Dadanya yang keras menekan dadaku. Rasanya sesak sekali.
"Hmpppp!" Aku menjambak rambut putihnya sampai-sampai terlepas dari kepalanya. Dia tetap menciumku, bahkan memperdalam ciumannya.
Beberapa saat kemudian pria itu melepaskan ciumannya. Bibirnya yang berwarna merah gelap sedikit basah karena saliva. Pria itu menyeringai dingin. Aku merinding.
Tangannya bergerak mengusap bagian bawah bibirku yang juga basah.
Lalu dia mengusap leherku. "Aku tidak mau menunggumu dewasa. Aku tidak sabar jika harus menunggu lama. Tubuhmu cukup matang untuk menerimaku."
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Suaraku bergetar saking ketakutan.
Senyuman sinis terpatri di bibirnya. "Aku ingin merasakan tubuhmu lagi seperti dulu."
Dia membuka seragamku dengan paksa. Aku berusaha mempertahankan pakaianku.
"Jangan lakukan ini! Kau salah orang! Aku bukan perempuan yang kau cari!" Aku menangis berharap dia mau melepaskanku.
"Jangan menangis. Aku terluka melihat air matamu." Dia menjilat pipiku yang dibanjiri air mata.
Menjijikan sekali!
"Tolong!" Aku berteriak sekencang mungkin. Aku harap, kedua perawat omma datang dan menolongku.
"Kenapa kau meminta tolong? Aku tidak akan membuatmu terluka. Selain itu, tidak akan ada yang bisa menolongmu dariku."
Dia merobek seragamku beserta kaos dalamnya. Kancingnya berhamburan ke lantai.
"Tubuhmu memang indah, hanya saja... kenapa ukurannya sangat kecil? Aku menyukai ukuran yang dulu," ucapnya sambil menyentuh belahan dadaku.
Aku tersentak dan segera menepis tangannya. Namun, tangannya yang besar itu tetap menyentuh dadaku. Aku menangis terhina dengan perlakuannya. Bagaimana bisa gadis baik-baik sepertiku mendapatkan perlakuan seperti ini?!
Laki-laki itu mengecup leherku dan menyesapnya dengan kuat. Aku meringis perih. Ciumannya turun ke dadaku. Saat bibirnya menyentuh ******-ku, aku berteriak keras. Dia ******* padaku seperti bayi yang kehausan. Rasanya sakit sekali, saat giginya bersentuhan dengan area tersebut.
Tangannya pun turun ke perutku dan pangkal pahaku. Aku gemetar saat dia mulai melepaskan rok serta celana dalamku.
Kini aku tidak memakai apa pun di hadapan pria asing itu. Dia menatap tubuhku dengan penuh hasrat.
"Ja-jangan sakiti aku."
"Aku akan membuatmu merasakan nikmat yang luar biasa, jika kau mau menerimaku dengan baik."
Aku menggeleng ketika dia melepaskan resleting celananya. Segera kualihkan pandanganku ke arah lain.
Pria itu membuka pahaku yang menutup rapat. Aku semakin merapatkan pahaku.
"Sayang, berikan surgamu."
Aku menggeleng kuat. Pria itu menepuk pahaku dengan cukup keras. Bahkan bekas pukulannya itu menjadi merah. Dengan kasar, dia membuka paksa pahaku dan membuat dirinya berada di antara kedua pahaku.
"Aku akan masuk." Dia memegangi pinggangku dengan kuat.
__ADS_1
Aku merasakan sesuatu yang keras dan besar menyeruak masuk ke dalam tubuhku. Aku menggeliat kesakitan sambil mencakar dan memukul wajah pria itu.
"Eeeeuuuhhh!!!" Aku tidak mampu bergerak saat 'benda asing' itu mengoyak bagian inti tubuhku dan melesak memenuhi perutku.
Rasanya sungguh sakit dan perih. Aku merasa sakit itu merambat ke seluruh tubuhku dan membuatku lemas.
Belum berakhir sampai situ, pria yang baru saja merenggut kehormatanku bergerak dengan kasar menghentak tubuhku. Sakitnya bertambah, rasanya bagian intiku makin besar dan mungkin berdarah.
Pria itu menatapku dengan sendu. "Maafkan aku. Ini pasti sakit, tapi aku menginginkanmu. Aku merindukanmu."
Ada yang basah menetes ke wajahku. Pria itu menangis?
Aku tidak peduli! Aku jauh merasakan kesakitan di bawahnya. Desahan nafasnya memenuhi seisi kamarku. Aku terisak pedih merasakan tubuhku disentak kasar.
Pria itu mendekatkan wajahnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tidak ingin berciuman dengannya. Namun, tangan pria itu menarik wajahku dan dia mencium paksa bibirku.
"Eeuummpphh." Aku sengaja menggigit bibirnya sampai berdarah. Dia tidak kunjung melepaskan ciumannya, seolah sengaja membiarkanku mengigit bibirnya.
"Hhhhhh." Dia mendesah dan melepaskan tautan bibirnya dariku. Gerakannya semakin cepat dan semakin membuatku kesakitan.
"Aaaarrgghh!" Dia mendesah panjang lalu kembali melumat bibirku. Gerakannya terhenti saat miliknya tertanam dalam tubuhku.
Aku pikir ini sudah berakhir, tapi sesuatu yang panas mengalir di dalam perutku. Rasanya perih sekali. Perutku terasa sangat sakit.
Kami saling menatap di jarak sedekat ini.
"Emhhh." Pria itu memisahkan diri dari tubuhku dan terhempas ke sampingku dengan napasnya yang terengah-engah.
Aku tidak bisa menggerakkan kedua kakiku. Jika pahaku dirapatkan, selangkanganku terasa seperti terbakar, sangat perih.
Aku pun kembali menangis sesenggukan, meskipun tangisanku ini tidak akan mengubah semuanya.
Tanganku bergerak ingin meraih selimut untuk menutupi tubuhku, tapi selimut itu terlalu jauh. Aku merasakan pergerakan pria di sampingku. Dia menyelimutkan jubah yang masih terpasang ditubuhnya sehingga menutupi tubuhku yang telanjang.
Aku membelakanginya sambil menahan perih di bagian inti tubuhku, karna pahaku dirapatkan. Tanganku meremas bedclothes sampai kusut untuk menyalurkan rasa sakit ini.
Aku merasakan tangan kekarnya memeluk perutku. Aku menahan sakit dengan menggigit bagian bawah bibirku. Dagunya diletakkan di ceruk leherku.
"Maafkan aku. Aku mencintaimu."
Perlahan kedua mataku tertutup, semuanya menjadi gelap.
-◎◎◎-
__ADS_1
16.41 : 1 Oktober 2019
Ucu Irna Marhamah