
-◎◎ Rean ◎◎-
Aku menatap gadis yang kucintai yang tengah terlelap tidur. Dia begitu cantik dalam keadaan tidak sadar seperti itu. Seandainya aku melupakan janjiku, ingin sekali aku memeluknya dan menikmati setiap inci dari tubuhnya.
Namun, apa daya... dia hanya gadis muda yang usianya bahkan jauh di bawahku. Amethyst terlahir sebagai gadis kecil di kehidupan ini.
Setiap malam, aku tidak pernah tidur. Tidak, aku bukan kelelawar. Aku memang tidak boleh tidur, atau dunia drucless akan dalam kegelapan.
Aku terlahir dengan kekuatan aneh. Jika aku menutup mataku, maka dunia drucless akan berubah menjadi gelap. Aku menyadarinya sejak aku kecil. Ayah melarangku tidur dimulai saat itu. Lama-lama aku sudah terbiasa dengan ini.
Jika kalian atau orang lain menemukanku sedang tertidur, itu artinya aku hanya berpura-pura.
Hati-hati, mungkin saja ada orang lain yang juga sedang berpura-pura tidur di sampingmu.
Meskipun aku tidak tidur, aku baik-baik saja. Aku tidak memerlukan air suci untuk mendapatkan energi.
Awalnya aku tidak tahu, kenapa aku sangat berbeda dengan drucless lain?
Lalu, aku mengetahui semuanya. Aku tahu, siapa diriku.
Kedua mata bulat Vita terbuka. Pandangannya tertuju padaku yang tertidur di sofa lebar dan bersebrangan dengan tempat tidurnya.
Gadis itu tersenyum manis sambil merentangkan satu tangannya. Aku bangkit dan ikut tidur bersamanya di tempat tidur yang kecil ini.
Dia bilang, dia tidak ingin tidur denganku. Mungkin dia takut padaku yang bisa saja tiba-tiba melakukan hal buruk padanya ketika tidur.
Meskipun aku bukan drucless yang baik, aku juga bukan drucless yang suka mengingkari janji.
"Kau tidak tidur?" Tanya Vita dengan mata tertutup. Tangannya mengusap pipiku dengan lembut.
Kupeluk pinggangnya yang ramping. "Tadi aku tidur, tapi mendengar suaramu yang sedang mengigau, aku jadi bangun."
Vita kembali membuka matanya. "Memangnya apa yang aku katakan?"
"Kau bilang, aku sangat tampan. Kau mencintaiku, kau tidak mau kehilanganku," jawabku.
Kedua alis Vita mengkerut. "Apa aku benar-benar mengatakan hal bodoh itu?"
Aku tertawa, tentu saja aku berbohong.
"Iya, kau juga bilang, kau ingin menikah denganku dan memiliki banyak anak."
__ADS_1
Vita tertawa. "Mungkin bukan aku yang bermimpi atau mengigau, tapi kau."
Itu bukan mimpiku. Itu memang hal yang pernah kau katakan di kehidupan sebelumnya.
"Tidurlah," ucapku.
Bukannya menuruti ucapanku, Vita malah menatapku dengan mata bulatnya.
"Ada apa?"
"Aku ingin bersamamu," kata Vita.
"Kita memang bersama."
Vita memelukku dan melelapkan kepalanya ke dadaku. "Aku takut."
"Apa yang membuatmu takut?" Tanyaku.
"Aku takut, kita tidak bisa bersama." Suara Vita terdengar bergetar. Mungkin dia sedang menahan tangisnya.
"Kau cinta pertamaku, aku juga ingin kau jadi cinta terakhir untukku," kata Vita lagi.
"Iya, kau juga cinta pertama dan terakhirku."
Vita tidak kunjung menunjukkan wajahnya. Apa dia sedang menangis dalam pelukanku?
Aku pun menangkup wajahnya agar menatap padaku. Ternyata dia tidak sedang menangis. Namun, ada ekspresi kekhawatiran di wajahnya.
"Jangan cemas." Aku mengecup bibirnya sekilas.
Gadis itu menjilat bagian bawah bibirnya yang baru saja kukecup. Aku benar-benar ingin tertawa melihat tingkahnya. Dia sangat menggoda.
"Apa di kehidupan sebelumnya... kau seromantis ini?" Tanya Vita.
Aku terdiam seribu bahasa.
Iya, karena aku hanya bisa 4 bahasa. Memangnya ada seseorang yang menguasai seribu bahasa sekaligus?
"Aku bukan orang yang romantis, termasuk padamu di kehidupan sebelumnya. Aku seperti ini hanya padamu yang sekarang."
Vita tersenyum. "Terima kasih."
__ADS_1
Aku terluka mendengar ucapan terima kasih darinya. Sebenarnya aku memiliki sikap yang buruk. Aku tidak pernah bersikap baik padanya di masa lalu.
"Tidurlah, sekarang jam 11 malam waktu dunia manusia."
Vita tertawa. "Aku jadi tidak mau tidur."
"Apa kau mau mendengarkan sebuah cerita?" Aku mencoba membuatnya mau tidur.
"Jangan cerita sedih, aku benci."
"Bagaimana jika cerita horor?" Tanyaku sambil memperlihatkan ekspresi serius.
"Aku bukan gadis penakut."
"Benarkah? Lalu waktu itu? Kau ketakutan saat aku belum menunjukkan diriku padamu. Waktu itu aku sering berada di sudut ruanganmu dan memperhatikanmu."
"Waktu itu, aku pikir kau pencuri atau orang yang menyusup ke rumahku. Aku tidak berpikir, kalau kau hantu. Setelah aku tahu, kalau kau bukan hantu ataupun manusia, aku jadi semakin takut."
Aku terkekeh pelan. Dia memang tidak bisa berbohong.
Vita tersenyum. Gadis itu bilang, dia menyukai senyumanku. Dia juga akan terpesona jika melihatku tertawa.
Sebenarnya aku sudah lupa caranya tersenyum dan tertawa sejak Amethyst tiada.
Mungkin kalian ada yang bertanya, siapa Amethyst?
Amethyst adalah Devitaa di kehidupan sebelumnya. Dia adalah satu-satunya gadis drucless yang bisa membuatku jatuh cinta.
"Jadi, kapan kau akan bercerita?" Gerutu Vita.
Aku tersenyum. "Kau benar-benar tidak sabaran, ya."
Vita hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Aku pun mulai bercerita, "Ada sebuah kerajaan terbesar di dunia drucless, namanya adalah Kerajaan Gigarez. Rajanya sangat bijaksana dan baik hati. Dia memiliki seorang istri yang cantik dan baik hati juga seperti dirinya. Raja dan Ratu yang dicintai oleh rakyatnya."
Vita mulai menutup matanya. Sepertinya dia mulai tertidur. Namun, aku tidak berniat menghentikan ceritaku.
"Raja itu bernama Adyatama, dan sang Ratu bernama Myraa. Semuanya berjalan baik-baik saja, hingga suatu hari...."
-
__ADS_1
03.39 : 5 Oktober 2019
Ucu Irna Marhamah