
Disebuah gedung yang terlihat angker, serta disekelilingi oleh Rumput yang liar, yang hampir saja menutupi sebagai gedung tersebut. Dari tempat pun seperti di hutan yang letaknya di tengah tengah pulau kecil.
Saat di dalam gedung ada sebuah tempat atau ruangan yang sangat gelap minim cahaya matahari, dan terlihat ada 2 orang anak kecil perempuan yang sedang terikat mereka berdua dibiarkan duduk dilantai dan kedua kaki dan tangannya diikat oleh tali, mulutnya tidak tutup.
Ya mereka adalaha Tasya dan Thalia saat ini sedang tak sadarkan diri, sementara di luar ada seorang pria dewasa umurnya hampir sama dengan Nalendra dia sedang duduk santai sambil minum Bir dengan merk mahalnya dengan tertawa lebar ia seperti mendapatkan hadiah saja terlihat begitu senang dan merasa puas
"Hahahaha akhirnya aku telah menculik kedua anak ini hahahaha". tawa pria itu sambil meminum bir
Sementara Di mansion Alex
Regina tak henti hentinya menangis
"Hiks hiks hiks, thalia tasya kalian dimana nak".
Semua ikut merasakan apa yang Regina rasakan, bahkan Nay dan Pak budi sudah berada di kediaman Alex, Bapak Budi berusaha untuk menenangkan putri bungsunya dengan mengusap pelan punggung Gina
"Sudah nak kita berdoa saja ya agar Tasya sama Thalia bisa ketemu". lembut Pak Budi mencoba menenangkan sang anak, sementara Regina di responnya masih dengan tangisannya pikirannya tak bisa dicerna yang ia pikirkan adalah kedua putrinya. Ibu mana yang tak tega jika anak anaknya yang dilahirkan tiba tiba diculik dan pastinya seorang ibu pasti tidak akan pernah berhenti memikirkan mereka.
"Bapak hiks hiks Gina harus gimana cari kemana". rengek Gina pada pak Budi
Sementara pak Budi mengatakan dengan kelembutannya
"Kan suamimu beserta lainnya ikut mencari mereka nak, ya jangan menangis nak". Pak budi yang berusaha membujuk Regina supaya tidak bersedih, Pak budi dapat merasakan karena kejadian ini terjadi pada dirinya kala itu Pak Budi kehilangan Regina
"Nay".
"Ya momy".
"Tolong antarkan Momy ke kamar, Momy tak sanggup jalannya, Momy lemes".
"Mom tenang ada Nay yang jagain Momy".
"Kamu memang putri Momy".
Momy Shalsa sudah menganggap Nay menjadi anaknya karena dirinya tidak mempunyai anak perempuan sementara Nay tentu sangat senang karena dirinya tidak memiliki seorang ibu. Tentu pak Budi ikut senang mendengarnya karena Momy Shalsa dan Tuan Alex sudah menjadikan sebagai adik adiknya.
"Mm Bang Budi saya ke kamar ya". Shalsa pada Pak Budi
Pak budi tersenyum tulus kemudian berkata
"Ya yang sabar ya berdoa saja yang terpenting pada cucu putri kira semua". ucap Pak Budi, kemudian Shalsa pun meninggalkan mereka berdua dan di damping oleh Nayra
...****************...
Kini Nalendra sedang berada di jet pribadi bersama Aex dan kedua anaknya beserta pengawal.
Reynanda saat ini ia memandang ke arah Jendela, ia sangat terpukul apa yang terjadi saat ini. Tak percaya saat ini dia masih merasakan suasana di atas panggung saat kemaren konser dengan kedua adiknya dan abangnya. Masih hangat mereka bereempat tampil bersama bahkan sempat sempatnya jahil pada adik bungsunya namun semua sirna saat mereka turun dan semua menjadi kacau seketika, yang tadinya mereka merasakan kebahagian namun mereka juga merasakan kesedihan dan itu terjadi dalam 1 hari 1 tempat.
Rey termerenung saat ini ia masih saja memikirkan kejadian malam itu yang begitu cepat
"Baru aja kemarin kita nyanyi bersama ". Lirih Rey dengan tatapan sendunya
"sudah Rey kita fokus ke adikmu, kamu bawa kan laptop?, buka laptopnya cepat". desak Nalendra
"Eh i iya pah".
Laptop Rey terbuka untuk melacak Jam milik Tasya atau Thalia karena jam itu sudah di modifikasi ditanamkan gps. Rey melihat keberadaan mereka berdua menyerengitkan dahi nya karena merasa ini bukan di Indonesia dan Rey pun bertanya pada Ray sementara melihat itu ia melotot dan langsung teriak hal itu membuat semua mengalihkan pandangan pada Ray, Nalendra dan Alex langsung melihat laptopnya dengan raut wajah seriusnya
"Ka Ray ini ada dimana ya". tanya Rey
"hmm astaga Rey ini bukan lagi di indonesia tapi di luar negri". kejut Ray
"Haaa". Sontak Rey mulutnya menganga tak percaya kedua adiknya sudah di bawa pergi dengan sangat jauh
Nalendra dan Alex sungguh mereka saat ini tak bisa bicara lagi yang dipikiran mereka adalah bunuh
"Coba Ray kamu cek rekaman suaranya, bukannya di jam itu sudah Kalian tanamkan sebuah perekam suara ". dingin Nalendra pada mereka berdua, karena Nalendra kesal dengan kedua anaknya kenapa jadi lemot begitu, tapi ia tahan dan paham karena mereka juga panik jadi wajar mereka belum bisa mengontrol diri.
__ADS_1
"oh ya ampun aku hampir lupa pah coba Ray cek".
Saat itu Ray mengecek rekaman suara dan sangat jelas jika kedua adik perempuannya menangis membuat mereka semua khawatir dan juga kesal. Nalendra dan Alex seperti kenal dengan suara itu dan mereka berdua dengan lantang menyebut
"Sean". serentak Alex dan Nalendra
"Sean Brian Xavier bukankah itu paman sean sepupu papah". imbuh Ray pada kedua orang dewasa dengan raut wajah seriusnya
"Ya kau benar Ray". Dingin Nalendra dengan menyorot tatapan tajam mengeluarkan aura bunuhnya
"Seperti nya anak itu balas dendam padamu lendra". imbuh Alex, sementara Nalendra tersenyum sinis
"Hmmm kenapa harus putriku yang jadi korban kenapa bukan aku dasar triknya jadul banget". dingin Nalendra
"Lendra siapkan pasukan anak buah mu yang sama dengan Sean negara dia tempati sekarang ini". Alex
"ok baik kalau bisa mereka jadi anak buah gadungan Sean". Nalendra dengan diakhir senyum simrknya
"ok cepat telpon". desak Alex
Lalu Nalendra pun mencoba menelepon anak buah kepercayaannya yang berada di luar Negri tempat dimana Tasya dan Thalia di sandra oleh Sean yaitu sepupunya Nalendra alias anak dari tuan Axel yaitu adik kembar tuan Alex
"Haloo andre". Nalendra
"Ya tuan".
"Gua ada tugas buat lo ........"
"Baik tuan akan saya laksanakan".
"gua tutup".Nalendra sambil menutup telponnya dengan sepihak , lalu Alex pun segera menanyan
"gimana".
"Beres". dengan mantap Nalendra menjawab
"Kesayangan papah, tunggu papah jemput kalian sayang, papah akan menghukum orang itu yang berani membawa kalian dan jika kalian berdua disiksa oleh dia maka ayah akan menyiksa kembali pada orang itu dan memberi hukumana dengan setimpal tunggu papah opa dan kedua abangmu putri putri papah". gumam bathin Nalendra yang tanpa sadar air matanya jatuh di pipinya dan hal itu Alex melihatnya dan segera mengusap bahu Nalendra.
...****************...
Sementara di tempat lain
Kedua anak kecil perempuan sedang menangis
"hiks hiks hiks Mamah tasya takut". dengan tubuh Bergetar ingin memeluk saudarnya tapi mereka tak bisa karena sama sama diikat
"Kak Ray papah cepat kita ketakutan, aku udah memencet jam tapi kenapa mereka belum datang". bathin Thalia, karena ia tak ingin berteriak seperti adiknya yang ada membuat adiknya ketakutan Thalia tidak ingin hal itu terjadi Tasya.
Tiba tiba
Mereka berdua terkejut mendengar pintu yang tiba tiba di buka secara paksa dan alangkah terkejutnya lagi mendengar bentakan dari suara bass itu membuat sekujur tubuh Tasya bergetar dan Thalia bisa merasakan ketakutan Tasya ia semakin khawatir pada adiknya karena tau jika adiknya itu sangat lemah dan juga cengeng.
Brak
"berisik kalian". bentak laki laki itu
"o om a a ku i ingin pu pulang om". ucap terbata bata Tasya dengan suara bergetar, mendengar itu Laki laki itu tertawa jahat
"Apa? pulang? hahahha itu tidak mungkin terjadi, karena om akan menjual kalian". tawa jahat pria itu
"Jual?". serentak Tasya dan Thalia
"Oh kalian belum mengerti ya, nanti juga kalian bisa mengerti apa arti menjual kalian dan degarkan baik baik, om akan menjelaskan siapa papah kalian itu". pria itu dan langsung dijawab oleh Tasya
"Ya aku tau dia papah kandungku om". jawab Tasya hal itu membuat Thalia ingin tertawa keras mendengar jawaban Tasya tapi memang benar sih yang dikatakannya, tapi pikiran Thalia bukan ke arah itu yang bermaksud ke arah profesi, jika bukan hal itu mengapa menanyakan yang sudah jelas jelas sudah di pahami jika mereka berdua anak kandung Nalendra.(pahamkan maksud ceritanya hahaha)
"hahahah ya itu jelas lah kau ini, tapi bukan itu yang om maksud, tapi om akan memberitshukan jebenaran pekerjaan papah kalian, papah kalian itu orang penjahat dan dia seorang ketua Mafia dan juga sebagai psikopat". adu Pria itu, seolah ia membongkar profesi pekerjaan Nalendra dan berharap mereka takut mendengarnya namun keduanya malah terdiam dan bengong, Tasya yang awalnya takut namun sekarang mulai mereda dan bahkan dia yang selalu bersuara sementara Thalia hanya diam saja
__ADS_1
"Aku tau itu om". ucap lantang Tasya dengan raut wajah polosnya, mendengar itu Pria itu terkejut dan tak menyangka anak anak Nalendra mengetahui profesi ayahnya dengan secepat ini di usia dini.
"jadi kalian sudah tau?". Pria itu dengan raut wajah tak bisa diartikan
"ya sudah tau lah lagian abangku juga sama kaya papah". ucap Tasya
"Ya ya pokoknya gara gara papah kalian Papah om menghilang". kekeh pria itu
"Lah emang aku pikirin om, kan yang salah papah kenapa malah kita berdua yang kena sih". tasya
"berisik kalian pokoknya om tidak akan membiarkan keluarga kalian hidup bahagia".dingin pria itu Dengan raut wajah menyeramkan, Tasya sebenarnya takut tapi karena tasya tipikal orang yang hobi banyak bicara jadi tasya pun berbicara lagi yang membuat pria itu tak bisa menahan diri dan langsung mengeluarkan pistolnya dan langsung menembak ke arah langit langit membuat Tasya membukam mulutnya dengan tubuhnya menegang dan sedetik kemudian bergetar
"Om itu terlalu aneh, om itu serakah karena harta om hanya ingin merebut harta papah dan opa...". cecar tasya membuat Pria itu memainkan pistol lalu
dor
"jika kamu bicara lagi, maka peluru ini akan menebus kepala kalian berdua". bentak Pria itu dengan ancamannya
Karena mendengar bentakan dan tembak serta mendengar ancaman membuat Tasya kembali histeris dan menyebut papah seolah ia memanggil ayahnya untuk segera kemari
"huaaaaaaaaaa, om jahat pasti om bakalan di siksa sama papah huaaaaaa papahhhhhhhh". Teriak Tasya hingga Nalendra seperti telepati ia langsung menegang karena seperti mendengar suara Tasya memanggilnya
deg
"Tasya". lirih Nalendra dengan raut wajah pucatnya, kebetulan Rey saat ini berada di sebelah papahnya sementara opanya sedang bersama Abangnya dan mendengar Papahnya menyebut nama sang adik lalu melihat raut wajah pucat Nalendra membuat rey Khawatir
"Pah kenapa pah papah keliatan pucat sekali". khawatir Rey pada Nalendra
"Rey, kita sudah sampai mana sekarang papah gak bisa tenang Rey".
"Tenang pah bang Ray masih melacak keberadaan mereka dan masih sama lokasinya tidak berpindah tempat dan sepertinya kurang lebih 1 jam lagi kita sampai pah".
Mendengar akhir kalimat Rey membuat Nalendra semakin pucat dan mendesak ke Rey untuk mempercepat penerbangnya karena pikirannya terus tak tenang pada Tasya dan Thalia
"Apa 1jam apa gak bisa percepat saja penerbangannya papah khawatir Rey".
"Papah semua yang disini juga khawatir, termasuk Rey. Rey juga merasa sedih karena Tasya menghilang". dengan raut wajah sendunya mengingat kenangan bersama adik bungsunya yang selalu ia usil
"Oh, ya dady apa masih terhubung suaranya?". tanya Nalendra pada Alex
"Hmm tidak terhubung lagi, karena takutnya batre nya habis jika menyalakan terus coba kita nyalakan lagi kalau gitu"..
Saat Alex menyalakan rekam suara tersebut dan mereka mendengar bahwa Tasya memanggil papahnya.
"hikssss hikss papah dimana bang Ray bang Rey kenapa kalian lama sekali datangnya ". isak Tasya tentu saja semua yang berada di sekitar Nalendra sedih mendengar suara tangisan Tasya
"Hikss kami berdua takut, karena kami akan di jual oleh om sean". kini Thalia yang berbicara yang sama kondisinya dengan Tasya yang sudah tak tahan lagi ia menangis dengan histeris
"Anjingggggggg seannn kau beraninya melakukan itu pada putriku". umpat Nalendra dengan rahang sudah mengeras serta tangannya mengepal membuat jari jarinya memutih
"Cihhhh dasar kenapa mereka selalu mengusik keluarga Dady kenapa ada apa ini". frutasi Nalendra
"Axel kau memang kembaranku tapi hatinya penuh kedengkian serakah dan kini keserakahannya diturunkan pada anakmu". dingin Alex dengan sorot matanya mengeluarkan tatapan bunuh kemudian pandangannya mengalih pada kedua cucunya dan berkata dengan lembut
" Opa harap kalian berdua beserta kedua adik perempuan kalian harus akur ya jangan seperti Opa Axel".
Mendengar itu tentu saja mereka berdua paham dan bahkan keduanya tak ingin itu terjadi pada mereka berempat karena saat ini aja mereka berdua sudah merasa sedih khawatir memikirkan kedua adiknya apalagi dengan adanya konflik seperti terjadi antara Opa Alex dan opa Axel hal itu tidak akan terjadi pada mereka.
"Ya Opa kami berempat tidak akan sudi berbuat seperti itu karena bagi kita semua saudara itu adalah penguat bukan untuk saling berdebat dan juga bukan juga untuk saling membandingkan kekuasaan opa". jelas Rey pada opanya, Ray setuju mendengar itu
Sungguh Alex tertegun mendengar jawaban penjelasan dari cucunya membuat dirinya bersyukur mempunyai cucu cucu yang sifatnya seperti ibunya yaitu Regina yang tidak peduli dengan kekuasaan yang terpenting keluarga yang selalu harmonis tanpa adanya konflik dan lain lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
bersambung....
Makasih yang sudah setia membaca novelku maaf aku telat up nya hahaha karena kemaren kemaren aku lagi sakit gigi jadi mogok ngetik ceritanya
__ADS_1
dan maaf jika ceritanya berantakan dan gak sesuai alur dan juga maaf banyak typo akan ku perbaiki kembali
Kasih dukungan ya dan share ceritaku pada semua sosmed yang kalian punya jika kalian suka dengan novel ini