
Pada hari ahad sekitar pukul 08 : 00 WIB, Syifa dan juga Hafid disuruh oleh dokter kandungan untuk menjalankan operasi yang terletak di bagian rahim yang sudah terkena penyakit Tumor.
Syifa sangat deg degan dan berdoa kepada Allah supaya berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan apapun.
"Ya Allah, kuatkan lah hambaMu ini ya Allah. Aku takut dan deg degan karena mau operasi pengangkatan suatu tumor di bagian rahimku. Aamiin," doa Syifa
Beberapa menit kemudian, Syifa langsung ke ruangan operasi di luar ruangan tersebut ada suaminya dan juga uminya Syifa.
"Ya Allah, selamatkan lah Syifa dan sembuhkan lah Syifa ya Allah. Aamiin," doa umi
Mereka berdua khawatir atas operasinya Syifa dan mereka berdua negatif thinking kepada Syifa karena mereka takut kalau Syifa meninggal dunia, mereka terus berdoa terus berdoa supaya Syifa diberikan kesembuhan atas operasi yang ia lalui.
Beberapa menit kemudian setelah melakukan sebuah operasi pengangkatan tumor, dokter pun keluar dari ruangan operasi dan memberitahukan kepada umi dan juga Ikhsan.
"Maaf permisi ini keluarganya Syifa ya?" Tanya dokter.
"Iya dokter saya suaminya," jawab Hafid.
"Gimana keadaan istri saya?" Tanya Hafid.
"Alhamdulillah istri bapak baik baik saja pak," jawab dokter.
Beberapa menit kemudian Syifa masih belum sadarkan diri atas operasi yang ia lalui, Hafid sangat mengkhawatirkan sang istri.
Pada waktu itu Gladis pun datang, namun diusir oleh Hafid.
"Pergi kamu dari sini, kamu apa nggak kapok kapoknya merusak hubungan rumah tangga aku dengan Syifa.. Kamu masih anak sekolah tidak pantas untuk jadi istri kedua aku….” Kali ini Hafid benar – benar sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Tenang mas, aku disini mau menjenguk sekalian mau mengucapkan bela sungkawa," licik Gladis
Tiba tiba saja tamparan keras mendarat di pipinya Gladis
"PLAK!"
"PLAK!"
"Jaga omongan kamu, Syifa belum meninggal dan kamu jangan pernah ganggu keluarga kami PAHAM TIDAK!" Bentak Hafid
"Mas ko jahat sih sama aku hiks," tangis Gladis
"Karena mas ingin menjaga Syifa dan tidak mau berpoligami dengan DIRIMU PAHAM," bentak Hafid
"AKU BENCI SAMA MAS IKHSAN, KITA PUTUS," tangis Gladis
__ADS_1
"Ha? Putus? Sejak kapan kita jadian jangan suka menyebar fitnah deh kamu, kamu hanya sepupunya Syifa yang tidak berhak mengatur semua urusanku terhadap keluargaku!" Bentak Hafid
Beberapa menit kemudian Gladis pun keluar dari kamar dengan rasa penuh kekecewaan atas apa yang ia alami kepada Ikhsan.
"Mas tega banget sih memilih cewek kek dia yang tidak punya keturunan dan suka sakit, apa salahku sih mas terhadap mas Hafid hiks," batin Gladis
Akhirnya Syifa terbangun dari pingsannya, dan ia kebingungan kenapa dirinya ada dirumah sakit.
"Mas, aku berada di mana ini?" Tanya Syifa
"Kamu ada di rumah sakit, habis operasi pengangkatan tumor rahim. Kamu mau apa sayang?" Tanya Hafid
"Anak kita bunga dimana?" Tanya Syifa
"Bunga di titipkan sama umi dek…." jawab Hafid
"Boleh aku ketemu sama bunga, aku ingin memeluk dan menyusuinya," ucap Syifa
Beberapa menit kemudian sang suami memanggil umi untuk diajak ke dalam kamarnya.
"Ada apa nak?" Tanya umi
"Aku mau menggendong bunga mi…..” Syifa tidak bisa sabar ingin bertemu dengan anak gadis tersebut.
Kemudian Bunga pun tertidur lelap, pada waktu malam sekitar pukul 20 : 00 Syifa mengeluarkan banyak sekali darah. Otomatis Hafid yang sebagai suaminya sangat khawatir atas kesehatan sang istri, Hafid pun memanggil dokter dan juga suster untuk menganani sang istrinya.
"TETT!"
"TETT!"
"TETT!"
Beberapa menit kemudian Dokter dan juga suster datang ke ruangan.
"GLUDUK!"
"GLUDUK!"
"GLUDUK!"
Suara petir yang menyambar di atas langit membuat dokter dan juga keluarga Syifa terkejut, dokter pun bilang kepada mas Hafid
"Pak, istri bapak saya bawa ke ICU ya. Soalnya istri bapak kekurangan banyak darah sekali, sehingga sulit berhentinya," saran dokter
__ADS_1
Akhirnya Syifa dibawa ke ICU untuk perawatan lebih lanjut lagi, Hafid dan uminya sangat khawatir kepada Syifa.
"Ya Allah, yang maha pengasih lagi maha penyanyang tolong ya Allah sembuhkan lah istri saya dari penyakit ya Allah. Aamiin…..” Tiada henti – hentinya Hafid berdoa memohon kepada Allah untuk kesembuhan sang istri.
Beberapa menit kemudian, Syifa pun tersadar dari pingsannya, Syifa pingsan 2 kali sehingga membuat orangtua dan suaminya sangat khawatir sekali.
"Aku ada dimana ini mas?" Tanya Syifa
"Kamu ada di ruangan ICU dek, mas yang jaga umi dan abi ada di luar sedang menggendong Bunga….” Ucap mas Hafid
Sepupu Syifa pun datang dengan maki maki dan licik.
"Woy mbak! Jangan rebut mas Hafid dariku ya….” Gladis seperti orang gila yang marah – marah tidak jelas
"Mas, tolong jelaskan….” Syifa meminta mas Hafid untuk menjelaskan apa yang dimaksud oleh Gladis
"Astaghfirullah anak kecil, jangan sekali kali kamu mengganggu kita lagi kita semua sudah muak dengan tingkah laku kamu. Yang sok akan jadi pelakor kamu, memangnya aku akan terpincut oleh kamu yang umurnya jauh berbeda dari aku. Kamu itu masih sekolah, sana tugas kamu menumpuk jangan jadi cewek murahan," bentak mas Hafid
"...."(Gladis tersebut tidak menjawabnya)
Beberapa menit kemudian, setelah berdebat sangat hebat. Gladis akhirnya pulang dengan rasa kekecewaan yang begituu sangat pedih, Gladis terus saja marah atas apa yang ia alami saat tadi.
"Awas aja luh yaa, berani sekali kamu merebut mas Hafid dariku. Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan mas Hafiddari kamu mbak, lihat saja nanti haha," geram Gladis
Pada saat itulah, Syifa dan mas Hafid berada di rumah sakit dan dirawat di ICU. Syifa masih sangat lemah terhadap hal itu, mas Hafid terus saja khawatir terhadap kesehatan istrinya.
Pada saat adzan Zuhur, Hafid pun bergegas untuk ke masjid dan segera mengambil air wudhu. Ia sholat Dzuhur berjamaah setelah sholat Dzuhur dirinya pun berdzikir kepada Allah
Setelah Hafid berdzikir kemudian dirinya pun berdoa kepada Allah
"Ya Allah, tolong sembuhkan lah istri saya. Aku tidak mau kehilangan istri saya, bagiku dia termasuk bagian separuh nafasku ini ya Allah. Aamiin….”
Beberapa menit kemudian Hafid pun balik ke kamarnya sang istri, dan menanyakan kabarnya kepada istrinya
"Gimana dek kabarnya? Udah mendingan kan?" Tanya sang suami.
"Alhamdulillah udah mendingan mas, nggak seperti kemarin banyak mengeluarkan darah. Kapan nih aku bisa keluar dari rumah sakit?" Syifa pun sudah tidak bersabar untuk keluar dari rumah sakit ini
"Insyaallah secepatnya dek, kamu segera minum obat yang teratur ya biar cepat sembuhnya….” Sang suami menyuruh sang istri untuk meminum obatnya
"Siap laksanakan mas….” Syifa pun menurut perintah dari sang suami.
Akhirnya Syifa pindah ruangan ke ruang biasa yang terletak di lantai 4 nomer 10 sebelah kiri, mereka langsung saja bergegas berkemas dan menuju ke ruangan biasa. Bunga digendong oleh mak Ijah pengasuh bayi sejak jaman Syifa masih kecil.
__ADS_1
TO BE CONTINUED