
Vita dan Rean sedang sibuk memilih pakaian di mall. Ada banyak model terbaru yang bisa dibeli dengan harga luar biasa di tempat tersebut.
Vita membeli beberapa pakaian untuk dipakai Rean selama di rumah.
"Kau pasti lapar, aku akan mencari restoran terdekat," kata Vita.
Keduanya memasuki sebuah restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mall.
"Apa di dunia drucless makanannya berbeda?" Tanya Vita.
"Sama saja, tapi tidak mengandung bahan berbahaya seperti ini."
Vita mengernyit. Mungkin maksud Rean, makanan di dunia drucless itu lebih alami dan diolah dengan ekstra bersih. Tidak ada penyedap rasa dan bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan makanan di dunia drucless.
Vita memesan makanan satu porsi lagi dan dibawa pulang untuk omma.
Sesampainya di rumah, Vita terkejut melihat mobil ibunya di depan rumah.
"Rean, buat dirimu agar tidak bisa dilihat manusia lain," bisik Vita.
Pria itu mengangguk.
Vita memasuki rumah dengan membawa tasnya. Dia sengaja meninggalkan tas belanjaan di dalam mobil. Jika tidak, ibu atau omma akan curiga, kenapa Vita membeli banyak pakaian untuk pria.
Gadis itu melihat wanita cantik yang sedang bertekuk di depan kursi roda di mana omma duduk.
"Please, Bu. Aku membutuhkan Vita. Ibu juga seorang perempuan yang pasti mengerti, bagaimana rasanya jika seorang ibu terpisah dari anaknya."
Vita menunduk sedih.
Omma mengalihkan pandangannya. Meskipun dia tidak bisa melihat wajah wanita di hadapannya, omma tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari wanita di depannya.
"Kenapa baru datang sekarang? Jika membutuhkan Vita, kenapa tidak datang dari dulu? Kau dan putraku sama saja. Kalian tidak memperhatikan Vita dengan baik saat dia bersama kalian."
"Aku minta maaf, Bu." Wanita itu mulai menangis. Dia belum menyadari keberadaan putrinya di ruangan tersebut.
"Kenapa tidak minta maaf secara langsung pada putrimu?" Tanya omma.
Vita terkejut, ternyata omma mengetahui kehadirannya. Ibunya terdiam sesaat kemudian menoleh, melihat pada Vita.
"Vita." Wanita itu memeluk Vita dengan erat. Vita membalas pelukan ibunya.
__ADS_1
"Vita ikut dengan Mama, ya." Wanita itu menangkup wajah Vita.
"Vita ingin di sini bersama omma," jawab Vita dengan pandangan tertuju pada omma.
"Kenapa? Vita sudah tidak menyayangi Mama?"
"Vita menyayangi Mama, tapi omma juga membutuhkan Vita."
Meskipun ibunya membujuk dengan berbagai cara, Vita tetap menolak dengan baik.
-
Vita mengajak omma untuk makan. Gadis itu tidak ikut makan. Dia hanya menemani omma. Perutnya masih kenyang, karena makan di restoran bersama Rean tadi.
"Vita, kau tidak makan?" Tanya omma.
"Emm... aku sudah makan di luar, Omma," jujurnya.
"Ada teman pria?" Tanya omma yang membuat Vita membeku.
"Ti-tidak." Gadis itu segera menggeleng.
"Omma sering mencium aroma parfum pria dari tubuhmu, ketika berdekatan dengan Omma. Kalian tidak melakukan sesuatu yang buruk, kan?"
Vita segera mencium aroma dari tubuhnya sendiri. Tidak ada bau apa pun. Dia mengingat aroma tubuh Rean. Tidak ada aroma Rean yang tertinggal di tubuhnya. Selain itu, mereka berdua tidak melakukan apa pun yang membuat parfum Rean menempel di tubuhnya.
"Omma tahu bau parfum pria?" Tanya Vita pelan.
Tiba-tiba omma tertawa, "Hahaha, Omma juga pernah muda. Omma tahu banyak tentang pria."
Kedua pipi Vita memerah mendengar pengakuan omma.
"Pria itu memiliki aroma yang berbeda. Meskipun satu jenis parfum, aromanya akan berbeda jika dipakai oleh dua pria yang berbeda. Parfum dan keringat pria yang tercampur, akan membuat aromanya berbeda."
Vita menggoda omma dengan mecolek pinggang wanita tua itu. "Ternyata Omma punya banyak pengalaman dengan pria, ya."
Lagi-lagi omma tertawa, "Haha, apa yang kau katakan?"
"Omma pasti punya banyak mantan pacar," goda Vita.
Aku kalah dari omma. Omma saja memiliki kehidupan remaja yang menyenangkan. Bagaimana denganku?
"Jangan dibahas, itu bukan pengalaman yang baik dan tidak pantas ditiru," ujar omma.
__ADS_1
Vita terkekeh kecil.
Omma memasang ekspresi serius dan berkata, "Vita, sekarang Omma mengerti, kenapa kedua orang tuamu memperebutkanmu."
"Kenapa, Omma?"
"Perceraian mereka belum sepenuhnya selesai. Sepertinya mereka sedang memperebutkan hak asuh anak. Omma tidak tahu, sampai kapan Omma akan bertahan hidup, tapi... jika suatu hari nanti Omma tiada, ikutlah dengan salah satu orang tuamu yang menurutmu lebih baik."
Vita memeluk omma. "Omma akan panjang umur, Omma akan hidup seratus tahun lagi."
Omma mengusap rambut Vita dengan lembut.
Setelah berbicara dengan omma, Vita mencari Rean ke seluruh penjuru di rumah omma. Di belakang rumah, dia melihat Rean sedang menggendong Twisy.
"Rean, apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Vita.
Rean menoleh pada Vita. "Aku sedang duduk saja."
"Iya, aku melihatmu duduk. Tapi, kenapa kau duduk di tanah seperti itu? Bangun." Vita menarik kedua tangan Rean agar bangun, seperti seorang ibu yang menyuruh anaknya pulang setelah bermain.
"Kau harus mencoba pakaian barumu," kata Vita.
Di kamar, Vita memilih salah satu pakaian dan menyuruh Rean untuk memakainya.
Tanpa rasa malu, Rean membuka bajunya di depan Vita. Mata polos Vita harus ternodai, karena melihat badan kekar Rean yang jauh lebih besar ketika tidak memakai baju.
Pria itu akan membuka celananya, tapi Vita segera menahan kedua tangannya. "Tidak di sini, sana di kamar mandi."
Seperti kucing penurut, Rean berlalu ke kamar mandi sambil membawa baju dan celana barunya. Vita menggeleng pelan.
Beberapa menit kemudian, Rean keluar dengan kaos putih dan celana jeans panjang yang ada robekan di pahanya.
"Wah, keren sekali! Kau benar-benar seperti manusia sungguhan!" Vita mengguncangkan lengan Rean dengan kasar.
"Kenapa mereka menjual benda tidak berguna?" Tanya Rean.
"Maksudnya?" Tanya Vita yang kebingungan.
Rean menunjuk celana jeans yang dikenakannya. "Lihatlah, ini sudah rusak, kenapa dijual dengan harga mahal?"
Tidak ada yang bisa dilakukan Vita, selain menepuk dahinya sendiri.
-
__ADS_1
18.50 : 2 Oktober 2019
Ucu Irna Marhamah