
Rean merasa kesulitan untuk menemukan Amethyst. Pria itu harus mengubek seisi negeri Gigarez demi menemukan seorang gadis yang sudah ditidurinya.
Setelah kejadian malam itu, Rean dipenuhi rasa penyesalan dan rasa takut. Dia selalu memikirkan keadaan Amethyst.
Para prajurit yang sudah dikerahkan pun tak dapat menemukannya.
Rean yang sudah kehabisan akal pun pergi ke kuil Dewi Amiless. Tentunya kuil yang berbeda dengan kuil yang biasanya didatangi Amethyst. Ada banyak kuil di dekat istana. Sementara kuil yang biasanya didatangi Amethyst itu letaknya cukup jauh.
Waktu bertemu dengan Amethyst pertama kalinya, kebetulan Rean baru selesai mengadakan pertemuan dengan Raja Zeroun, Daeriel. Jadi, sekalian lewat, Rean mengunjungi salah kuil di mana Amethyst kebetulan juga berada di sana.
Balik ke cerita.
Tengah malam itu, Rean berdo'a di kuil Dewi Amiless.
"Mungkin aku sudah tidar waras, tapi aku sangat mencintai gadis itu. Aku juga sangat mencemaskannya. Aku ingin bersamanya. Aku ingin bertanggung jawab atas kesalahanku. Berikan aku kesempatan."
"Kau begitu mencintainya?" Tiba-tiba terdengar suara misterius. Itu suara perempuan yang entah dari mana asalnya.
Rean mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tanpa dia sadari, perempuan cantik bermata merah itu berdiri tak jauh darinya.
Hewan bersayap di tangannya bersuara. Rean menoleh dan terkejut melihat perempuan itu.
"Dewi," gumam Rean.
Dewi Amiless tersenyum cantik. "Terakhir kali, kau meminta agar dicintai oleh rakyatmu. Sekarang apa yang kau mau?"
Rean menunduk. "Aku ingin dicintai oleh Amethyst. Aku ingin dia mencintaiku."
Dewi Amiless menatap Rean dengan serius. "Apa yang kau minta ini akan dibayar dengan bayaran yang besar."
"Aku akan melakukan apa pun untuk membayarnya," kata Rean mantap.
Dewi Amiless tersenyum. "Baru saja aku bertemu gadis itu sebelum bertemu denganmu."
Deg!
Rean cukup terkejut.
"Dia ingin kembali menjadi seorang gadis yang suci untuk menjadi pengabdiku."
Rean merasa putus asa mendengar keinginan Amethyst lewat ucapan Dewi Amiless.
"Tapi, permintaanmu berbanding terbalik dengan permintaannya. Aku sudah mewujudkan keinginan Amethyst. Apa aku harus mencabut kembali apa yang sudah kuberikan padanya demi kau?"
Tidak ada jawaban dari Rean. Pria itu menyadari, jika dirinya adalah pria egois yang selalu mementingkan obsesinya terhadap Amethyst.
"Baiklah, untukmu aku akan membuatnya menjadi milikmu. Temui dia besok setelah matahari terbit di sekitar kuilku, tempat pertama kalinya kalian bertemu."
Setelah mengatakan itu, Dewi Amiless menghilang.
Rean mengusap kasar wajahnya.
__ADS_1
-
Rean sudah tiba di kuil yang sama. Namun, dia terkejut melihat para Gruless di kuil itu mengusir Amethyst. Rean mengepalkan tangannya geram melihat Amethyst diperlakukan itu.
Rean ingin menghampiri gadis itu. Tetapi, dia memilih diam dan menunggu Amethyst pergi dari kuil tersebut. Setelah itu, dia akan menemui gadis itu.
Ketika Amethyst pergi dari kuil, Rean mengikutinya. Dia merasa sedih melihat Amethyst yang menderita.
Gadis itu mengambil ranting dan akan menusukkannya ke perut. Rean segera berlari menarik tangan Amethyst agar menjatuhkan ranting itu ke tanah.
Tubuh Amethyst tiba-tiba menjadi lemas dan jatuh tak sadarkan diri. Rean segera menangkapnya dan dia berjongkok untuk menahan tubuh lunglai itu.
Pria itu mengangkat tubuh Amethyst dan membawanya ke istana Gigarez.
Para tabib memeriksa keadaan gadis itu. Rean sangat khawatir. Beberapa jam (di dunia drucless) kemudian, Amethyst membuka matanya.
Rean menghela napas lega. Namun, ada yang berbeda dengan kedua mata Amethyst. Dulu warna matanya ungu gelap. Sekarang ungunya sedikit memudar.
Gadis itu menoleh pada Rean yang juga sedang menatapnya.
"Yang mulia," gumam Amethyst dengan suara bergetar. Gadis itu memeluk Rean dengan erat.
Rean terkejut. Namun, dia segera membalas pelukan gadis itu. Para tabib segera pergi memberikan privasi pada Raja mereka.
"Aku takut."
Rean membatin, sepertinya Amethyst sudah mulai jatuh cinta padaku. Dewi Amiless, terima kasih.
"Amethyst, katakan padaku, apa yang membuatmu takut?" Tanya Rean lagi.
"Aku terjebak dalam tempat yang menakutkan. Semuanya berwarna merah. Aku terjebak dan aku teringat padamu, Raja. Yang kuingat saat itu hanya Yang mulia."
Rean mendengarkan dengan serius.
"Tiba-tiba... aku merindukanmu. Aku tidak tahu kenapa, tapi... aku mencintai Yang mulia."
Meskipun terdengar konyol dan tidak masuk akal, ucapan Amethyst membuat pria itu tersenyum dan bahagia. Dia mengecup bibir Amethyst dengan lembut. Gadis itu sedikit tersentak, tapi dia langsung membalas ciuman Rean.
Tak lama kemudian, pernikahan besar pun terjadi. Namun, itu menjadi pro dan kontra di masyarakat Gigarez, karena Amethyst adalah perempuan Gruless.
Rean tidak peduli, seolah dia tutup telinga menanggapi perkataan rakyatnya.
Semua raja bersama ratu dari kerajaan-kerajaan besar datang untuk mengucapkan selamat dengan pernikahan Raja Rean dan istrinya. Salah satunya adalah Raja Daeriel Amzar Zeroun, penguasa kerajaan Zeroun yang kebetulan berbatasan langsung dengan kerajaan Gigarez.
Raja Daeriel bersama Ratu Natrissya dan anak mereka juga datang. Keduanya mengucapkan selamat secara langsung pada Rean dan Amethyst.
Gadis kecil berponi dengan mata bulat itu tersenyum manis dan bersalaman dengan Rean dan Amethyst.
__ADS_1
"Putri Laureen sangat cantik, sebentar lagi dia akan dewasa," kata Rean sambil menggendong tubuh kecil itu.
Daeriel tertawa. "Aku ingin dia tidak tumbuh terlalu cepat, aku belum siap melihatnya bersama pria drucless lain."
Rean tertawa. "Putri Laureen, jangan tumbuh cepat, Raja Daeriel ingin kau bersamanya selalu."
Daeriel dan Trissya tertawa. Amethyst hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
Kamar pengantin,
"Kau siap?" Bisik Rean.
Amethyst tampak ragu, tapi sejurus kemudian, dia mengangguk.
Rean menarik tengkuk istrinya agar mendekat. Pria itu mengecup leher Amethyst dengan lembut. Kedua mata biru lautnya berubah jadi hitam sekelam malam. Ada sepasang taring yang mencuat dari mulutnya.
Pria itu menggigit leher Amethyst dengan segera. Gadis itu meremas jubah hitam milik Rean untuk melampiaskan rasa sakitnya.
"Eeuurrggh! Rean! Sakit!" Teriak Amethyst.
Pria itu melepaskan gigitannya dan melihat ada segel berwarna biru terang muncul dari bekas luka gigitannya melilit leher Amethyst.
Rean menggigit ibu jarinya sehingga darah mengalir dari sana. Pria itu menitikkan darahnya ke leher Amethyst. Muncullah namanya di dekat segel miliknya.
Rean menangkup wajah Amethyst yang masih menyiratkan kesakitan. Pria itu tersenyum lalu memagut bibir istrinya dengan lembut. Amethyst membalas ciuman suaminya.
Kehidupan Raja Rean dan Ratu Amethyst berjalan baik-baik saja. Mereka hidup bahagia dalam balutan cinta.
Namun, Rean merasa ada yang salah. Amethyst memang tampak mencintainya, tapi cinta Amethyst padanya terkesan berlebihan.
Amethyst seperti melupakan semuanya, dia hanya ingat pada Rean. Bukannya membuat Rean senang, pria itu mulai cemas.
Amethyst melupakan makan, melupakan aktivitas kesehariannya, melupakan tidur, melupakan kesehatannya sendiri. Dia jauh lebih memperhatikan Rean dibandingkan dengan dirinya sendiri.
Bukan itu yang diinginkan Rean. Dia mau Amethyst mencintainya dengan sewajarnya. Jika seperti itu, Amethyst terkesan boneka cinta yang dibuat oleh Dewi Amiless untuk Rean.
Pria itu lebih terluka melihat cinta Amethyst yang kian lama kian jauh dari kata normal.
Rean merasa kehidupan bahagia mereka adalah kepalsuan.
Rean ingin kembali ke kuil Dewi Amiless dan meminta agar Amethyst mencintainya dengan tulus, bukan mencintainya karena suatu dorongan.
Ketika akan menaiki kudanya, Rean mendengar suara tabib kerajaan yang merawat sang ayah.
"Raja Rean, Raja Adyatama sedang di penghujung."
Deg!
-
18.41 : 4 Oktober 2019
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah