
Hari Kamis 17 Januari 2015
Pada waktu pagi hari, sekitar pukul 07.00 WIB bergegas menuju ke kampus dengan menggunakan motor Scoopy warna merah.
Sesampainya di kampus dan memakirkan motornya, sudah di sambut Ayunda dan Jonathan sahabat sejati Syifa.
"Assalamualaikum Ayunda, udah lama nungguin aku?" Tanya Syifa
"Ouh nggak tuh, tadi aku sempat Wira Wiri kesana kemari bestie jadi nggak begitu menunggu." Jawab Ayunda
Mereka bertiga akhirnya pun ke kelas, sudah di sambut oleh teman - temannya. Kini teman - temannya sudah tidak membully Syifa lagi dan semuanya berteman baik.
Jonathan pun bertanya kepada Syifa atas kejadian kemarin sore.
"Syifa aku mau bertanya kepadamu." Jonathan memulai pembicaraannya.
"What? Nanti dulu Nathan, pada waktu istirahat pertama aja yaps."
"Okee deh kalau begitu," Nathan mengiyakannya.
Pada saat jam istirahat pertama Syifa, Jonathan dan Ayunda pergi ke kantin tempat langganan mereka. Jonathan pun memberikan pertanyaan kepada Syifa, sambil menunggu makanan datang
"Syifa, aku mau tanya ke kamu boleh?" Jonathan memulai pembicaraan
"Tanya aja Nathan mumpung aku ada disini."
"Jadi gini Syifa, orang tuamu termasuk Abah kamu marah yah kalau kita ini pacaran?"
"I-iya Nathan, Abah aku sudah tahu sejak kita deket tapi dia mulai memarahiku pada waktu kita berduaan."
"...."
Jonathan pun bertanya kembali soal hubungan mereka berdua.
"Syifa, kamu beneran kan suka sama aku?" Tanya Jonathan.
"Jelas aku suka sama kamu, buktinya kita udah sampai pacaran begini."
"Oh yah? Kalau kamu beneran suka sama aku luluhkan hati orangtuamu, maka kita akan hidup selamanya."
"Kamu gila kali yah? Kamu tidak sadar kah? Bahwa Tuhan kita berbeda."
"Huft! Aku merasakannya Syifa, setiap hari aku merasakan hal itu. Memang kita tidak bisa di takdirkan bersama Syif, akan tetapi kamu tidak berusaha untuk merestui hubungan kita berdua?"
"Sebenarnya aku mau Nat hubungan kita direstui kedua orangtua masing - masing, dan aku mau bilang kepada dirimu."
"Ada apa? Mau menginformasikan apa?" Nathan bertanya - tanya.
__ADS_1
Syifa pun menghela nafasnya.
"Jadi gini Nathan, semenjak kita ketahuan sama kedua orangtuaku. Orangtuaku semakin tidak yakin tentang kita berdua, dan aku disuruh orangtuaku untuk putus dengan dirimu. Aku bingung, di sisi lain Abah aku akan menjodohkan aku dengan seorang Ikhwan yang berasal dari keluarganya Abah. Aku harap kamu bisa mengerti Nathan," Syifa menunduk menahan Isak tangis dan menahan sakit hatinya.
"Ha? Kamu di jodohkan sama seorang Ikhwan? Kamu terima begitu saja? Apa kamu nggak sayang sama aku Syif? Aku belum siap kehilangan kamu, orangnya seperti apa?"
"Kata Abah, hari Minggu Ikhwan datang ke rumah bersama orangtuanya, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Kita tidak bisa di satukan dalam keadaan berbeda iman,"
"Ahh shitt! Aku akan mencoba minta restu orangtuamu dan aku yakin bisa membahagiakan kamu Syif."
"NATHAN! Please jangan bertindak bodoh seperti itu Abah aku marah - marah jika kamu memaksa untuk hidup bersamaku, kamu coba minta restu sama orangtua kamu sendiri apakah diperbolehkan atau tidak? Jika iya, maka kamu akan mengikuti agamaku. Jika tidak, maka akhiri hubungan kita ini Nat," Syifa pun mencoba untuk menahan amarah Jonathan
"I'm sorry Syifa, aku terbawa emosi aku takut kehilangan kamu. Aku tidak tahu lagi dan pasrah, Tuhan kenapa memberikan aku wanita yang begitu sangat baik namun berbeda keyakinan dengan diriku ini."
"No problem Nat, kamu pikirkan baik - baik yah enaknya gimana. Aku takutnya kamu terluka dan aku juga terluka,"
Pada waktu pulang dari kampus, Nathan mau mengantar pulang Syifa tapi menolak takut ketahuan Abahnya akhirnya Syifa pulang naik gojek.
Sesampainya di rumah, Abah sudah menunggu Syifa di depan pintu dengan wajah biasa aja.
"Assalamualaikum Abah, Syifa pulang."
Syifa pun mencium tangan Abah
"Wa'alaikumsalam nak, kamu naik apa tadi?"
"Naik gojek Abah, udah lama Syifa nggak naik gojek." Sahut Syifa
"Abah, sudah cukup! Syifa butuh waktu buat putus sama Nathan."
"Ya sudah, silahkan istirahat dulu Abah tahu kamu masih kesal sama Abah. Maafkan Abah ya nak, Abah nggak suka aja gitu kalau kamu Deket sama Jonathan,"
Sesampainya di kamarnya Syifa, ia merebahkan tubuhnya yang masih memakai baju kampus.
"Huaaaa...."
Tiba - tiba Umi masuk ke kamar Syifa, dan melihat Syifa menangis.
"Nak, kamu kenapa sayang? Cup cup anak Umi. Ada masalah apa? Sini curhat sama umi,"
"Umi, Syifa galau dan bimbang sekali. Syifa bingung sekali sama hubungan Syifa sama Nathan, Abah nggak suka kalau aku Deket sama Nathan. Aku mau putus sama Nathan susah banget umi, banyak kenangan sama Nathan. Aku harus bagaimana umi soal begini hiks,"
"Nak, hey! Hapus air mata kamu sayang, memang ini sungguh berat buat menjalani semuanya. Coba kamu WhatsApp Nathan, selesain dengan kepala dingin enaknya bagaimana. Kamu harus coba ikhlasin dia nak, dia udah tidak seiman sama kita dan bagaimana nanti dengan keturunan kamu nak. Kalau nikah harus ada bibit bebet dan bobot, dan juga harus seiman dengan kita nak. Kamu paham kan sekarang?"
"Paham umi, aku udah coba jelaskan ke dia tadi di kampus dia bersikeras untuk hidup bersama dia dan dia juga maksa abah untuk di restui hubunganku sama Nathan umi. Aku tidak tahu lagi harus jawab apaan, kemungkinan di rumah Nathan. Ia juga memohon kepada ayah dan ibunya untuk merestui hubunganku sama Nathan,"
"Iya nak umi tahu sayang, jalan terbaik adalah berpisah nak daripada nyiksa fisik, mental dan bathin kamu nak. Umi kasihan sama kamu,"
__ADS_1
"Insyaallah umi, aku akan coba untuk ikhlasin dia. Sulit banget tapi,"
"Bismillah, pelan - pelan melupakan dia dan kamu lebih dekat lagi sama Allah ya nak minta petunjuk."
"Makasih ya umi, mau tanya yang Ikhwan anak dari temannya Abah itu namanya siapa? Pengen tahu aja."
"Muhammad Hafidz Pratama ia lulusan pondok nak di daerah Bogor Jawa barat. Dia orangnya Sholeh, baik hati tidak sombong cuman sama perempuan cuek karena tahu batasan di pondok nggak boleh bertemu dengan perempuan."
"Anaknya yang mana ya umi? Syifa ingin lihat dong."
"Boleh nak, bentar tak cari dulu."
"Ini nak, namanya Muhammad Hafidz Pratama. Gimana menurut kamu?"
"Masyaallah umi, kalau kayak gini kan ya Syifa mau."
"Ya udah kalau kek gitu, hari Ahad kamu dandan yang cantik yah dia datang bersama kedua orangtuanya. Kamu coba bicara pelan - pelan sama Jonathan yah,"
"Baik umi, Syifa akan bicara sama Jonathan pacar aku. Maafkan aku ya umi udah berbuat dosa kepada umi dan Abi,"
"Nggak apa - apa nak, umi tahu ko nak jangan bersedih lagi yah. Umi udah masakin kesukaan kamu,"
"Apaan umi?"
"Nasi goreng spesial khusus buat Syifa anak umi dan Abi."
Akhirnya Syifa punĀ turun untuk makan malam, Abah dan Syifa nampak diam satu sama lain.
Setelah makan malam, Syifa lanjut ke atas untuk mengerjakan tugas kuliahnya hingga larut malam.
Disisi lain, Jonathan untuk mencoba bertanya kepada orang tuanya Mami dan Papi.
"Mami, Papi Jonathan boleh bertanya?"
"Silahkan nak, kamu mau bertanya apa?"
"Jadi gini Mami dan Papi, Nathan sedang suka sama seorang wanita muslim dan Nathan sudah pacaran gitu tapi Nathan bingung ternyata dia di jodohkan sama seorang laki laki yang seagama sama dia. Nathan harus bagaimana yah apakah lanjut atau tidak yah?"
"Ya gimana, kamu pacaran sama orang muslim itu boleh asalkan kamu tidak mengajak dia kedalam agama kita. Kalau dia sudah dijodohkan sama orang lain ya sudah nak lupakan dia dan kamu jangan egois untuk bisa bersama dia,"
"Ya sudah kalau begitu Mami dan Papi."
Di dalam hatinya Jonathan ber gumam.
"Ah ****! Bener apa yang di katakan orangtuaku, sebenarnya boleh suka sama yang beda agama. Akan tetapi aku tidak boleh mengajak dia mengikuti agama aku begitupun sebaliknya, aku harus bagaimana? Bicara baik - baik sama Syifa untuk mengakhiri hubungan ini, Syifa akan menerima keadaan ini."
Tanpa di sengaja, air matanya Jonathan menetes di pipinya. Hati Jonathan pun hancur - sehancurnya, dirinya tidak ikhlas untuk putus dengan Syifa. Tuhan kenapa memberikan seorang wanita yang jauh berbeda keimanan aku dengan dirinya.
__ADS_1
Jonathan pun tidak berdaya dan tidak nafsu makan untuk akan hal seperti ini, memang Jonathan tergila - gila terhadap Syifa. Sebelumnya aja dia bisa mengontrol emosi dan egois dia, tapi sekarang dirinya tidak bisa mengontrol emosi dan egoisnya seakan - akan dirinya ingin menahan Syifa agar tidak putus begitu saja. Mau gimana lagi Tuhan sudah merencanakan semuanya.
TO BE CONTINUED