AMETHYST : Kekasih Drucless

AMETHYST : Kekasih Drucless
AKD - 33


__ADS_3

 


 


 


 


Ketika Vita benar-benar akan kehilangan kesadaran, dia merasakan ada sesuatu yang merobek rerumputan hitam yang mengikat tubuhnya lalu memeluk dirinya dan membawanya ke daratan.


 


 


Siapa lagi kalau bukan Rean?


 


 


Pria itu memegang belati yang dibawa Vita. Dia menggunakan benda tersebut untuk melepaskan diri dari rerumputan hitam di dasar sungai tadi.


 


 


Kita tidak boleh mati!


 


 


Rean!


 


 


Bangun!


 


 


Kita harus hidup dan menyelamatkan diri dari tempat ini kemudian pergi dan hidup bahagia bersamaku!


 


 


Aku sudah tak sanggup lagi.


 


 


Rean! Bangun kau!


 


 


Kedua mata Rean terbuka lebar. Dia melihat tubuh Vita di sampingnya. Rerumputan di sampingnya siap mengikat tubuh gadis itu. Rean melihat ada belati di tangan Vita.


 


 


Pria itu menggerakkan tubuhnya untuk mencapai belati itu. Dia memiringkan kepalanya dan dan menggigit belati tersebut. Setelah mendapatkannya, Rean segera memotong rumput-rumput yang mengikat tubuhnya. Dengan cepat, dia juga mengoyak rerumputan yang mengikat tubuh Vita.


 


 


Pria itu memeluk Vita dan berenang cepat ke daratan.


 


 


Melihat Vita yang belum sadar, Rean menekan dada gadis itu. Banyak air yang keluar dari mulutnya.


 


 


Rean mendekatkan wajahnya dan memberikan napas buatan pada gadis itu. Vita terbatuk. Rean kembali menekan dada pacarnya.


 


 


Vita terbatuk dan akhirnya dia sadar. Rean memeluk gadis itu dengan erat, seolah dilepaskan sebentar saja bisa membuatnya kehilangan untuk selamanya.


 


 


Vita membalas pelukan Rean. "Aku pikir, kau sudah mati. Aku juga merasa, kalau aku akan mati juga."


 


 


"Kita harus pergi dari sini, tidak seharusnya kau berada di sini. Tubuhmu akan lemah jika berada di dunia yang bukan tempatmu tinggal." Rean menarik tangan Vita.


 


 


"Tapi, aku baik-baik saja. Aku tidak merasa lemas," kata Vita sambil mengikuti langkah Rean.


 


 


Rean melihat segel miliknya yang masih terlihat di leher gadis itu. Ternyata segel milikku masih melindungimu. Segel itu yang membuatmu aman di sini.


 


 


"Kau mau pergi begitu saja?!" Teriak Dewi Amiless yang berdiri tidak jauh dari mereka.


 


 


Rean dan Vita pun terpaksa berhenti melangkah. Apalagi beberapa makhluk hitam itu mengelilingi mereka.

__ADS_1


 


 


Rean berbisik pada Vita, "Jangan khawatir, aku bersamamu."


 


 


Vita mengangguk pelan.


 


 


Hewan bersayap di lengan dewi Amiless masuk ke dalam sungai suci. Tiba-tiba sungai itu menjadi gelap, seolah-olah itu bukan air. Hanya ada pantulan bulan merah yang terlihat di sana.


 


 


"Rean, apa kita akan selamat?" Bisik Vita. Rean tidak segera menjawab. Sebenarnya pria itu juga sedang cemas.


 


 


"Kau harus selamat. Bukankah besok kau harus kuliah?" Ucap Rean.


 


 


"Apa maksudmu?" Suara Vita bergetar.


 


 


"Jika aku mati, kau hanya perlu menungguku terlahir kembali."


 


 


Vita tidak bisa menahan air matanya mendengar ucapan Rean. Dia menyentuh punggung pria itu.


 


 


"Aku tidak ingat dengan kehidupanku yang sebelumnya. Bagaimana jika kau juga mengalami hal yang sama? Bagaimana jika kita bertemu di masa depan, tapi kau tidak mengingatku, seperti aku tidak mengingatmu di masa sekarang?"


 


 


Rean tersenyum. "Berarti kau yang harus mengejarku, karena di masa ini, aku yang mengejarmu."


 


 


Vita terdiam.


 


 


 


 


"Apa itu?" Tanya Vita.


 


 


"Aku tidak tahu."


 


 


Dewi Amiless tertawa dingin. Tiba-tiba muncul rantai berapi dari bundaran berwarna merah itu dan mengikat tubuh Rean. Ujung-ujung rantainya menancap ke paha dan lengan pria itu.


 


 


Vita berteriak. "Tidak! Rean!"


 


 


Dewi Amiless menyeret tubuh Rean yang meringis kesakitan. Darah mengalir di mana-mana.


 


 


"Jika aku tidak bisa memilikimu, tidak boleh ada yang memilikimu juga!" Teriak Dewi Amiless.


 


 


Rean mengendalikan air dan membuatnya memotong rantai yang megikat tubuhnya.


 


 


Dewi Amiless mendecih sambil mengendalikan air juga. Air melawan air. Pertarungan yang sama terjadi setelah ratusan tahun lamanya.


 


 


Sementara itu, bayangan-bayangan hitam menubruk-nubruk tubuh Vita. Gadis itu meringis lalu mengambil ponselnya dan menyalakan senter. Dia menyorot bayangan-bayangan itu.


 


 


Mereka beteriak dan menghilang karena cahaya senter. Vita jatuh terduduk dengan napas tersengal-sengal. Dia melihat pertarungan Dewi Amiless dan Rean.

__ADS_1


 


 


Twisy mengeong-ngeong membuat Dewi Amiless cukup ketakutan. Ketika lengah seperti itu, Vita segera mengambil belati di tanah. Dia berlari ke sungai dan melompat menancapkan belati tersebut ke bundaran merah itu.


 


 


"Aaarrrghhh!" Dewi Amiless berteriak sambil memegangi sebelah matanya.


 


 


Rean menoleh pada Vita. Ternyata yang warna merah itu adalah salah satu mata Dewi Amiless.


 


 


Dalam kesempatan itu, Rean menutup sebelah matanya membuat tempat tersebut menjadi gelap.


 


 


Dewi Amiless menyentuh matanya yang berdarah, tapi terlihat baik-baik saja dan masih berfungsi baik.


 


 


Namun, dia tidak bisa melihat apa pun dalam kegelapan seperti itu. Dia menoleh ke langit. Ada lingkaran hitam yang menghalangi bulan merah.


 


 


"Amiless tidak termasuk bangsa kita! Dia tidak pantas berada di sini! Buang dia ke planet bumi!"


 


 


Suara-suara miterius terngiang di telinga Dewi Amiless. Wanita itu menautkan alisnya.


 


 


"Dia adalah kutukan bagi kita. Tidak seharusnya dia berada di sini."


 


 


Dewi Amiless tersenyum menyeringai. "Rean, rupanya kau juga memiliki mata pengendali pikiran."


 


 


Rean di sisi lain terdiam. Benar saja, sebelah matanya berwarna merah seperti Dewi Amiless.


 


 


"Aku memang bukan sesuatu yang diharapkan, tapi aku tidak mau kembali ke neraka." Dewi Amiless mengatupkan kedua tangannya.


 


 


Lingkaran hitam yang menutupi bulan merah pun tersingkir. Sinar bulan merah terlihat lebih terang dan menyinari hutan drucless.


 


 


Dewi Amiless melihat Rean dan Vita masih berada di tempat yang sama.


 


 


"Aku sangat membenci manusia, aku juga membenci iblis dan malaikat! Aku benci kalian semua!" Wanita bermata merah menyala itu mengangkat kedua tangannya, tiba-tiba tanah di dunia drucless berguncang hebat.


 


 


Rean menarik tangan Vita kemudian melompat membawanya ke dahan pohon yang tinggi.


 


 


Rean menatap gadis itu, "Vita, maafkan aku, tapi aku harus melakukan ini."


 


 


Vita melihat taring mencuat dari bibir pria itu. Tanpa ba-bi-bu, Rean mengigit leher Vita. Gadis itu berteriak kesakitan.


 


 


Segel berwarna biru itu kembali muncul dan kini warnanya berubah jadi merah.


 


 


Tanah di dunia drucless terbelah dan muncullah makhluk-makhluk mengerikan dari dalam sana.


 


 


-


 


 

__ADS_1


07.21 : 19 Oktober 2019


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2