
Minggu 13 Januari 2015 pada pukul 05.00 WIB
Syifa pun terbangun dari tempat tidur
"Hoaamm" Syifa pun menguap membuka matanya secara perlahan-lahan.
Syifa pun menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Syifa pun bergegas untuk menuju ke kamar mandi untuk berwudhu untuk sholat subuh.
Setelah sholat subuh, Syifa pun membereskan kasur yang masih berantakan.
Suara kicau burung yang menemani Syifa bangun pagi, dirinya pun lanjut keluar kamar untuk membereskan ruang tamu dan dapur yang masih berantakan.
"Haduh! Ini masih berantakan pulak, orang - orang pada masih tidur apa kali yah?" Syifa pun mengomel sendiri.
Tiba - tiba saja umi sudah terbangun, dan menyapa Syifa gadis kesayangan umi.
"Eh? Syifa tumben kamu sudah bangun nak?" Umi pun bertanya kepada Syifa
"Astaghfirullah! Umi sudah bangun? Tiba - tiba saja umi ada disini." Syifa pun terkejut
"Maaf nak, rajin banget anak umi." Umi pun mengelus kepala Syifa
Syifa pun nampak tersipu malu, di belai kepala oleh Umi.
Matahari pun sudah terbit dan waktu sudah menunjukkan pukul 06.00.
"Ha? Sudah jam 6? Sudah janjian sama Jonathan lagi, aku WhatsApp dulu kali yah." Syifa pun berfikir seperti itu
Jonathan my bestie
"Jonathan"
"Woyalah"
"Bangun woy!"
"Astaga, dasar kebo ya kamu"
Panggilan keluar
Panggilan keluar
Panggilan keluar
Tiba - tiba si Jonathan balas WhatsApp Syifa, dengan raut wajahnya yang tidak bersalah dan seakan - akan dirinya lupa dengan janjinya sendiri.
Syifa pun mengelus dadanya yang tadinya sempat panik sekarang sudah tenang.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya ada tanda - tanda kehidupan dari dia."
"Eh! Sorry Syif, tadi baru aja bangun"
"Astaga, Jonathan jam segini baru bangun? Kamu nggak ingat apa? Kita udah janjian tahu"
"Iyaa Syif, aku ingat aku otw nih. Kamu otw juga kan?"
"Aku otw juga nih, sampai berjumpa di CFD nanti yaps"
"Okee, bye cantik. Salom"
Melihat akan hal itu, Syifa tersipu malu. kenapa tidak? Dirinya yang telah membuat Syifa jadi salting oleh kata - kata dan rayuannya. Syifa dan Jonathan pun bergegas pergi untuk ketemuan antara keduanya.
Sebelum pergi Syifa berpamitan dengan umi dan Abahnya yang sedang duduk di teras keluarga sambil melihat televisi.
"Umi, Abi Syifa pergi CFD dulu ya." Syifa pun izin sama orangtuanya.
"Iya nak, silahkan. Sama siapa tapi? Sama Jonathan?" Abah pun bertanya.
"Iya Abi, mau pergi sama Jonathan." Syifa pun menjawab sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua pun sudah datang di CFD tempat anak nongkrong.
"Nathan, kamu udah datang daritadi kah?" Syifa pun bertanya
"Baru aja datang, kamu juga kah baru datang?"
"Syifa, ayo ke pameran lukisan kamu mau ikut?" Jonathan pun mengajak Syifa untuk melihat lukisan.
"Wah! Boleh juga Nat, sekalian aku mau melihat lukisan lukisan ini" Syifa pun tampak kegirangan.
Syifa yang semula cuek dan dingin pun di luluhkan oleh Jonathan, nyesek sekali tapi Syifa dan Jonathan di pisahkan oleh tembok yang sangat tinggi
Kemudian mereka pun pergi ke pameran lukisan. Jonathan pun menggenggam tangan erat Syifa untuk melihat lihat lukisan, sontak Syifa pun yang melihat tangannya di gandeng tersenyum dan dia nampak malu
"Syifa, aku mau ngomong sesuatu ke kamu?" Jonathan pun ingin mengutarakan isi hatinya.
"Ada apa Nathan? Mau ngomong apaan?" Syifa pun kebingungan.
"Sebenarnya....duh gimana yah aku ngomongnya wakaka" Jonathan amat grogi di hadapan Syifa.
"Kalau kamu belum siap nanti aja Nat, siapkan hati, mental mu dll." Syifa menenangkan Jonathan yang nampak grogi.
Jonathan pun tarik napas dalam-dalam supaya tidak grogi untuk menyatakan perasaan Jonathan.
"Jadi gini Syifa, aku udah dari awal suka sama kamu pada waktu kita bertemu. Aku tahu kita berbeda keyakinan tapi aku akan coba agar aku bisa masuk ke dalam agama kamu Syif." Jonathan pun mengatakan bahwa dia suka sama Syifa.
__ADS_1
"Ha? Nathan, kamu suka sama aku? Aku tidak bisa memaksa kamu untuk pindah ke agamaku begitu pulak sebaliknya kamu tidak bisa mengajak aku untuk masuk ke agama kamu." Ujar Syifa.
Syifa nampak bengong dan terkejut, karena Jonathan menembak aku untuk menjadikan dia pacarnya.
"Jadi gimana jawabannya?" Jonathan pun menanyakannya lagi.
"Aku menerimanya Nathan, kalau kamu benar - benar ingin masuk ke agamaku maka aku akan menuntun kamu pelan - pelan." Ujar Syifa.
"Doakan saja Syif, aku akan coba pelan - pelan masuk ke agama kamu." Jonathan pun mengatakan hal tersebut.
"Apa alasan kamu menembak aku?" Syifa pun menanyakan hal itu
"Karena kamu berbeda dari cewek pada umumnya, justru yang berbeda agama toleransinya lebih tinggi." Alasan Nathan memilih Syifa dijadikan pacar.
"Seandainya kamu pindah agama ke aku, bagaimana dengan orangtua kamu? Apakah menerima? Maaf yah aku kasih pertanyaan begitu" ucap Syifa
"Tidak apa - apa Syif, hemm benar juga yah. Orangtuaku tidak setuju kalau aku pindah agama"
"Kalau mereka tidak bisa menerimanya maka perjuangkan agama kamu sendiri." Syifa memberitahunya
"Aku akan mencoba untuk hal itu Syifa, jika Tuhan di takdirkan aku menjadi jodohmu lantas apakah kamu akan menolak takdir dari Tuhan?" Nathan pun membalasnya.
Pada akhirnya, Syifa dan Jonathan resmi berpacaran. Tidak tahu keluarga mereka seperti apa, tapi mereka berdua akan saling mensupport dan mendukung satu sama lain.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua pun pulang Syifa diantar oleh Jonathan sampai di depan pintu dan sempat berkenalan dengan Abah dan Umi Syifa.
"Halo Abah dan Umi, perkenalkan saya Jonathan temannya Syifa di kampus. Kami berdua satu kelas, salam kenal om dan Tante." Jonathan pun mencium tangan Abah
"Kamu Jonathan? Salam kenal juga, terimakasih banyak nak Jonathan sudah mau menjadi sahabat anak saya." Abah pun menerima kehadiran Nathan di kehidupan keluarganya.
"Maafkan aku Abah, aku berbohong kepadamu bahwa Jonathan ini adalah pacar Syifa. Tapi Syifa yakin suatu saat nanti dia akan pindah keyakinan menjadi Islam." hati mungil Syifa bergumam
Syifa nampak menyesali karena sudah berbohong kepada Abah nya.
Pada waktu Jonathan pulang, Syifa lagi - lagi di suruh abahnya untuk mandi dan ganti bajunya.
Pada waktu selesai makan malam Syifa bergegas untuk ke kamar dikarenakan ada banyak tugas dari dosen, sontak Abah dan Umi pun tercengang melihat putri kesayangannya langsung pergi. Di pikirannya Abah pun menjadi - jadi, Abah mencoba untuk bertanya kepada istrinya dan beserta anak - anak yang lainnya.
"Umi dan anak - anak, ada yang tahu Syifa kenapa? Tiba - tiba saja dia menyelonong ke kamar nggak cuci piringnya. Ada gerangan apa yah?"
Anak yang nomer 1 dan 2 pun menjawabnya.
"Tidak tahu Abah, mungkin Syifa lagi kelelahan dan ada banyak tugas. Coba nanti Abah sama Umi ke kamarnya Syifa untuk bertanya kenapa dirinya langsung masuk kamar tanpa sepatah apapun?"
"Hiya juga yah, Syifa lagi ngerjain tugas sepertinya. Mungkin besok pada waktu sarapan Abah tanya ke Syifa dengan secara baik - baik,"
Sedangkan di kamarnya Syifa, Syifa memang lagi belajar dan mengerjakan pr dari para dosen yang berbeda. Dirinya terus memaksa untuk melek meskipun matanya sudah mengantuk sekali.
__ADS_1
Akan tetapi, akhirnya Syifa tidak kuat dan tahan lagi untuk mengerjakan tugas yang begitu banyak sekali. Syifa pun tertidur pulas yang berada masih duduk di kursi sambil mengerjakan tugas.
TO BE CONTINUED