AMETHYST : Kekasih Drucless

AMETHYST : Kekasih Drucless
AKD - 32


__ADS_3

 


 


Aku merasakan rerumputan kasar menyentuh telapak kakiku. Hutan gelap ini sangat jauh dari kata normal. Rerumputan tinggi melebihi tinggi badanku. Di mana-mana ada rumput. Siapa pun akan tersesat jika berjalan di tempat seperti ini di malam hari.


 


 


Apa tidak ada sedikitpun cahaya di tempat ini? Ketika aku mendongkak menatap langit untuk mencari bulan atau bintang, aku tercengang melihat bulan berwarna merah menyala di langit.


 


 


Aku menyentuh lenganku yang merinding.


 


 


Apakah aku sedang berada di dunia lain sekarang?


 


 


Ini lebih menakutkan dari uji nyali.


 


 


Aku terus melangkah sambil mengambil ponselku dan menyalakan senternya. Aku melihat ke sekeliling. Banyak suara-suara khas di malam hari yang membuatku takut. Serangga penghisap darah berada di mana-mana, apalagi ukuran mereka tidak bisa dibilang kecil.


 


 


Ada banyak bayangan hitam yang melesat melayang cepat di udara. Aku harus mengendap-endap agar tidak ketahuan. Senter ponsel pun aku matikan.


 


 


Langkahku terhenti ketika melihat ada air terjun di depanku. Sungguh sangat tinggi dan besar. Tiba-tiba ada sesuatu yang menubruk punggungku. Aku tersentak dan jatuh ke tanah.


 


 


Aku menutup kedua mataku melihat bayangan khayangan hitam yang mengelilingiku. Mereka yang sudah menubruk tubuhku dari belakang.


 


 


Mereka menubruk tubuhku terus-menerus. Apa mereka ingin merasuk ke dalam tubuhku? Tapi, mereka tidak bisa, kenapa?


 


 


Aku merasakan ada sesuatu di leherku. Ternyata segel biru milik Rean kembali muncul dan mungkin itulah yang membuat tubuhku terlindungi dari hantu-hantu gelap itu.


 


 


Aku bangkit dan menghindar dari mereka.


 


 


"Amethyst, kemarilah." Aku mendengar suara misterius itu lagi. Kali ini suaranya berasal dari dalam sungai di depanku.


 


 


Apakah wanita itu hantu air?


 


 


Hantu-hantu bayangan gelap itu tidak lagi menggangguku. Aku pun mendekat ke tepi sungai dan melihat ke permukaan air.


 


 


Pantulan bulan merah itu terlihat jelas di permukaan air. Namun, ada yang aneh. Kenapa ada 2 bayangan bulan merah?


 


 


Tidak! Tidak ada pantulan bulan merah di permukaan air! Dua lingkaran itu adalah sepasang mata dari dasar sungai.


 


 


Tiba-tiba aku merasakan tubuhku begitu kaku dan akan tersedot ke dalam sana. Seperti ada kekuatan yang menarikku untuk jatuh ke dalam sana, tapi aku bertahan dengan berpegangan pada rerumputan di tepi sungai.


 


 


Aku pun terpundur dan jatuh ke tanah. Napasku tercekat ketika melihat sebuah kepala berambut putih muncul dari dalam air.


 


 


Itu bukan Rean!

__ADS_1


 


 


Rambut orang itu panjang.


 


 


Dia perempuan.


 


 


Aku yang masih duduk di tanah mundur ngesot.


 


 


"Kau datang juga, Amethyst."


 


 


Ternyata suara misterius itu adalah milik wanita yang ada di depanku sekarang.


 


 


"Si-siapa kau? Mana Rean?" Tanyaku dengan suara gemetar.


 


 


Wanita itu mengangkat wajahnya menatapku. Dia sungguh cantik, sayang sekali warna matanya merah, semerah delima yang membuatku takut melihat tatapannya itu.


 


 


Aku rasa... wanita itu mirip dengan Rean.


 


 


Apa wanita itu kakaknya?


 


 


Atau... ibunya?!


 


 


 


 


Aku mundur dan berusaha untuk bangkit, tapi dia menarik kakiku, sehingga aku kembali terjatuh. Dia merayap ke tubuhku dan menindihku. Rambut panjangnya yang basah menggantung di atas wajahku. Sebagian tetesan air menetes membasahi wajahku.


 


 


"Aku adalah perempuan yang telah menciptakan dunia drucless untuk menampung semua kekuatanku. Selalu ada sebagian kecil manusia yang berusaha masuk ke tempat ini. Kalian punya tempat sendiri yang bagus, bukan? Tapi, kau beruntung... karena aku sendiri yang mengundangmu datang kemari."


 


 


Aku memberanikan diri untuk bersuara, "Di mana Rean? Apa yang kau lakukan padanya? Jika kau mencintai dia, kau tidak akan melukainya."


 


 


Wanita itu tersenyum sinis. "Rean putraku, aku tidak mungkin melukainya."


 


 


Putranya? Lalu... tadi.. tadi... dia bilang, dia ingin memiliki Rean sepenuhnya. Apa maksudnya?!


 


 


"Ya, aku mencintai putraku sendiri. Ada masalah?" Tanya Wanita itu dengan suara meninggi.


 


 


Aku terkejut, bagaimana bisa dia mengetahui isi hatiku?


 


 


Tiba-tiba kepala Twisy muncul dari cloth pet. Wanita itu berteriak dan berubah menjadi angin kemudian menghilang.


 


 


Aku pun bangkit dan memeluk Twisy. "Kau muncul tepat waktu."


 

__ADS_1


 


Sepetinya wanita itu takut pada kucing. Aku pernah mendengar, beberapa hantu terutama jenis hantu istimewa sangat takut pada kucing, karena beberapa kepercayaan menganggap kucing sebagai penjaga pintu neraka.


 


 


Mungkinkah wanita tadi berasal dari neraka?


 


 


Aku mengeluarkan Twisy ke tanah. "Tunggu di sini. Aku harus mencari Rean."


 


 


Setelah itu, aku berdiri di tepi pantai dan melihat ke permukaan air. Tidak ada lagi dua bundaran merah menyala dari dasar sungai sana. Hanya ada bayangan bulan merah di permukaan air.


 


 


Aku merasa, jika Rean berada di dalam sana. Aku pun melompat ke dalam air dan berenang ke dasar sunga yang gelap.


 


 


Sial, sungai ini jauh lebih dalam dari yang aku pikirkan. Aku pun terpaksa kembali ke permukaan dan bernapas sepuasnya lalu menyalakan senter dari ponselku. Setelah mengambil banyak oksigen, aku kembali berenang ke dalam.


 


 


Kali ini aku berenang lebih cepat sambil menyorot sekitar sungai dengan ponsel anti air milikku. Aku melihat ada banyak sekali rumput hitam yang bergerak-gerak di dasar sungai.


 


 


Selain itu, aku melihat tubuh Rean terikat oleh rerumputan hitam itu. Aku pun segera mendekat dan mengambil belatiku kemudian mengoyak rerumputan yang mengikat tubuh Rean.


 


 


Namun, aku baru menyadari, jika rumput-rumput itu hidup. Maksudku 'hidup' di sana adalah bergerak seperti hewan air.


 


 


Mereka mengikat tubuhku juga, aku pun terbatuk, karena kehabisan oksigen.


 


 


Beberapa air mulai masuk memenuhi paru-paruku. Apa aku akan mati? Mati bersama Rean di sini?


 


 


Tidak!


 


 


Kita tidak boleh mati!


 


 


Rean!


 


 


Bangun!


 


 


Kita harus hidup dan menyelamatkan diri dari tempat ini kemudian pergi dan hidup bahagia bersamaku!


 


 


Aku sudah tak sanggup lagi.


 


 


Rean! Bangun kau!


 


 


-


 


 


21.17 : 6 Oktober 2019


Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2