AMETHYST : Kekasih Drucless

AMETHYST : Kekasih Drucless
AKD - 19


__ADS_3

 


 


-◎◎ Amethyst ◎◎-


 


 


Aku berjalan terhuyung menuju ke kuil Dewi Amiless. Pakaian koyak yang aku kenakan sudah tak berbentuk lagi. Setidaknya masih bisa digunakan untuk menutupi tubuhku yang sakit ini.


 


 


Raja Gigarez benar-benar biadab. Dengan teganya, dia memperkosa seorang perempuan dari kaum Gruless.


 


 


Rakyat di negeri ini sangat mencintainya, mereka menganggap pemegang tahta Gigarez itu baik hati dan bijaksana seperti ayahnya. Namun pada kenyataannya, dia tidak jauh berbeda dari Raja Daeriel Zeroun.


 


 


Akhirnya aku sampai di kuil Dewi Amiless. Ada beberapa Gruless di sana. Ketika aku melangkah menginjak anak tangga pertama kuil, tiba-tiba tubuhku terpental.


 


 


Aku terkejut. Kenapa kuil Dewi Amiless menolakku?


 


 


Para Gruless menoleh padaku. Mereka menatapku dengan tatapan hina. Aku sangat terluka. Dulu aku juga mendapatkan tatapan seperti itu dari para drucless, karena aku berbeda dari drucless lain.


 


 


Ketika aku kembali mencoba masuk, aku tetap tidak bisa masuk. Aku tidak tahu, apa ada yang salah?


 


 


"Apa yang terjadi padamu? Siapa yang menyentuhmu?"


 


 


Mana mungkin aku mengatakannya. Aku tidak mungkin bilang pada mereka, kalau Raja Rean yang melakukan ini. Merka pasti akan mengira kalau aku berbohong.


 


 


"Kau sudah ternodai, Amethyst. Kau sudah melakukan hubungan terlarang dengan pria dan mengingkari janjimu sebagai seorang perempuan dari kaum Gruless."


 


 


Deg!


 


 


Saat itu juga aku merasa malu dan takut.


 


 


Dewi Amiless tidak akan menerima gruless yang sudah tidak suci lagi sebagai penjaga kuilnya.


 


 


"Pergi dari sini, kau sudah mempermalukan kaum Gruless. Seharusnya kami tidak menerima bangsa tak dikenal sepertimu."


 


 


Kata-kata itu sungguh melukaiku. Aku pun diusir. Tidak ada pilihan lain, selain pergi dari tempat itu.


 


 


Aku tidak punya siapa pun di dunia kejam ini. Aku hanya seorang diri. Tidak akan ada yang mau menerimaku.


 


 


Kenapa aku dilahirkan berbeda? Kenapa aku dibenci dan dicaci semua orang. Padahal aku tidak pernah melukai mereka.


 


 

__ADS_1


Di saat aku mulai putus asa, aku pun teringat pada Dewi Amiless. Hanya Dewi Amiless satu-satunya yang bisa menolongku.


 


 


Pada malam hari, diam-diam aku pergi ke kuil yang sama dan berdoa di luar. Selain berdo'a, aku menanam banyak sekali bunga treloss di sekitar kuil, berharap Dewi Amiless menyukainya dan mengabulkan permintaanku.


 


 


Banyak Gruless yang bingung dengan kehadiran bunga-bunga itu di sekitar kuil. Padahal aku yang menanamnya di tengah malam.


 


 


Setelah beberapa minggu, di suatu malam yang dingin, aku datang lagi ke kuil Dewi Amiless dengan membawa air suci.


 


 


Kulihat bunga-bunga treloss sudah tinggi dan bermekaran. Aku pun menyiramnya dengan air suci.


 


 


Setelah itu, aku berjalan ke depan tangga dan mulai berdo'a. Kalimat yang sama yang setiap hari aku ucapkan sebagai permintaanku pada Dewi Amiless.


 


 


"Dewi, ini adalah kesalahanku. Salahku yang tidak bisa menjaga tubuhku. Aku ingin kembali seperti semula dan menjalankan tugasku di kuil ini seperti biasanya. Aku akan menjadi lebih baik lagi."


 


 


Setelah itu, aku berbalik sambil membawa wadah kosong bekas air suci.


 


 


Namun, langkahku terhenti kala melihat perempuan cantik berambut panjang di hadapanku. Ada seekor hewan bersayap di yang bertengger di tangannya.


 


 


Kedua kakiku gemetar.


 


 


 


 


Kedua iris matanya yang berwarna merah pudar begitu indah. Meskipun bertanduk, Dewi Amiless tidak seburuk yang diceritakan para drucless. Dewi Amiless sangatlah cantik.


 


 


"Kau ingin kembali menjadi perawan agar bisa masuk ke kuilku?" Tanya Dewi Amiless. Rambut putihnya yang panjang bergerak tertiup angin malam.


 


 


Aku mengangguk pelan sembari menunduk tak berani menatapnya terlalu lama.


 


 


"Apa yang terjadi padamu ini bukanlah kesalahanmu. Aku akan memberikan apa yang kau inginkan. Kau sudah menanam banyak bunga treloss di sekitar kuil. Aku menyukainya."


 


 


Aku merasa tenang sekarang. Dewi Amiless mendekat dan meletakkan telapak tangannya di kepalaku. Kedua mataku pun terpejam. Aku tidak merasakan apa pun.


 


 


Ketika membuka mata, aku tidak melihat siapa pun. Aku sendirian di tempat ini.


 


 


Ketika aku mencoba melangkah memasuki kuil, aku bisa masuk. Aku sangat senang dan berterima kasih pada Dewi Amiless.


 


 


Namun, kenapa Dewi Amiless tidak meminta imbalan lain dariku? Drucless bilang, Dewi Amiless akan meminta sesuatu sebagai pengganti dari apa yang telah diberikannya.


 


 

__ADS_1


"Dewi, apa yang harus aku lakukan atas tubuhku ini?" Tanyaku pada patung Dewi Amiless.


 


 


"Kau tidak perlu memberikan apa pun. Cukup menjaga kuilku dengan baik dan memperbanyak bunga treloss di sekitarnya."


 


 


Mendengar suara tanpa raga, aku sedikit takut, tapi sejurus kemudian aku merasa tenang.


 


 


Keesokan harinya, para Gruless datang ke kuil. Mereka terkejut melihat keberadaanku di dalam kuil.


 


 


"Bukankah kau sudah kotor dan ternoda? Seharusnya kau malu dan pergi dari sini."


 


 


"Kenapa kau masih di sini?"


 


 


"Pergi, atau kuil ini jadi kotor sepertimu!"


 


 


Aku mencoba menjelaskan pada mereka, aku sudah kembali seperti dulu berkat Dewi Amiless, tapi mereka tidak percaya dan tetap mengusirku.


 


 


Kenapa aku harus begini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?


 


 


Ini semua karena Raja Rean. Ini karena dia... jika saja dia tidak melakukannya, aku tidak akan begini.


 


 


Ada ranting yang runcing di depanku. Kuambil dan kutatap sejenak benda tersebut.


 


 


Aku akan mengakhiri hidupku saja dan kembali hidup 100 tahun kemudian.


 


 


Sebelum ranting itu benar-benar menusuk jantungku, aku merasakan tubuhku tiba-tiba terikat rantai.


 


 


Aku berada dalam lingkaran merah. Semuanya merah. Aku terjebak dan tidak tahu di mana.


 


 


Aku belum mati, seharusnya aku mati!


 


 


Ini di mana?!


 


 


Keluarkan aku!


 


 


-◎◎◎-


 


 


17.33 : 4 Oktober 2019


Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2