
Pada waktu hari Jumat tanggal 18 Januari
Syifa tiba di kampus seperti biasa, sudah di tunggu oleh teman temannya di kelas termasuk sudah di tunggu oleh Ayunda sahabatnya.
Pada waktu jam pembelajaran, kemudian Syifa di panggil oleh akademik mau ada sesuatu buat dia.
Akhirnya Syifa pun datang di ruangannya, dan mengetok sebuah pintu masuk.
"Assalamualaikum, permisi pak Bu. Ada apa yah memanggil saya?" Tanya Syifa
"Gini nak, ini dari pemerintahan pusat. Mohon diterima yah bantuannya," bapak akademik memberikan sebuah surat kepada Syifa
"Wah, terimakasih banyak pak. Ini apa yah pak?" Tanya Syifa lagi.
"Ini ada sebuah bantuan beasiswa kamu nak, untuk biaya kampus dan biaya kebutuhan hidup kamu." Bapak akademik pun menjawab
"Wah, terimakasih banyak pak." Syifa mengucapkan terimakasih.
Akhirnya Syifa pun keluar dari ruangan akademik dan kembali ke kelas.
"Ada apa Syifa? Kamu dipanggil?" Tanya Ayunda
"Alhamdulillah, aku mendapatkan beasiswa bestie. Maacih yah udah bantuin semangatin aku hehe,"
"Wah, Alhamdulilah Syifa kamu mahasiswi berprestasi di kampus ini. Aku bangga memiliki sahabat, ayo ke kantin yuk." Ayunda pun mengajak Syifa ke kantin
"Boleh lah yah, sambil aku mau bercerita ke kamu."
Beberapa menit kemudian, Syifa dan Ayunda pun ke kantin untuk bercerita.
"Hey Syifa, kamu ngapain ko daritadi murung gitu?"
"Iya nih Yun, aku bimbang dan bingung sekali. Aku di jodohkan oleh kedua orangtuaku, aku sudah bilang ke Jonathan juga kalau aku sudah di jodohkan. Apakah aku harus merelakan Jonathan demi masa depanku yah?"
"Gini kalau kamu bimbang, sholat istikharah terlebih dahulu bestie. Dan coba kamu bicarakan baik baik ke Jonathan,"
"Oke bestie, aku akan coba untuk sholat istikharah biar tenang hati ini."
"Apapun keputusan dari Allah kamu harus menerimanya ya Syifa, Abah kamu tidak mau kamu sakit hati karena cinta yang begitu sangat rumit."
"Aku coba WhatsApp Jonathan untuk minta putus secara baik - baik, pasti dia mau mendengarkan perkataan ku ini."
"Ini sudah menunjukan siang nih, ayo sholat Dzuhur dulu. Kamu hari ini sholat kan?"
"Yok sholat, diriku ini sholat bestie tenang aja."
"Oke"
__ADS_1
Syifa dan Ayunda pun sholat berjamaah di mushola yang berada di kampus, sekalian setelah sholat Dzuhur mereka makan siang di kantin seperti biasa.
Di sisi lain, Jonathan sedang beribadah di sebuah gereja yang tidak jauh dari kampusnya. Betapa bimbang hati Syifa dan Jonathan untuk mengatakan putus pun sangat sulit sekali, jika di teruskan maka akan jauh lebih sakit lagi.
Jonathan pun memulai untuk berdoa sambil mengepalkan kedua tangannya seraya ia memegang sebuah Rosario.
Entah apa yang di pikiran dan hati Jonathan sambil berdoa tanpa terasa air matanya jatuh di pipinya, untuk melepaskan sang pujaan hati kepada jodohnya yang seiman dengannya.
Temannya yang bernama Christina yang juga berdoa melirik ke arah Jonathan dengan ekspresi wajah yang begitu bingung terhadap Jonathan, Christina pun melanjutkan berdoa kembali dan tidak memperdulikan Jonathan yang sedang menangis tersebut.
Satu jam kemudian, Syifa dan Jonathan selesai beribadah kepada Tuhan masing - masing. Hati Syifa legah dan siap untuk WhatsApp Jonathan mengajaknya untuk memutuskan hubungan ini.
Di kelas Syifa dan Jonathan tidak menegur sapa, masih menyimpan rasa kebimbangan untuk hati mereka.
Sebenarnya mereka tidak mau berpisah, mereka terus berdoa setiap saat meskipun nanti kenyataannya Syifa dan Jonathan tidak bersatu selamanya.
Mereka satu sama lain mencoba untuk mengikhlaskan dan tidak boleh egois, mereka berdua tanpa sadari mengeluarkan air mata lagi.
Sesampainya waktu jam berakhir, Syifa diantar oleh Ayunda sahabatnya. Rasanya Syifa campur aduk, rasanya ingin menangis hebat.
Sesampainya di rumah Syifa, Ayunda memulai topik pembicaraan.
"Syifa, sudah sampai di rumah mu nih. Ayo turun ku antar kamu sampai dalam rumah yah yuk,"
Ayunda pun memapah Syifa yang sedang lemas tidak berdaya.
Sesampainya di depan pintu, Syifa pun mengucapkan terimakasih kepada Ayunda.
"Dengan senang hati Syifa, aku bisa mengantar kamu biar tahu alamat rumah kamu. Kapan - kapan kan aku bisa main ke rumah,"
"Ouh iya mau masuk tidak?"
"Tidak usah Syifa, orangtuamu ada?"
"Ouh ada di ruang tamu, silahkan masuk aja gak apa - apa."
"Assalamualaikum om, Tante."
"Wa'alaikumsalam, kamu temannya Syifa ya?"
"Hehe iyaa Tante, nama saya Ayunda cinta panggilannya Ayun Tante."
"Nama yang bagus nak, terimakasih sudah mengantar anak kami Syifa ke rumah."
"Dengan senang hati om dan tante, ouh iya om dan tante saya pamit dulu soalnya sudah di tunggu sama orangtua saya hehe."
"Ya udah nak, terimakasih sebelumnya sudah mengantar Syifa ke rumah."
__ADS_1
"Sama - sama om dan tante."
Ayunda pun pulang ke rumahnya, syifa pun di tanyakan oleh Abahnya.
"Nak, bagaimana kuliahnya? Lancar kan?"
"Alhamdulillah Abah, lancar semuanya. Syifa bimbang banget Abah untuk memutuskan hubungan dengan Nathan, Syifa ingin putus tapi dengan cara baik - baik agar tidak ada hati yang saling tersakiti. Solusinya bagaimana yah Abah?"
"Hemm, coba kamu WhatsApp Jonathan kamu basa - basi lah nak, menanyakan kabar atau apapun itu. Baru kamu putuskan dengan bicara baik - baik."
"Aku tadi tanya Ayunda juga menyuruh aku WhatsApp Jonathan gitu Abah buat putusin dia, aku tahu pilihan Abah yang terbaik buat Syifa. Maka Syifa akan menerima perjodohan dari Abah dan Umi,"
"Alhamdulillah, besok kamu WhatsApp Jonathan bicara baik - baik niscaya dia akan mengerti keadaan kamu anakku sayang. Sudah sekarang nggak boleh bimbang lagi ya sayang, kalau kamu masih bimbang coba sholat istikharah pasti ada jawabannya. Allah tahu mana yang terbaik untuk kamu, maaf Abah sudah membentak kamu tapi ini demi kebaikan kamu nak."
"Iya Abah, Syifa minta maaf juga yah sudah mengingkari dan membuat dosa Abah dan Umi dengan seperti ini."
"Iya anakku, tidak apa - apa. Ayo sekarang kita sholat Maghrib dan makan malam Umi sudah membuat makanan nih spesial buat kamu dan Abah."
"Siap Abah, ouh iya Abah dan Umi Syifa mendapatkan beasiswa dari kampus nih Alhamdulillah buat bayar UKT kampus dan dapat uang jajan juga hehe."
"Masyaallah anakku, kamu hebat banget. Maaf yah kita tidak kasih uang jajan untukmu nak, soalnya ekonomi lagi menipis hidup kita berkecukupan."
"Tenang aja Abah dan Umi, Syifa akan belajar lebih giat lagi untuk bahagiakan Umi dan Abah."
"Terimakasih nak, sudah menjadi anak Abah dan Umi yang Sholehah."
Adzan Maghrib pun berkumandang, saatnya mereka untuk melaksanakan sholat Maghrib secara berjamaah dan mengaji bersama.
Setelah sholat Maghrib Syifa pun berdoa untuk menemukan petunjuk, Syifa khusyuk sekali berdoa sampai air mata mengalir deras di pipinya.
Abah dan Umi yang berada di samping dan depannya pun tersenyum manis kepada Syifa, di dalam hati Abah bergumam.
"Nak, maafkan Abah yah ini semua demi kebaikan kamu nak. Abah tidak mau kamu salah jalan nak,"
Abah bilang ke istrinya, soal pernikahan Syifa dengan Muhammad Hafidz Pratama.
"Umi, Syifa beneran mau sama Hafidz anak temannya Abah?"
"Pada waktu hari Kamis, Umi sudah menunjukkan foto Hafidz dan Syifa pun setuju."
"Alhamdulillah, Abah yakin Hafidz bakalan jadi suami yang begitu sayang kepada Syifa. Abah tidak mau anak perempuan Abah di sakiti oleh laki - laki lain, Abah sayang sama Syifa mungkin caranya aja yang salah Umi."
"Tapi Abah, Umi takut aja gitu sama keluarganya secara kan keluarga Hafidz seorang Hafidz dan Hafidzah penghafal Al-Qur'an dan hadist. Umi merasa Insecure sekali dan kurang mendidik Syifa supaya dirinya Hafidzah juga, Abah nggak Insecure dan malu?"
"Hey istriku, tenang aja kamu jangan Insecure maupun malu. Anak kita Syifa hanya di hasut oleh syaithon yang terkutuk Umi, sebenarnya Syifa anak yang baik hati dan selalu rendah hati. Mintalah bantuan oleh Allah Subhanahu wata'ala saja hanya Allah sajalah yang dapat menolong kita."
"Aku percayakan semuanya pada Allah saja, aku yakin niscaya Allah akan membantu kita."
__ADS_1
Syifa selesai sholat dan berdoa, ia bergegas untuk kembali ke kamar untuk belajar dan mengerjakan tugas.
TO BE CONTINUED