
-◎◎ Rean ◎◎-
Vita mengajakku pergi ke berbagai tempat di dunia manusia. Dia membeli apa pun sesukanya dengan benda yang biasa dia sebut sebagai 'kartu ajaib'.
Vita bilang, dia tidak bisa berhenti shopping, jika sedang berlibur seperti saat ini. Dia memintaku untuk menemaninya kemana pun dia pergi.
Ketika berpapasan dengan teman-temannya, dia memperkenalkanku pada mereka. Dia bilang, aku pacarnya.
Mereka tampak terkagum-kagum dan iri. Mereka kadang bertanya langsung padaku seperti, ada akun media sosial? Ada kontak? Boleh bertukar nomor?
Aku rasa, Vita bukan gadis yang pandai memilih teman. Teman-teman Vita bukan orang baik. Mereka semua seolah sama-sama bersaing.
Mungkin mereka ingin saling menjatuhkan.
Kenapa bisa begitu?
Apa semua manusia begitu?
Kasihan.
Sepulang dari mall dan tempat lainnya, Vita melihat-lihat informasi perkuliahan lewat 'talenan ajaib' miliknya. Pacarku ini selalu bertanya pada orang yang tidak memiliki tubuh dan muka. Dia biasa dipanggil Google oleh Vita.
Aku yakin, Google itu perempuan. Kenapa? Aku pernah mendengar suaranya ketika menjawab pertanyaan Vita.
Dunia manusia memang dipenuhi keanehan. Aku rasa, dunia manusia lebih ajaib dibandingkan dengan dunia drucless.
Meskipun mereka tidak terlahir dengan kekuatan, manusia mampu menciptakan kekuatan untuk melengkapi hidup mereka.
Itu bagus, bukan?
Aku sangat iri pada mereka.
Vita menoleh padaku. "Kemarilah, jangan berdiri di sudut kamar. Kau bukan pot bunga."
Aku merasa nyaman dan sudah terbiasa berada di sudut kamar. Memang sulit menghilangkan kebiasaanku ini.
Aku pun naik ke ranjang dan duduk di sampingnya. Gadis itu memberikan 'talenan ajaib' miliknya padaku.
"Rekomendasikan tempat yang bagus untuk kuliah," ujarnya.
Aku mengernyit. "Kenapa bertanya padaku? Yang mau kuliah 'kan kau."
Vita mengangguk. "Aku hanya meminta saran."
Aku pun mengucapkan kalimat pencarianku, "Tempat romantis untuk berkuliah."
Kulihat ekspresi Vita menjadi bingung. "Kau mencari tempat kuliah atau tempat berbulan madu?"
"Kau bisa kuliah sekalian berbulan madu bersamaku," jawabku.
Vita tertawa. "Dasar kau."
Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Kami pun menoleh berbarengan ke pintu.
__ADS_1
"Vita?" Itu suara ayahnya Vita.
"Sutttss." Vita beranjak dari tempat tidur menuju ke pintu. Kulihat, mereka berdua terlibat percakapan sebentar.
Setelah itu, Vita kembali duduk di sampingku.
"Apa yang dikatakan ayahmu?" Tanyaku.
"Hanya bilang mau pergi ke luar kota sore ini." Vita terlihat malas.
Meskipun aku bukan drucless yang bisa membaca pikiran, aku mengerti perasaannya. Dia hanya gadis muda yang menginginkan perhatian dari seorang ayah.
"Bagaimana jika aku membawamu ke suatu tempat yang menyenangkan?" Tanyaku.
Kulihat ekspresi Vita berubah riang. "Ada tempat bagus? Di mana? Kau akan membawaku ke mana?"
"Aku akan membawamu ke perbatasan dunia drucless dan dunia manusia," ucapku.
Gadisku ini tampak berpikir. "Apa tidak berbahaya? Memangnya manusia boleh ke sana?"
"Kenapa tidak? Itu hanya perbatasan. Manusia dan drucless bisa datang ke sana."
"Boleh aku membawa kamera dan memotret di sana?" Tanya Vita. Aku menggeleng. "Lebih baik jangan."
Vita menghela napas berat. Lalu dengan penuh semangat, gadis itu mengguncangkan tanganku. "Baiklah, ayo kita pergi, ayo!"
"Ayo." Kami bangkit dari tempat tidur.
"Kita tidak memerlukan itu."
"Lalu kita lewat mana?"
Aku menunjuk lemari pakaian yang ada di kamar tersebut. "Kita lewat sana. Buka lemarinya."
Vita mengerutkan keningnya lalu membuka pintu lemari. Aku yang menghubungkannya ke dimensi lain.
Vita terpukau melihat keindahan perbukitan di perbatasan dunia drucless. "Apa lemariku berfungsi seperti pintu kemana saja?"
"Ini bukan film Doraemon," kataku.
Vita terkekeh.
Kami pun masuk ke dalam lemari yang terhubung dengan perbatasan dunia drucless.
Kaki telanjang Vita menyentuh rerumputan lembut yang terhampar di perbukitan. Gadis itu tampak senang sambil menarik tanganku dan berlari bersama.
"Uuuuuuu!" Suara Vita menggema di tempat ini.
"Aku belum pernah menemukan tempat ini di kota. Sejuk sekali!" Vita berputar-putar sambil merentangkan kedua tangannya.
"Jangan berputar-putar seperti itu, nanti pusing."
Baru kali ini aku melihatnya sebahagia itu. Aku senang sekali.
__ADS_1
Vita jatuh terduduk sambil tertawa dan memegang kepalanya yang pusing karena berputar-putar terlalu lama.
"Sudah aku bilang tadi, kan?" Kataku sambil duduk di sampingnya.
"Aku senang sekali," kata Vita.
"Aku tahu."
Seekor treteaa berwarna kuning menghampiri kami. Vita membulatkan matanya gemas melihat hewan itu.
Treteaa tersebut melihat pada Vita kemudian mencolek kakinya. Dengan gemas, Vita menggendong hewan itu.
Aku tertawa melihatnya.
"Hewan ini hangat sekali, bulunya tebal." Vita mendekatkan tubuh treteaa itu ke pipinya.
"Itu treteaa, hampir sama seperti kelinci," kataku.
"Oh, ini treteaa yang kau maksud waktu itu?" Tanya Vita.
Aku pernah menceritakan treteaa pada Vita? Kapan?
"Waktu itu, kau bilang berat badanku sama dengan 12 ekor treteaa gemuk, apa aku sekecil ini?" Gerutu Vita.
"Tidak, tidak, treteaa ini termasuk kecil. Treteaa yang paling gemuk itu seperti yang di sana." Aku menunjuk ke treteaa berbadan besar sebesar anak kecil berusia 7 tahun.
Kedua mata Vita membulat sempurna. Apalagi treteaa itu berlari ke arahnya. Vita berlari sambil memeluk treteaa di pangkuannya. Dia menghindari treteaa yang besar itu.
"Rean! Dia mengejarku! Tolong aku!"
Aku tertawa melihatnya.
Kami pun terselamatkan dari treteaa-treteaa besar yang menggemaskan itu.
Bagaimana caranya? Naik ke dahan pohon.
Treteaa kecil dari pangkuan Vita melompat turun. Dia tampak sedih. "Yah, dia pergi dariku."
"Yang penting kita aman," ucapku.
Vita tersenyum. "Kau bilang, drucless memiliki kekuatan sebagai anugrah ketika mereka lahir. Apa aku boleh tahu kekuatanmu?"
Aku menatapnya. "Aku bisa membuat tempat ini menjadi gelap dengan menutup mataku."
"Jadi, itu sebabnya kau tidak boleh tidur di dunia drucless?" Tanya Vita.
Aku mengangguk.
"Apa tidak apa-apa, jika aku melihatnya?" Vita bertanya dengan hati-hati.
"Jangan takut ketika melihatku berubah."
-◎◎◎-
__ADS_1
18.20 : 5 Oktober 2019
Ucu Irna Marhamah