
Setelah memikirkannya dengan matang, akhirnya Vita memilih untuk menerima perjodohan itu. Gafriel sangat kesal karena Vita menerimanya.
Apalagi Josh menetapkan tanggal pernikahan mereka hanya sekitar sebulan dari sekarang, bahkan kurang dari satu bulan.
Sebenarnya tuan Prasega juga bingung, kenapa Vita menerima Gafriel? Setelah tahu, bahwa Vita menyukai Gafriel, dia tidak lagi mempermasalahkan itu.
Pria berambut putih itu melemparkan ponselnya ke meja. "Sial sekali hidupku."
Dia sedang di apartemennya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10. Ayahnya sudah koar-koar menyuruh putra semata wayangnya itu untuk segera pergi ke kantor cabang. Namun, Gafriel sedang malas.
Pria itu menyambar jaket biru gelap di sofa. Sambil mengenakannya, Gafriel berlalu untuk keluar. Ketika membuka pintu, dia terkejut melihat keberadaan Vita di depan pintu.
"Kau sedang apa di sini?" Tanya Gafriel yang menyembunyikan rasa keterkejutannya.
Vita menunduk. "Aku... aku hanya ingin melihatmu."
"Aku mau keluar," kata Gafriel cepat.
Vita tidak berani mengatakan apa pun lagi. Gafriel mengusap kasar wajahnya sendiri.
Kenapa malah aku yang terlihat jahat di sini? Tuan besar Demitrios yang membuatku dalam masalah seperti ini, batin Gafriel mengeluh.
"Baiklah, karena kau sudah di sini, kau masuk saja ke dalam. Aku akan pergi sebentar," kata Gafriel.
Vita tampak senang. Dia mengangguk cepat. Gafriel memberitahu Vita nomor password pintu di apartemennya.
"Aku percaya padamu. Jangan memindahkan barang-barangku, ya." Setelah mengatakan itu, Gafriel berlalu.
Vita melihat ruangan di apartemen tersebut. Ada banyak barang-barang di tempat itu.
"Boros sekali."
Sementara itu, Gafriel sedang berada di klub bersama teman-teman dan pacarnya, Agnetta. Gadis itu adalah seorang model yang cantik dan terkenal.
Mereka semua minum banyak malam itu.
Salah satu temannya bersuara, "Kudengar kau dijodohkan ayahmu dengan gadis cantik. Bagaimana bisa kau menerimanya? Kau tidak kasihan pada Agnetta di sampingmu?"
Agnetta menoleh pada pacarnya menunggu jawaban.
"Jangan bahas dia," ucap Gafriel.
"Dia begitu cantik, ya? Kau sudah pernah tidur dengannya?"
Agnetta tertawa. "Jawab saja, sayang. Aku tidak akan marah. Aku tahu, kau hanya menyukaiku."
"Aku tidak menyukainya."
"Kemarin aku melihatnya di TV, tubuhnya tidak sebagus Agnetta. Buah dadanya kecil, bokongnya juga."
"Dia muncul di TV? Apa dia aktris atau model? Kupikir dia seorang pengusaha sepertimu."
__ADS_1
Gafriel meletakkan gelasnya dengan kasar ke meja. "Kubilang, jangan bahas dia!"
"Devitaa adalah putri dari pengusaha kaya. Dia berasal dari keluarga San Prasega yang terhormat. Jadi, wajar jika Gafriel begitu menghormati calon istrinya," kata Agnetta.
Gafriel menarik bahu Agnetta membuat wajah mereka begitu dekat. "Aku tidak ingin dia dilibatkan dalam percakapan kita."
Agnetta cukup terkejut dengan sikap Gafriel yang agak kasar. Gadis itu tersenyum manis kemudian mengecup bibir Gafriel.
"Maafkan aku, sayang."
Setelah cukup sadar untuk mengemudi, Gafriel pun pulang ke apartemennya. Dia melihat Vita yang tertidur di sofa. TV di depannya menyala.
Pria itu juga melihat ada banyak makanan di meja. "Dia bisa masak, ya?"
Gafriel mencicipinya. "Lumayan. Di zaman seperti ini masih ada gadis yang bisa memasak?"
Pria itu mematikan TV dan mencoba membangunkan Vita. "Vita, bangun."
Gadis itu tidak bergeming. Tampaknya dia begitu lelah. Gafriel menghela napas panjang. Pria itu mengangkat tubuh Vita dan memindahkannya ke kamar.
"Merepotkan sekali."
-
Keesokan paginya, Vita bangun. Namun, dia merasa bingung. Kenapa dia berada di kamar asing?
Kemudian dia ingat, kalau dirinya sedang berada di apartemen Gafriel. Bagaimana bisa dirinya tidur di kamar tersebut?
Apa Gafriel yang sudah menggendongnya dan memindahkannya ke kamar ini?
Seketika kedua gadis itu memerah. Tanpa mau berpikir lebih jauh lagi, Vita beranjak dari ranjang.
Gadis itu keluar dari kamar untuk mencari Gafriel. Ketika di ruang tengah, Vita terkejut melihat Gafriel bersama seorang gadis sedang berciuman. Vita membeku sesaat.
Gadis yang tak lain adalah Agnetta itu menyadari keberadaan Vita. Dia malah membuat keadaan semakin panas.
Vita bersembunyi di balik dinding. Hatinya sakit melihat itu.
Apakah itu pacarnya Gafriel? Tentu saja Gafriel mencintainya. Dia sangat cantik dan seksi. Jauh sekali jika dibandingkan denganku, batin Vita.
Mendengar suara pintu tertutup, Vita mengintip dari balik dinding. Ternyata gadis itu sudah pergi. Vita kembali memasuki kamar dan mengambil tasnya.
Ketika berbalik, Vita tersentak kaget. Gafriel berdiri di ambang pintu.
"Kau mau kemana? Buru-buru sekali."
"Aku... aku baru ingat, ada rapat di kantor. Aku harus ke sana." Vita mencari alasan yang tepat.
"Sebentar lagi kita menikah, bukan? Kenapa masih ke kantor?" Tanya Gafriel sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pria itu berjalan menghampiri calon istrinya.
"Aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku. Pernikahannya masih lama." Vita mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Masakanmu enak. Aku ingin sarapan. Bisakah kau memasaknya lagi untukku?" Tanya Gafriel.
Tidak mungkin Vita menolaknya. Gadis itu mengangguk. Ketika Vita memasak, Gafriel duduk memperhatikannya dari belakang. Pria itu menatap punggung Vita
Vita tahu, Gafriel sedang memperhatikannya. Dia merasa tertekan jika diperhatikan seperti itu. Namun, Vita mencoba untuk tidak gugup. Dia tetap memasak dan menyembunyikan kegugupannya.
Tiba-tiba dia merasakan pelukan hangat dari belakang. Gafriel yang memeluknya. Vita berdiri terpaku di posisi seperti itu.
Pria itu meletakkan dagunya di bahu Vita. "Melihat sikapmu, aku yakin... kau menyukaiku. Kenapa kau menyukaiku? Mana mungkin kau menyukaiku hanya karena kita sekali bertemu."
Vita menjawab dengan suara gemetar, "Aku tidak hanya menyukaimu. Aku mencintaimu."
Gafriel mengernyit. "Kau menyukaiku karena aku tampan, kan?"
"Tidak, aku menyukaimu karena kau yang bilang padaku, aku yang harus mengejarmu saat ini."
Gafriel semakin bingung dengan jawaban Vita. Gadis itu melepaskan pelukan Gafriel dan meletakkan masakannya ke meja.
"Aku harus pergi." Vita berlalu.
Rean menatap makanan di meja. Terdapat uap lembut di atas masakan yang baru saja dihidangkan itu.
"Sebenarnya dia bicara apa?"
-
"Jam segini kau baru sampai di kantor?" Gerutu Josh pada putranya.
Gafriel hanya menganggukkan kepalanya malas.
"Gadis itu tinggal di apartemenmu lagi? Dia Yang membuatmu kesiangan datang ke kantor?" Tanya Josh.
"Tidak, Agnetta tidak datang ke apartemen. Vita yang datang."
Josh terkejut dan ekspresinya berubah senang. "Benarkah? Bagus, kalian bisa menjadi lebih akrab."
Gafriel menggeleng pelan sambil menatap punggung sang ayah yang berlalu meninggalkan ruangan.
Ketika jam makan siang tiba, Agnetta mengajaknya ke restoran. Gafriel pun pergi bersama Agnetta.
Di restoran,
Gafriel bertanya pada Agnetta, "Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?"
Gadis itu menoleh pada pacarnya. "Haruskah aku menjawab pertanyaan bodoh itu?"
Gafriel mengangguk. "Aku hanya ingin tahu saja."
"Kita sudah lama bersama dan sudah mengenal satu sama lain. Aku rasa, itu alasannya aku mencintaimu."
Gafriel mencerna ucapan pacarnya.
-
__ADS_1
15.22 : 20 Oktober 2019
Ucu Irna Marhamah