
Keadaan omma tiba-tiba memburuk. Hari ini, omma tidak bisa berbicara dan bergerak. Vita sangat mengkhawatirkan keadaan omma yang terbaring tanpa suara dengan mata terpejam.
Gadis itu memeluk lengan omma.
Rean menemaninya. Dia merasa sedih melihat Vita yang terpuruk.
Vita menatap omma. Gadis itu berkata, "Selama ini... aku tinggal bersama omma. Entah sudah berapa tahun omma merawatku dengan baik, bahkan sejak aku kecil dan masih bersama orang tuaku. Omma semakin memperhatikanku setelah orang tuaku memilih bercerai."
Rean mengusap rambut Vita dengan lembut lalu merangkul tubuh mungil itu ke pelukannya.
"Aku mengerti."
"Aku punya beberapa orang teman, tapi aku tidak menceritakan masalah pribadiku pada mereka. Pada akhirnya aku memendam ini sendirian." Vita melelapkan kepalanya ke dada Rean.
"Sekarang ada aku, katakan saja semuanya padaku. Aku akan mendengarkan." Rean berupaya untuk menenangkan hati Vita.
"Cukup terus bersamaku dan ada ketika aku menginginkan sebuah sandaran."
Rean mengeratkan rangkulannya.
Beberapa hari kemudian, tiba-tiba keadaan omma semakin menurun. Wanita yang sudah tak muda lagi itu pun menghembuskan napas terakhirnya.
Tangisan Vita tak dapat terbendung lagi. Dia telah kehilangan orang terdekat dalam hidupnya.
Setelah upacara pemakaman omma, Vita kembali ke rumah. Dia duduk melamun di sofa.
Tidak ada ayah atau ibunya yang datang untuk menemani omma di saat terakhirnya. Apa mereka masih sibuk bekerja, meskipun salah satu anggota terpenting dalam keluarga meninggal dunia?
Apa ayahnya sudah lupa, siapa yang telah melahirkannya ke dunia ini?
Apa ibunya sudah lupa, siapa yang selalu memperhatikannya dengan baik?
Vita menghela napas berat.
Keesokan harinya, Vita memilih pergi ke luar bersama Rean. Gadis itu ingin lari sejenak dari kesedihannya.
Restoran outdoor di sekitar pantai adalah pilihannya.
Vita tidak banyak makan. Dia hanya meminum sedikit jus jeruknya lalu membiarkan makanannya dingin.
Rean mengerti dengan perasaan Vita. Dulu dia juga pernah merasakan kehilangan orang tercintanya, yaitu Vita di kehidupan sebelumnya.
"Aku mau pulang," gumam Vita.
"Kau belum menyentuh makananmu," ujar Rean.
Pandangan Vita tertuju pada Angel bersama seorang laki-laki yang tampaknya seumuran. Mereka berdua baru datang dan tampaknya ingin memesan makanan.
__ADS_1
Pandangan kedua gadis itu bertemu. "Vita?"
Angel dan pacarnya itu bangkit dari tempat duduk menghampiri Vita.
"Hei, Vita. Ini pacar baruku, Calvin."
Vita hanya tersenyum. "Senang bertemu kalian di sini."
Angel menoleh pada Rean. "Vita? Kakak ini pacarmu?"
Rean dan Vita saling pandang.
"Iya," jawab Vita.
Wah, tampan sekali. Vita sangat beruntung. Meskipun pertama kali berpacaran, dia langsung mendapatkan laki-laki setampan ini, batin Angel.
"Kami sudah selesai dan harus pulang, sampai jumpa." Vita dan Rean berlalu meninggalkan pasangan itu.
"Sombong sekali. Mentang-mentang punya pacar tampan, langsung pergi begitu saja," ketus Angel.
Beberapa hari setelah kepergian omma, Tuan Prasega datang untuk membawa Vita bersamanya.
Vita akan ikut bersama ayahnya, setelah dia lulus SMA. Hanya beberapa bulan lagi.
Di sekolah, tidak ada yang yang berbelasungkawa atas kepergian ommanya Vita. Mereka malah sibuk menggosipkan pacar barunya. Tidak sedikit yang langsung bertanya pada Vita tentang pria itu.
Teman-teman Vita mengira, kalau Vita berpacaran dengan pria yang usianya jauh lebih tua darinya.
Ternyata memiliki pacar atau pun tidak memiliki pacar sama saja. Sama-sama menjadi bahan perbincangan di kelas.
Begitulah manusia. Tuhan yang memberi nyawa, kita yang bernapas, orang lain yang berkomentar.
-
Angel keluar dari gerbang sekolah sendirian. Dia melihat keberadaan Rean yang sedang bersandar di mobil. Pria itu tengah asyik memainkan ponsel milik Vita.
Lumayan, ah, dia bisa jadi pengganti Calvin. Angel melangkah menghampiri Rean.
Gadis itu berpura-pura jatuh. "Aduh."
Rean menoleh sesaat pada Angel lalu kembali fokus ke ponselnya. Angel cemberut.
Dia tidak benar-benar seperti pria. Seharusnya dia menolongku! Jerit Angel dalam hati.
Gadis itu segera berdiri dan menghampiri Rean. "Halo, Kak."
Pria itu menoleh pada Angel.
"Pacarnya Vita, ya? Yang semalam itu." Angel bertingkah sok imut.
__ADS_1
"Iya, kenapa?" Jawab Rean dingin.
"Aku temannya Vita, Angelica." Gadis itu mengulurkan tangannya pada Rean.
Pria itu menerima uluran tangan Angel. "Rean."
Mereka hanya bersalaman sebentar.
Tangannya kekar dan hangat! Ah, kenapa Tuhan tidak adil? Kenapa pria tampan seperti Rean harus bertemu dengan Vita? Kenapa tidak bertemu denganku dulu?
"Kak Rean tampan sekali. Aku bisa mati jika melihatmu terlalu lama," kata Angel, si Ratu Penggoda.
"Kalau begitu, beristirahatlah dengan damai," ujar Rean.
Senyuman Angel memudar. Gadis itu sekarang cemberut kesal.
"Kakak jahat sekali," gerutu Angel sambil menyikut lengan Rean.
"Aku tidak pernah memukulmu," sahut Rean.
Angel menyerah. Dia ingin mengganti topik pembicaraan.
"Kakak sejak kapan kenal dengan Vita? Kapan kalian menjalin hubungan?" Tanya Angel dengan ekspresi kepo seperti ibu-ibu tetangga sebelah rumah yang bercat hijau.
"Sejak 100 tahun yang lalu," jawab Rean.
Angel mengira, Rean sedang bercanda. Namun, ekspresi pria itu tampak serius.
Angel menarik sudut bibirnya ke bawah. Dia berucap, "Vita itu bukan gadis yang baik. Dia suka membeli buku-buku dewasa 21+, padahal dia masih berusia 17 tahun."
Rean tampak berpikir. "Memangnya kenapa? Ada masalah?"
Seharusnya dia merasa jijik pada Vita. Sepertinya pria ini sudah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada anak manja itu, gerutu Angel dalam hati.
"Dia itu anak nakal dan dibuang oleh orang tuanya yang bercerai. Makanya dia tinggal bersama ommanya yang kemarin meninggal." Angel mulai mengarang cerita.
Rean tidak menanggapi.
Tanpa mereka sadari, Vita memperhatikan mereka berdua di kejauhan. Gadis itu sudah berada di sana sejak Angel mendekati Rean.
"Kau menunggu siapa?" Tanya Rean.
Dia bertanya? Ah, senang sekali! Dia pasti mau mengajakku pulang bareng.
"Aku mau pulang, tapi tidak ada yang mengajakku. Pacarku sedang basket, teman-temanku sedang bersama pacar mereka. Aku sendirian... aku tidak mau jalan kaki." Angel memperlihatkan ekspresi kesengsaraan batin.
Rean menjawab, "Kasihan."
-
__ADS_1
13.29 : 3 Oktober 2019
Ucu Irna Marhamah