
Pada waktu Ahad pagi tanggal 20 Januari, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB.
Keluarga ananda Muhammad Hafidz Pratama, akan datang berkunjung kediaman Abah untuk silaturahim sekaligus menjodohkan anaknya Hafidz dengan Syifa.
Sebelumnya Abahnya Syifa dan bapaknya Hafidz saling mengabarkan lewat WhatsApp.
"Assalamualaikum Faiz, apa kabar kamu?"
"Alhamdulillah baik Rizal, hari Ahad kami sekeluarga mau silaturahim ke rumah antum Faiz. antum ada kah?"
"Masyaallah Tabarakallah, insyaallah ana dan sekeluarga ada di rumah silahkan datang ke mari temanku."
Kemudian mereka pun mengakhiri obrolan di WhatsApp, teman Abah satu kampus dengan Abah di Kairo Mesir terdahulu.
15 menit kemudian, keluarga bapak Faiz pun datang beserta keluarganya. Muhammad Hafidz Pratama ikut ke sana, Abah, Syifa, Umi, Abang dan adek ikut menyalami mereka semua. Keluarga besar Syifa juga ikut hadir.
"Wahh, ahlan wasalan sahabatku. Mari masuk, oh ini calon menantuku masyaallah Sholeh bener menundukkan kepalanya."
"Terimakasih banyak pak Rizal dan sekeluarga atas ramah tamahnya,"
Keluarga pak Faiz pun memasuki rumah bapak Rizal, semuanya pun sudah siap untuk silaturahim sekalian mau meminang Muhammad Hafidz Pratama dengan Syifa Kumalasari.
Acara begitu lancar, calon menantu Abah senang bisa di terima pinangannya. Hafidz pun mendekati Syifa dan bermaksud tujuan ingin berkenalan dengan Syifa.
"Assalamualaikum Syifa."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, ada apa yah?"
Mereka masih saling menundukkan pandangannya, masih malu - malu kucing.
1 jam kemudian, setelah acara silaturahim berlangsung. Keluarga bapak Faiz pun pulang kembali ke asalnya, keluarganya berasal dari Aceh sedangkan keluarganya Syifa berasal dari Jakarta Selatan.
LDR antara Aceh dan Jakarta Selatan tidak menghalangi untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, Umi Syifa bertanya mengenai perjodohan ini.
"Bagaimana nak? Kamu udah lihat wajahnya dia?"
"Belum Umi, dia nunduk terus kalau mau berbicara sama aku."
"Masyaallah, berarti dia menjaga pandangan biar dia tidak mendapat dosa."
Syifa masih tersipu malu, dan dia menceritakan hal ini kepada Ayunda sahabatnya. Pasti Ayunda senang melihat sahabatnya yang sebentar lagi menikah, rasanya campur aduk.
"Wah apaan tuh?"
"Alhamdulillah, aku sudah di pinang sama Hafidz Pratama yang aku di jodohkan sama dia itu loh."
"Wah, selamat yahh bestie lancar sampai hari H. Jangan lupa aku di undang,"
"Tenang aja, kamu jadi bresmaid aku di hari pernikahanku nanti."
Mereka pun asyik mengobrol beberapa banyak hal, sehingga waktu menunjukkan pukul jam 12 siang.
__ADS_1
"Sudah dulu ya, aku mau sholat Dzuhur. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Syifa, ya udah aku lagi halangan soalnya."
Akhirnya telepon mereka pun sudah terputus.
"Umi, aku nikahnya kapan?"
Abang jahil ke Syifa, sebagai mana kaka adek.
"Etdahh, kamu tanya begituan? Mau ngapain sih kamu?"
"Kepo amat dah lu bang."
"Idih!"
Untung saja ada Umi, melerai mereka berdua yang sedang bertengkar. Syifa dan abangnya pun berhenti dan saling memaafkan satu sama lain.
Keluarga pak Faiz sudah sampai di Aceh Langsa, bapaknya Hafidz Pratama langsung mengabarkan sahabatnya pak Rizal orangtuanya Syifa.
Pada waktu malam hari sekitar pukul 20.00 Abah, Umi, Abang, Syifa dan adek pun makan malam di meja makan yang terletak tidak jauh dari dapur. Lagi asyik - asyiknya makan malam tiba - tiba saja ada yang melempar sebuah batu yang berukuran cukup besar, sehingga kaca pecah dan serpihan kaca berserakan di lantai.
"Astaghfirullah, ulah perbuatan siapa ini? Ada yang kirim beginian di tempat rumahku."
Syifa nampak kesal begitu juga dengan keluarganya, seketika mereka berlima tidak bisa tidur nyenyak. Mereka tidur secara bergantian, masih takut dan was - was takut nanti ada yang kirimin bangkai ini.
__ADS_1
TO BE CONTINUED