AMETHYST : Kekasih Drucless

AMETHYST : Kekasih Drucless
AKD - 35 - LOSS, REINCARNATION, PROGNOSIS


__ADS_3

 


 


 


 


Pintu lemari pun terbuka. Vita keluar dari dalam lemari. Dia melihat ke tempat tidurnya. Tidak ada tubuh Rean di sana. Yang ada hanyalah pasir berwarna putih. Vita jatuh terduduk dengan punggung bersandar pada lemari.


 


 


Gadis itu kembali menangis dan memeluk kedua lututnya. Twisy melompat ke ranjang dan mengorek-ngorek pasir itu. Dia menemukan sesuatu yang berkilau.


 


 


Vita mengernyit. Dia bangkit sambil mengusap air matanya. Gadis itu melihat ada diamond berwarna putih di antara pasir-pasir itu.


 


 


Vita mengambilnya. "Rean, kau bilang... kau akan kembali, tapi kau berbohong."


 


 


Gadis itu terduduk lemas di tepi ranjang. "Baiklah, aku akan menunggumu."


 


 


Ternyata Vita berada di dunia drucless selama 1 malam, itu juga waktu yang sama seperti di dunia manusia. Waktu berjalan bebarengan di dunia drucless dan di dunia manusia sejak itu.


 


 


Vita tidak pergi ke kampus ketika dia terjebak di dunia drucless. Mendengar kabar anak mereka tidak ada di kampus dan menghilang di apartemen, ayah dan ibunya Vita segera meluncur ke New Zealand.


 


 


Mereka bersyukur dan bisa bernapas lega saat melihat Vita baik-baik saja di apartemennya. Hanya ekspresinya yang menunjukkan kemurungan. Gadis yang biasanya ceria itu kini menjadi pendiam.


 


 


Sejak saat itu, orang tua Vita semakin memperhatikannya dengan baik. Meskipun mereka berdua tidak ingin rujuk, keduanya kompak menjaga Vita.


 


 


Beberapa tahun kemudian, Vita telah lulus kuliah. Dia tampak berbeda.


 


 


Gadis cantik itu memotong rambut panjangnya menjadi sebahu dan sedikit mewarnainya dengan warna coklat gelap. Dia tampak lebih dewasa di usianya yang sekarang. Tidak ada lagi ekspresi konyol dan sikap imut darinya. Vita yang sekarang menjadi gadis berkharisma dan dingin.


 


 


Gadis itu pun kembali ke Indonesia. Dia mengurus salah satu perusahaan cabang properti milik ayahnya dan memilih tinggal di rumah mendiang ommanya yang kebetulan dekat dengan kantornya.


 


 


Ada banyak kenangan yang tertinggal di rumah besar tersebut.


 


 


Vita menatap bingkai besar di mana terdapat wajah ommanya yang tersenyum bahagia. Melihat senyuman di foto tersebut, Vita juga tersenyum.


 


 


Terdengar suara kucing. Gadis itu menoleh. Dia menggendong kucing tersebut yang tidak lain adalah Twisy. Vita mengusap kepala Twisy dengan lembut membuat Twisy mendengkur nyaman.


 


 


Salah seorang pelayan datang menghampirinya. "Nona, kami sudah merapikan seluruh ruangan. Namun, ada salah satu ruangan yang terkunci di lantai 2."


 


 


Vita mengernyit. "Ruangan terkunci?"


 


 


Pelayan itu menunjukkan sebuah kamar yang terkunci di lantai 2. Ternyata kamar yang dimaksud adalah kamar Vita sewaktu masih tinggal di rumah tersebut.


 


 


"Aku yang menguncinya sebelum pergi ke New Zealand dulu. Aku rasa, aku menyimpan kuncinya," ucap Vita.


 


 


Gadis itu mencari kunci kamar tersebut. Setelah beberapa jam mencarinya, dia menemukan ratusan kunci dalam kotak hitam.


 


 


Vita menghela napas malas. "Kenapa juga aku dan omma menyimpan semua kunci ini di sini? Apa semuanya adalah kunci ruangan di rumah ini, atau kunci milik kantor polisi?"


 


 


Setelah beberapa hari beberapa malam bertapa, akhirnya kunci ajaib ditemukan. Vita berhasil membuka pintu kamar tersebut. Gadis itu melihat kamar lamanya yang masih rapi. Namun, banyak debu dan sarang laba-laba di sudut ruangan itu.


 

__ADS_1


 


Vita terbatuk-batuk saat bernapas di dalam sana. Dia berjalan ke jendela dan membukanya.


 


 


Gadis itu akan berlalu keluar, tapi dia melihat ada sebuah kamera di meja samping ranjang. Vita mengernyitkan dahi sambil mengambil kamera tersebut dan keluar dari ruangan. Dia berpapasan dengan pelayan yang tadi.


 


 


"Bibi, tolong bersihkan kamarku, ya."


 


 


"Baik, Nona."


 


 


Vita memasuki kamar sementara dan mengecek kamera tersebut. Meskipun dipenuhi debu dan terlihat sudah tak terpakai, kamera itu masih bagus dan masih bisa digunakan.


 


 


Ketika melihat hasil foto terakhir, kedua mata Vita bergetar.


 


 


Dalam foto tersebut terlihat dirinya yang masih remaja dengan seorang pria berambut seputih salju. Keduanya tampak tersenyum ceria.


 


 


Clak.


 


 


Butiran bening itu mengalir menetes ke layar kamera. Vita menangis. Pria itu adalah Rean.


 


 


Rean adalah pria yang sangat dia cintai di masa lalu. Tangan gadis itu bergerak menyentuh kalungnya. Benda tersebut adalah hadiah ulang tahunnya yang ke-18 dari Rean. Tidak sekalipun Vita melepaskan kalung itu dari lehernya.


 


 


Semakin banyak foto yang di slide, semakin banyak juga air mata yang mengalir dari sudut matanya. Karena tak tahan dengan emosinya, gadis itu meletakkan kamera ke meja dengan setengah membantingnya.


 


 


-


 


 


 


 


"Akhirnya aku bisa bernapas dengan baik di ruangan ini." Vita menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.


 


 


Benda persegi berwarna putih itu bergetar. Vita menoleh sesaat dan mengambil ponselnya. Ketika dicek, ternyata ada telepon dari ayahnya. Gadis itu segera mengangkat panggilan tersebut.


 


 


"Sayang?"


 


 


"Iya, Pa?"


 


 


"Malam ini kau sibuk?"


 


 


Vita melihat jam tangannya. "Emm... tidak. Apakah ada sesuatu malam ini?"


 


 


"Iya, malam ini ada tamu. Datanglah ke rumah, nanti sopir akan menjemputmu."


 


 


Vita tampak berpikir, tamu? Sejak kapan papa mengundang tamu ke rumah? Sebelumnya papa tidak pernah mengundang rekan kerjanya ke rumah.


 


 


Tanpa mau bertanya, Vita memilih mengiyakan ucapan ayahnya.


 


 


Setelah berbincang cukup lama, percakapan mereka pun diakhiri. Vita meletakkan ponselnya kembali ke meja.


 


 

__ADS_1


Dia beranjak dari tempat tidur menuju ke lemari. Gadis itu ingin mencari pakaian yang bagus untuk malam ini.


 


 


Nona La Prasega harus tampak baik di depan tamu ayahnya, bukan?


 


 


Ketika membuka pintu lemari, sebuah kain lebar berwarna hitam jatuh ke lantai. Gadis itu mengernyit dan mengambilnya. Ternyata itu adalah jubah hitam milik Rean.


 


 


Vita terdiam sesaat. Aroma jubah itu masih sama seperti aroma tubuh Rean yang biasanya harum mint. Gadis itu melipat jubah tersebut dan meletakkan kembali ke dalam lemari.


 


 


Diamond putih milik pria itu disimpannya di dalam kotak hitam dan diletakkan di dalam lemari di samping jubah hitam itu.


 


 


-


 


 


Seperti yang dikatakan oleh ayahnya, sopir datang malam ini untuk menjemput Vita.


 


 


Gadis cantik itu menuruni tangga. Dia tampak begitu anggun dengan gaun selutut berwarna hitam yang membalut tubuhnya.


 


 


Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai begitu saja.


 


 


Di perjalanan, Vita tampak melamun. Dia melihat jalanan yang lenggang.


 


 


"Pak sopir, siapa tamu papa?" Tanya Vita.


 


 


"Saya tidak tahu, Non. Sepertinya mereka orang luar. Mungkin rekan kerja Tuan San Prasega."


 


 


Vita membatin, pak sopir bilang, 'mereka'? Itu artinya tamu papa lebih dari satu orang.


 


 


Sesampainya di rumah sang ayah, para pelayan menyambutnya.


 


 


"Tuan San Prasega berada di ruang makan bersama tamu," ucap salah satu pelayan.


 


 


Vita mengangguk. "Terima kasih."


 


 


Gadis itu pun memasuki ruang makan dan melihat ayahnya sedang berbicara dengan dua orang pria.


 


 


Ayahnya Vita baru menyadari keberadaan putrinya. "Ah, putriku telah tiba. Kemarilah, sayang."


 


 


Vita tersenyum kemudian duduk di samping ayahnya.


 


 


"Perkenalkan, ini adalah rekan kerja Papa."


 


 


Vita menoleh pada kedua pria itu. Gadis itu membeku melihat salah satu dari mereka. Dia adalah seorang pria berambut seputih salju dengan kedua iris mata berwarna aquamarine.


 


 


Re-Rean....


 


 


-


 


 

__ADS_1


21.04 : 19 Oktober 2019


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2