
Pertemuan kedua telah terjadi! Tentu Riskah tidak akan pernah mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dan langsung menarik tangan Puja untuk di bawa masuk ke dalam mobilnya.
"Nona-nona buka pintunya!" teriak sopir tersebut yang terus-terusan menggedor kaca mobilnya. Sehingga membuat Riskah menjadi pusing karena suara berisik yang di timbulkan karena gedoran itu.
Terpaksa dia kembali membuka kaca mobilnya, dan menatap tajam ke arah sopir tersebut.
"Ada apa? Bisa tidak jangan menganggu?" pinta Riskah.
"Tapi anda sudah menculik nona saya!" protes sang sopir.
"Heh! Dia itu adik saya, asal kamu tau saya juga anaknya Tuan Anwar!" Setelah mengatakan kalimat tersebut Riskah langsung saja menjalankan mobilnya.
Tidak peduli lagi dengan sopir itu, dan mobilnya kini sudah bergabung dengan kendaraan lain melintasi jalan ibu kota.
Sementara Puja hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Riskah! Karena sekarang handphonenya tengah di tahan oleh wanita itu. Entah kemana perginya benda pipih itu, dan dia sendiri pun tidak tau dimana Riskah sedang menyembunyikan handphonenya.
Bukan hanphonenya yang penting! Tapi kontak dan nomor-nomor yang tersimpan di handphone itulah yang sangat penting dan berharga.
Di sepanjang perjalanan kakak beradik itu saling diam, dan tidak bersuara sama sekali.
Puja tengah asyik dengan dunianya sendiri, sementara Riskah sedang fokus menyetir mobilnya.
"Dimana keponakan ku? Siapa namanya?" tanya Riskah mencoba untuk mencairkan suasana. Namun karena Puja hanya diam saja, dan tidak ada sama sekali jawaban dari mulut wanita itu. Membuat Riskah menjadi malu sendiri.
"Oh iya, namanya Beby kalau tidak salah! Ayah yang memberitahukan ku." Hingga pada akhirnya dia sendiri yang menjawab pertanyaannya.
"Kau sudah tau tapi masih bertanya padaku!" ujar Puja merasa sangat jenuh dengan ulah kakaknya itu, dan hanya bisa memutar bola mata malas.
Sementara Riskah hanya tertawa garing ketika mendengar penuturan dari adiknya tersebut.
Singkat Cerita!
Ternyata Riskah ingin membawa Puja ke sebuah Restoran. Padahal tadinya wanita itu sudah makan pada saat sedang kencan bersama Darren.
Tapi entah mengapa Riskah malah ingin makan kembali, tidak peduli meskipun perutnya sudah menjadi besar seperti orang hamil.
Melihat akan hal itu sampai-sampai membuat Puja langsung menggelengkan kepalanya.
"Kau itu lapar atau rakus?" tanya Puja dengan memandang ke arah sepiring ayam goreng yang tengah di santap oleh Riskah.
__ADS_1
Padahal tadinya wanita itu sudah memakan sepiring nasi goreng spesial dengan porsi yang besar. Tetapi kini Riskah seperti tidak ada kenyangnya, dan masih memesan lagi 1 buah piring ayam goreng, lengkap dengan kentangnya.
"Aku memang rakus, sekaligus lapar!" jawab Riskah sambil terus mengunyah ayam goreng tersebut.
"Baguslah jika kau sadar!" sahut Puja dengan cuek.
Setelah selesai menghabiskan waktu berkulineran bersama. Akhirnya Puja sudah bersiap ingin segera pergi, namun sebelum itu tentu ia tak akan melupakan tentang handphonenya.
"Mana handphoneku?" pinta Puja sembari mengulurkan tangan meminta ke arah Riskah.
"Oh iya aku lupa!" Riskah spontan langsung menepuk jidatnya sendiri.
Tapi sebelum itu dia teringat akan sesuatu dan tidak jadi mengembalikan handphone milik Puja.
Melihat gelagat aneh tersebut, membuat Puja sendiri langsung curiga.
"Ada apa lagi? Ayo cepat kembalikan!" perintah Puja dengan sedikit memaksa.
Karena hari sudah mulai sore, tentu dia tidak akan bisa berlama-lama lagi disini. Dan harus segera kembali ke hotel.
"Aku tidak akan mengembalikannya. Ikutlah denganku pulang ke rumah Mom! Dia sangat merindukanmu, dan ingin melihat Beby!" ucap Riskah yang tiba-tiba saja memikirkan tentang Jenny.
"Aku tidak bisa!" balas wanita itu dengan cepat.
Spontan membuat Riskah langsung tidak terima. "Kenapa? Kenapa kau tidak mau bertemu dengan mom? Dia sedang sakit-sakitan karena merindukan mu! Tolong temui dia meskipun sebentar saja." pinta Riskah, dengan nada bicara yang lumayan cukup tinggi, akibat sudah terlanjur kesal karena Puja sudah menolak permintaannya.
Terlihat kini Puja sedang menarik nafas dalam. Dan sudah bersiap ingin menjawab!
Namun tiba-tiba saja!
Terdengar suara getaran yang begitu sangat jelas dari tepat arah depannya, membuat Puja langsung melotot karena terkejut. Di tambah lagi ketika melihat sang kakak yang langsung memegangi kedua b*ah dadanya, sambil menjerit pelan seperti orang yang sedang di gelitiki.
"Aw, aw, awww!!" Dari tadi Riskah terus saja bergeliat kesana kemari, sudah seperti layaknya cacing kepanasan.
Sehingga membuat Puja pun sampai panik, karena takut jika wanita itu kenapa-napa.
"Kak kau kenapa?" tanya Puja, namun tak di pedulikan oleh Riskah.
Karena sejak tadi hingga kini Riskah masih terus-terusan seperti itu. Sudah sama seperti orang gila yang ada di jalan-jalan sana.
__ADS_1
"Riskah aku serius! Tolong jawab pertanyaanku, kau ini kenapa?" tanya Puja d3ngan bersungguh-sungguh. Akibat sudah sangat kesal di abaikan.
Hingga pada akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk menyingkirkan kedua tangan Riskah yang saat ini sedang menutupi kedua bu*h dada wanita itu sendiri, untuk memastikan apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Dan betapa terkejutnya Puja ketika melihat sesuatu benda berbentuk persegi panjang yang terlihat jelas meskipun benda itu berada di dalam baju kakaknya.
Puja langsung mengambilnya, dan ternyata itu adalah handphone miliknya yang tadi sempat di sembunyikan oleh Riskah.
Pantas saja Puja tidak melihat keberadaannya, dan ternyata Riskah menyembunyikan handphone milik adiknya di dalam bra nya sendiri agar tidak ketahuan oleh Puja.
Dan bodohnya lagi Puja pun tak menyadari akan hal itu, karena memang dia tidak terlalu memperhatikan bagian kedua bu*h dada kakaknya.
Sungguh rasanya benar-benar tak habis pikir dengan apa yang telah di lakukan oleh Riskah. Dan Puja langsung mengangkat telpon dari Andra, karena ternyata suara getaran itu merupakan berasal dari handponenya yang memiliki riwayat panggilan masuk.
"Hallo!" ucap Puja.
Sementara Riskah hanya bisa menatap kesal ke arah adiknya, sambil melipat kedua tangannya di dada.
Tak lama kemudian, panggilan sudah di akhiri.
"Kau lihat! Anakku sedang mencariku di hotel, dan aku harus segera pulang! Jika tidak dia akan menangis dan marah padaku." bohong Puja secara sengaja. Agar dirinya bisa memiliki alasan untuk segera pulang ke hotel.
Padahal Andra menelponnya karena wanita itu ingin menitip sebuah jajanan bakso kepada Puja. Mungkin karena Andra sangat malas keluar dari hotel, jadi tidak ada salahnya menitip pesanan karena kebetulan sang nona juga sedang pergi keluar.
"Jadi kapan kau akan kembali ke Malaysia?" tanya Riskah.
"Aku tidak akan kembali, jadi jangan cemas! Kapan-kapan aku pasti akan menemui ibu." balas Puja dengan cepat.
Andra langsung mengangguk karena tidak bisa menahan Puja lebih lama lagi. Sementara handphone milik adiknya yang sempat ia tahan sudah kembali ke tangan pemiliknya.
Jadi sudah tidak ada cara lagi untuk membuat Puja agar wanita itu mau ikut dengannya pergi untuk menemui Jenny.
Riskah hanya bisa melepas kepergian sang adik dengan tatapan nanar dan juga senyuman yang getir. Ketika melihat Puja yang kini sudah masuk ke dalam mobil, karena tak lama kemudian sang sopir sudah datang untuk menjemput nonanya.
Begitu sangat cepat, hingga pada akhirnya Puja sudah kembali pergi meninggalkannya.
Riskah benar-benar tidak yakin, dan sangat tidak berharap jika adiknya itu akan mau datang menemui nya lagi ataupun menemui ibunya.
Biarlah asalkan dirinya sudah melihat bahwa keadaan adiknya terlihat begitu sehat dan bahagia. Yang terpenting kini rasa rindunya sudah terobati meskipun belum sepenuhnya!
__ADS_1