AMETHYST : Kekasih Drucless

AMETHYST : Kekasih Drucless
AKD - 18


__ADS_3

 


 


 


 


Amethyst berjongkok di tepi sungai. Dia mengayunkan wadah yang dibawanya untuk mengambil air. Aku masih memperhatikannya.


 


 


Gadis itu membasuh wajahnya dengan air suci. Kulihat bulan merah yang bersinar di langit. Dewi Amiless sedang menyaksikan kami di dunia ini.


 


 


Apa aku harus melakukan dosa di saat Dewi Amiless melihatku?


 


 


Amethyst terlalu cantik untuk dilewatkan. Gadis itu tidak membuka bajunya ketika mandi. Dia hanya membasuh bagian-bagian tubuh tertentu.


 


 


Aku ingin sekali melihatnya tanpa sehelai benang pun. Sepertinya aku sudah dirasuki setan.


 


 


Aku beranjak dari tempat persembunyianku kemudian melangkah menghampirinya dengan mengendap.


 


 


Kini aku tepat berada di belakang gadis itu. Aku melihat pantulan bayanganku dari permukaan air.


 


 


Amethyst masih belum menyadari keberadaanku, hingga di suatu titik, dia menoleh ke permukaan air yang memantulkan bayanganku.


 


 


Sebelum gadis itu berteriak karena kaget, aku segera memeluknya dari belakang.


 


 


"Yang mulia, jangan seperti ini... drucless lain akan memikirkan hal buruk jika melihat ini." Suara Amethyst bergetar.


 


 


"Tidak ada drucless yang keluar malam-malam begini," bisikku lirih.


 


 


Aku menarik tubuhnya agar duduk di pangkuanku tanpa melepaskan pelukanku darinya. Aku tidak mau dia kabur lagi. Amethyst tidak mengatakan apa-apa.


 


 


"Lihatlah, bukankah kita cocok?" Tanyaku sembari melihat ke permukaan air yang memantulkan bayangan kami berdua.


 


 


Pandangan kami bertemu lewat pantulan air. Sesaat kami saling menatap di sana.


 


 


"Katakan padaku, kau makhluk dari bangsa apa? Kenapa kau berbeda dengan bangsa drucless?" Tanyaku.


 

__ADS_1


 


"Aku tidak tahu." Gadis itu mengalihkan pandangannya dari permukaan air.


 


 


Sepertinya Amethyst memang berbicara jujur. Aku tahu lewat nada bicaranya.


 


 


Dia sendiri tidak tahu dirinya dari bangsa apa. Namun, aku tidak peduli. Aku hanya mencintainya.


 


 


Cinta pertamaku harus menjadi cinta terakhirku.


 


 


"Hiduplah bersamaku, Amethyst. Aku tidak akan meninggalkanmu seperti pria itu. Aku akan tetap bersamamu dan hanya mencintaimu."


 


 


Amethyst masih terdiam. Tampaknya dia tidak berniat mengeluarkan suaranya. Namun, ekspresinya menjadi sendu. Mungkin dia teringat pada mantan kekasihnya yang sudah tega meninggalakannya begitu saja.


 


 


Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, aku pun bertanya, "Kau mendengarku, tidak?"


 


 


"Yang mulia, aku sekarang seorang Gruless. Aku tidak boleh mengingkari sumpahku untuk mengabdi pada Dewi Amiless." Amethyst menjawab dengan pelan.


 


 


"Aku rajamu, bukan? Aku ingin kau berhenti menjadi Gruless perempuan dan jadilah permaisuriku." Aku masih mencoba memaksanya.


 


 


 


 


Aku muak dengan kebungkamannya. "Amethyst, kenapa kau bersikukuh dengan pendirianmu? Kau bukan drucless, kau tidak boleh jadi Gruless, jika kau bukan drucless."


 


 


"Yang mulia... aku tidak mencintaimu."


 


 


Aku sangat terluka mendengarnya. Aku tahu, aku yang salah karena terus-menerus memaksanya, sehingga dia berani mengatakan hal itu.


 


 


Namun, aku sudah dibutakan dengan napsu. Aku ingin mendapatkan Amethyst dengan caraku sendiri.


 


 


Dia harus menjadi milikku. Mau tidak mau, Amethyst harus menjadi milikku selamanya di kehidupan mana pun.


 


 


Aku pun kalap dan meraih pakaian di tubuhnya. Kurobek dan koyak dengan kasar. Amethyst berteriak dan mempertahankan pakaian yang sudah koyak itu.


 


 

__ADS_1


Ketika pertama kali melihat tubuh seorang gadis tanpa busana, aku sangat terpukau. Perasaan terdalamku semakin memuncak dan ingin mencapai puncak.


 


 


Amethyst begitu cantik. Bahkan jauh lebih cantik. Tubuhnya yang selalu tertutup pakaian kini tidak ada yang menghalanginya.


 


 


"Sungguh indah, aku menyukai ukuranmu, Amethyst." Pandanganku tertuju pada kecantikan perempuan miliknya.


 


 


Aku pun melakukan tindakan kotor dengan memperkosanya. Dengan egoisnya, aku telah membuatnya menjadi seorang gadis tak bermahkota.


 


 


Malam yang hening dan bulan merah yang menyaksikan kebiadabanku. Karena ini pertama kalinya juga aku melakukan hubungan intim, aku tidak tahu caranya berbuat lembut. Yang aku inginkan adalah kepuasan untuk diriku sendiri.


 


 


Tidak kudengarkan teriakannya, tidak kupedulikan jeritannya. Jika saja waktu itu aku sedikit bersikap lembut, Amethyst tidak akan menderita seperti itu.


 


 


Sinar rembulan yang redup membuatku bisa melihat jelas wajah sengsara Amethyst. Wajah yang hingga kini masih terbayang jelas di ingatanku.


 


 


Wajah dan ekspresi yang sama ketika aku melakukan hal yang sama pula pada Vita. Itulah sebabnya, kenapa aku menangis melihat Vita menahan rasa sakit yang aku perbuat.


 


 


Ketika siang datang, aku terbangun dan terkejut mendapati diriku yang sendirian berada di sungai suci.


 


 


Kemana Amethyst pergi?


 


 


Kucari gadis itu di sekitar sungai suci, tapi aku tidak menemukannya.


 


 


Sungguh aku menyesali perbuatanku. Amethyst akan semakin takut padaku. Bagaimana jika terjadi hal yang lebih buruk padanya?


 


 


Bagaimana jika dia membenciku? Itu tidak masalah. Ini memang salahku. Dia berhak membenciku.


 


 


Namun, bagaimana jika dia malah melukai dirinya sendiri? Bagaimana jika dia bunuh diri?


 


 


Aku tidak akan memaafkan diriku kalau itu terjadi. Aku harus segera menemukan Amethyst.


 


 


-◎◎◎-


 


 

__ADS_1


13.05 : 4 Oktober 2019


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2