
Beby juga ikut membalas senyuman momynya, dan terlihat bahwa gadis kecil itu juga sangat merasa bahagia untuk meminta sesuatu pada saat hari ulang tahunnya nanti sebagai kado spesial dari sang momy.
"Kalau begitu aku ingin papa baru! Bisakah momy memberikannya nanti pada saat ulang tahunku? Jika momy bisa aku pasti akan merasa sangat senang sekali." jawab Beby dengan entengnya.
"Tidak bisa!" jawab Puja dengan cepat.
Baru saja tadinya gadis kecil itu memiliki harapan, namun kini momynya sudah menghancurkan harapan itu dengan sangat singkat.
"Kenapa momy tidak bisa? Aku hanya menginginkan agar momy mau menikah lagi dengan om tampan. Momy sangat jahat! Padahal tadi momy yang menyuruh ku untuk meminta sesuatu pada hari ulang tahunku. Tapi momy malah tidak ingin mengabulkan nya." ucap Beby berbicara dengan menahan tangis karena begitu sangat kecewa dengan Puja.
Gadis kecil itu memilih untuk segera keluar dari dalam kamar dan bergegas menghampiri Andra.
"Suster!!!" panggilnya dengan terisak sambil terus berlari hingga akhirnya Beby menemukan Andra di dalam kamar wanita itu.
"Ada apa Beby? Kenapa kamu menangis? Apa momy memarahimu?" tanya Andra merasa sangat panik, ketika melihat Beby yang menangis dengan sangat histeris.
Biasanya gadis kecil itu tidak pernah sampai seperti ini jika menangis. Namun sekarang tangisan nya terasa begitu sangat menyakitkan, sehingga membuat Andra merasa tidak tega dan mencoba untuk mendiamkan anak asuhnya tersebut.
"Beby jangan meminta yang aneh-aneh! Momy tidak ingin menikah dengan siapapun, jadi lebih baik simpan harapan mu itu agar tidak menjodohkan momy lagi dengan om tampan mu itu. Kau tidak tau saja bagaimana sifat seorang laki-laki, mereka sangat jahat." bentak Puja yang tiba-tiba saja datang dan tengah berdiri tepat di depan pintu kamar Andra.
"Tapi om tampan itu baik! Dan momy tidak tau." jawab Beby dengan cepat, masih dengan di iringi oleh tangis yang masih belum terhenti.
__ADS_1
"Diam! Dan jangan menjawab, kau masih kecil, dan belum mengerti apa-apa Beby. Apalagi mengenai tentang orang dewasa!" sahut Puja berbicara dengan nada yang tinggi. Sehingga membuat anaknya langsung terkejut.
Kali ini bukannya bertambah diam, namun Beby malah semangkin mengeraskan suaranya dan menangis sampai sejadi-jadinya.
Membuat Puja langsung menjadi panik sendiri, dan berpikir apakah ia sudah sangat keterlaluan?
"Nona ku mohon pergilah terlebih dahulu, agar aku bisa menenangkan Beby sebentar."
Sehingga mau tak mau Puja pun akhirnya segera keluar dari dalam kamar Andra. Membiarkan agar anaknya bersama sang suster saja.
Wanita itu kini tengah duduk di meja makan, dan berdiam diri cukup lama disana. Hingga pada akhirnya Andra datang menyusul setelah selesai menidurkan Beby.
"Nona, ku harap anda tidak terlalu bersikap kasar terhadap Beby! Dia masih sangat kecil nona untuk anda bentak-bentak seperti tadi." ucap Andra memberikan nasehat, karena merasa takut jika seandainya nanti Beby akan merasa trauma dan tidak ingin mendekatkan diri lagi kepada momynya sendiri. Dan malah menjauh, sehingga ikatan antara ibu dan anak itu menjadi tidak baik-baik saja.
Wanita itu benar-benar merasa prustasi, dan langsung mengusap wajahnya akibat terlalu kelelahan. Sudah lelah bekerja, dan seharusnya saat ini ia sudah beristirahat dan tidur dengan nyenyak. Namun sekarang dia sama sekali tidak bisa tidur, dan membuat pikirannya menjadi stres karena permintaan dari putrinya itu.
"Nona sepertinya Beby sangat membutuhkan seorang ayah! Maklum di usianya yang masih sangat dini, dia pasti begitu membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Namun sayangnya kedua orang tuanya tidak lengkap, dan nona tidak terlalu memperhatikan kehidupannya. Apa nona sadar jika selama ini anda selalu sibuk bekerja, dan keseharian Beby lebih banyak di habiskan denganku?" tanya Andra, sehingga membuat Puja langsung terdiam seribu kata.
Semua itu memang benar! Terbukti jika anaknya lebih dekat dengan Andra di bandingkan dengan dirinya sendiri yang merupakan ibu kandunganya.
Tapi mau bagaimana lagi, semua itu terjadi sudah sejak lama. Dan Puja memang sudah terbiasa untuk bekerja, bahkan sejak Beby masih di dalam kandungnya.
__ADS_1
Untuk menghilangkan kebiasan itu tentu akan sangat sulit. Lagi pula akan tidak mungkin jika ia meninggalkan begitu saja perusahan yang sudah sejak lama ia rintis dan ia bangun dengan menggunakan perjuangan yang sangat panjang.
"Lalu apa saranmu?" tanya Puja akhirnya bertanya kepada Andra.
"Saya rasa anda harus segera menikah! Tidak perlu dengan Rio, dengan siapapun asalkan Beby bisa segera memiliki ayah." jawab wanita itu.
Spontan Puja langsung di buat terkejut, dan beralih memandang ke arah Andra dengan tatapan yang sulit di mengerti.
"Apa katamu? Kau menyuruhku untuk menikah? Aku tidak bisa, karena sejak awal aku sudah bertekad untuk tidak menikah selama seumur hidupku." tolak Puja berterus terang.
Dari awal ia memang tidak berniat untuk membuka hati lagi kepada siapapun. Apalagi sampai terikat oleh sebuah pernikahan.
"Tapi nona anda tidak boleh egois, karena Beby sangat menginginkan sesosok ayah. Jika anda tidak mau maka terimalah resikonya, karena Beby pasti akan terus menjodohkan nona dengan Rio. Nona lebih memilih yang mana sekarang? Menikah dengan Rio? Atau nona menikah dengan pria lain?" tanya Andra dengan bersungguh-sungguh.
Ia sungguh merasa prustasi karena sang majikan begitu sangat egois dan lebih mementingkan diri sendiri dari pada putrinya yang kini sangat merindukan sesosok ayah.
"Cobalah untuk move on dan membuka hati anda kepada lelaki lain. Jika anda tidak ingin bersama kembali dengan ayah biologisnya Beby." sambung Andra lagi, sehingga membuat Puja langsung berdiri dari duduknya ketika mendengarkan pernyataan yang keluar dari mulut Andra.
"Aku sudah move on Andra! Dan kau tidak perlu ikut campur tentang perihal itu. Tanpa kau beri nasehat bahkan aku pun sudah tau. Tapi rasa trauma ku yang tidak pernah menginginkan sebuah hubungan bersama lawan jenis. Jadi aku berharap semoga saja Beby bisa terbiasa meskipun tanpa adanya seorang ayah. Kau tau, selama bertahun-tahun dia tidak pernah menutut tentang adanya seorang ayah. Tapi semenjak pertemuan antara Beby dengan Rio membuat anak ku semangkin menjadi liar, dan kehilangan kendali seperti sekarang." jawab Puja dengan begitu lantangnya.
"Dan apa anda tidak sadar, karena pertemuan tak sengaja di antara ayah dan anak itu. Membuat Beby menjadi nyaman dengan kehadiran Rio dan mengharapkan Rio sebagai ayahnya. Bukan karena liar atau apapun! Beby hanya ingin menunjukan bahwa dirinya menyukai dan menginginkan sesosok ayah seperti Rio." kata Andra memberikan sebuah argumen, dengan harapan agar Puja bisa menjadi sadar.
__ADS_1
Puja ingin kembali menjawab, dan dengan cepat langsung di potong oleh Andra.