
Pada Malam hari Semua anggota Mafia Nalendra sedang berkumpul di markas. Mereka tidak mengetahui jika di balik ini semua itu ada campur tangan dari William yang membantu mereka.
William memang tidak turun tangan namun hanya anak buahnya saja.
Ya malam itu sangat mencekam sekali, banyak sekali anggota anggota dari kubu Nalendra dan juga musuhnya yang bertumpah darah
Namun mereka semua tidak ada yang tumpang pada waktu itu, namun tak disangkanya mereka di pada detik ini pasukan dari musuh Nalendra sudah mulai tumbang, dan itu berkat dari anak buahnya William
Sementara di tempat lain
Regina sedang terbangun dari tidurnya ia melihat jika Nalendra sedang fokus pada laptopnya dan Regina tak peduli hal itu ia pergi ke kamar mandi hal itu tak.luput dari pandangan Nalendra.
Nalendra terus saja melihat gerak gerik Regina saat Regina sudah masuk kedalam kamar mandi. Setelah itu ia pun segera bangkit menuju kamar mandi
Ceklek
"Abang napa ke sini Aku mau pipis".pekik Regina terkejut melihat suaminya masuk dengan wajah tengilnya
"Abanh ngintip doang sayang".ucap Nalendra namun matanya melihat ke arah segitiga
"Jangan nakal, pipis doang ".ancam Regina
"Toh sama istri sendiri, udah pipisnya?".balas Nalendra dengan matanya masih tak dialihkan, lalu ia menanyakan pada Regina, dan Regina menjawab
"Udah".dengan cepat Regina menjawab
"Sini biar abang yang ce bokin".titah Nalendra dengan maksud lain
Regina mendengar itu langsung melotot pada Nalendra
"Shhhh sana sana lagian aku udah gede, kamu kali nyari kesempatan".desis Regina
"Ayolah lah sayang".desak Nalejdra dengan wajah memelasnya
"Aaahhhkhhh ya udah ya udah deh".pasrah Regina
Nalendra seakan diberi lampu hijau dengan wajah berbinar seketika dengan semangat 45 ia bersorak
"Asyikkk uhuyyyy".seru Nalendra
Nalendra senang hati melakukannya, sementara Regina hanya pasrah dan menahan malu saat suaminya menyentuh area sensitifnya
Nalendra terus saja membasuh dengan lembut dan sesekali ia selalu memainkan milik Regina sehingga membuat Regina men des ah
"Abang udah ah, kamu ini nyari kesempatan aja".pekik Regina disertai dengan des ahan
"Sayang sekarang yuk!".rayu Nalendra yang sudah tak tahan lagi sepertinya ingin meminta sesuatu
"Apaan".desak Regina
__ADS_1
"Ini aku mau ini sayang(memegang area sensitif Regina), coba sini tangan kamu kamu pegang ini".ucap Nalendra sambil menarik tangan Regina kemudian ia arahkan dan tempelkan pada tongkatnya
"Ya ampun bang ini udah malam ah aku ngantuk".pekik Regina yang dapat merasakan keja ntanan suaminya yang sudah ber diri te gak, namun ia mencoba memberi pengertian pada suaminya namun sepertinya tidak mungkin
"Ya kamu tidur aja biar aku yang main".usul Nalendra dengan entengnya
Nalendra seakan lupa dengan pasukan mafianya, karena nafsunya bersama istrinya sangat kuat. Dengan berat hati Regina pun mengangguk pelan, dan dimalam itu pun mereka melakukan hubungan bersenggama
...****************...
Keesokan harinya.
Kini keluarga Xavier sedang berkumpul dan ada yang berbeda kali ini karena tampaknya Rey dan Tasya sedang bersiap siap.
"Kalian jaga baik baik di sana ya nurut sama opa dan Oma".ujar Regina mengelus kedua kepala Rey dan Tasya
"Ya mamah".ucap barengan Rey dan Tasya
"Dek disana belajar yang rajin ya".ucap Nalendra pada putri bungsunya
"Baik papah".jawab Tasya serta senyum manisnya
"Cup cup, bye adek manis kakak iiih kenapa kamu ninggalin kakak sih kakak kesepian tau".gilirin Thalia memberika cipika cipiki pada Tasya
"Ya elah kak ,kan bisa chatingan sama temennya siapa itu namanya".cibir Tasya lalu menggoda Thalia namun ia lupa siapa nama yang akan disebut Tasya dan akhirnya dengan cepat Rey menjawab dengan lantang
"Steven".cepat Rey
Hal itu membuat Thalia mebelalakan matanya dengan lebar, lalu ia pun mengucap
"Apaan sih lu bawa bawa nama dia, orang itu kan senior kakak".dengus kesal Thalia lalu ia pun melipatkan kedua tangannya di depa dada
"Tapi kan suka goda kakak, waktu itu aja pas aku nganterin makanan ke rumah sakit kakak, berpapasan sama om Steven, dan dia bilang apa coba ke aku".goda Tasya kemudian ia nyerocos dan diakhiri sebuah pertanyaan
"Mana aku tau".cetus Thalia dengan wajah cemberutnya
"Dia bilang gini * eh ada adik ipar, mau ketemu sama kakakmu ya ayo sini sini* gitu katanya".ucap Tasya sambil mempratekan gaya bicara kawannya Nalendra
Rey yang mendengar itu tak kuasa menahan tawanya lalu ia pun tertawa lepas sambil tunjuk tunjuk ke arab Thalia yang sudah memerah padam entah karena malu atau pun karena menahan marah
"Pfffhhh hahahaha, fix lu jodohnya Om Steven, gimana pah".tawa keras Rey
"Papah setuju dan papah sangat merestui".celetuk Nalendra yang tidak ada angin tidak ada hujan sedsri tadi diam saja tiba tiba langsung cepat menjawab dengan lantang
Hal itu membuat Thalia syok, untuk yang lain pun sama halnya namun berbeda dengan rey dan Ray mereka tersenyum dan juga tertawa
"Ehh apaan sih papah, kamu sih dek akhh napa sih kalian ini".rengek Thalia pada Nalendra kemudian pada Tasya dengan tampang kesalnya kemudian mereka berdua yang tak lain para abang abangnya yang tersenyum licik pada Thalia
"Eh eh napa lo ngambek bambangggg".goda Rey
__ADS_1
"Nama gua Thalia bukan bambang, markonah".desis Thalia
"njir dasar adek dakjal ngatain gua lu kagak sopan lo ".umpat Rey namun hanya bermaksud candaan saja
"Ehhh lu duluan".elak Thalia dengan membela diri kemudian menunjuk ke arah Rey
"Anjirrr lu emang harus gua banting lo".canda Rey
"Udah udahhhh ahhh kalian berdua ini selalu aja berantem, dek kamu disana jangan berantemn kaya mereka ya yang akur".ucap Regina dan juga Nalendra
"Ya mamah papah".serentak Rey dan Tasya
Mereka pun akhirnya berhenti berdebat, karena bentar lagi Rey dan Tasya akan segera pergi ke Indonesia dan mereka pun segera meninggalkan Mansion lalu segera ke bandara
Tibalah di bandara
Baru saja Tasya menginjak ke bandara, langsung memeluk erat tubuh Regina
"Mamah, Tasya bakalan kangen sama mamah, nanti mamah kirimin masakan ya ke Indonesia karena masakan mamah yang Tasya suka".isak Tasya tak kuasa menahan, karena sepanjang jalan ia tak pernah lepas tangan pada Regina
"Iya sayang, jangan nakal ya di sana nurut sama bang Rey".tutur lembut Regina
"Ya mamah pasti Tasya nurut apa kata mamah"ucap Tasya sambil membasuh kedua matanya yang basah karena menangis
"Jangan nangis dong sayangnya mamah".ucap menggoda Regina pada Tasya bermaksud agar Tasya tidak nangis
"Bontot bontot".canda Rey sambil mengusap rambut Tasya
"Tasya dengerin abang, kalau disana ada yang deketin adek mau itu laki laki atau perempuan lapor ke bang Rey ya jangan di pendem".tutur Ray dengan serius sambil mengusap wajah Tasya dengan lembut
"Ya bang Ray, dan bang Ray jangan lupa kasih aku kakak ipar ya hehehe".ucap Tasya lalu ia pun menggoda Ray
Mendengar itu Ray langsung menatap tajam pada adiknya itu, sementara yang lainnya tertawa terbahak bahak terutama Reynanda yang sepertinya sangat puas menertawakan sang kakaknya itu
"Hahahahaha muka lu bang asem banget dah kagak enak di pandang".tawa Rey
"Lu diam ".dingin Ray pada Rey
"Idih idih ngambek idih ngambek". ledek reynanda pada Ray
Ray melihat itu menjitak pala Rey, bukan berhenti malah makin menjadi jadi, dan tak lama panggilan untuk penerbangan menuju Indonesia pun telah di umumkan akhirnya mereka pun saling bersalaman untuk kepergian mereka berdua, Tasya menangis sementara Rey terus mengusap pala adiknya yang cengeng ini.
Singkat cerita Tasya dan Reynanda sudah berada di pesawat
Tasya tertidur di pundak Reynanda mungkin karena lelah menangis, Sementara Reynanda terus saja memandang wajah sembamnya Tasya sehabis menangis
"Adek harus bisa mandiri sekarang". gumam reynanda
Rey pun akhirnya tidur sambil memeluk Tasya, jika orang lain melihat mereka layaknya seperti pasangan kekasih tanpa mereka sadari jika wajah mereka itu sama
__ADS_1
Bersambung