
kini Nalendra sudah berada di markasnya tak hanya dia sendiri, karena ia di temani putra sulungny yang tak lain adalah Raynanda
"Ray".sapa Nalendra
"Ya pah".jawab Ray
"Apa ada kendala di kantor".tanya Nalendra sambil menduduki kursi menghadap anaknya yang kebetulan sama menduduki kursi
"Lancar lancar aja koq pah".jawab Ray dengan santai sambil mengambil minuman soda kaleng lalu ia buka dan minumnya
"Terus soal pembantu kamu itu gimana tuh Ray".tanya Nalendra sambil menaikan halisnya untuk menggoda Ray
Dan alhasil
Ray yang tadinya minum pun langsung tersedak
uhuk uhuk uhuk
"Ya elah Ray nanya soal pembantumu aja langsung batuk".ledek Nalendra dengan tatapan mengejek pada putra sulungnya sambil gelrng gelengkan kepalanya hal itu membuat Ray melirik tajam pada Nalendra
Nalendra hanya cuek saja tak peduli dengan lirikan maut tersebut ia melanjutkan rokoknya dengan kaya santainya
"Lah papah sendiri yang bikin Ray kaget, napa papah malah nanyain pembantuku segala sih".omel Ray dengan kesal
"Ya selow dong papah kan nanya doang kali".ucap santai Nalendra sambil terkekeh merasa puas sudah menggoda Ray
"Nanya yang lain aja bisa kan pah".protes Ray yang masih dengan wajah kesalnya menatap sang papah
"Oke oke, kita ganti topik".ucap Nalendra
"Nah gini dong, apaan pah".helaan nafas Ray, kemudian ia mendekati sang papah lalu bertanya dengan wajah serius
"Malam ini papah akan berhenti menjadi ketua mafia".ucap Nalendra yang kini sudah di mode serius mendengar itu Ray terkejut
"Loh".terkejut Ray, ingin protes tapi dengan sigap Nalendra berkata
"Karena papah sudah waktunya ingin diam di rumah Ray".ucap Nalendra, yang memang ia inginkan saat ini adalah untuk bisa diam di rumah bersama sang istri untuk menikmati masa senggangnya
__ADS_1
"Hmm siapa yang akan menggantikannya".tanya Ray dengan penasaran
"Om Kelvin".jawab cepat Nalendra
"Lah koq om Kelvin, kenapa gak Ray aja pah".protes Ray dengan wajah menampakan kekecewaan
"Tidak bisa Ray, keturunan papah menjadi mafia".tegas Nalendra
"Tapi pah, aku ingin meneruskan pekerjaan ini pah". Rujuk Ray
"Papah tidak setuju dengan keputusan mu Ray".tegas Nalendra
"Kalau gitu kenapa Ray di bawa ke markas pah".tanya Ray sambil menyeringatkan dahinya dengan hatinya yang merasakan kekecewaan oleh keputusan papahnya
"Ya papah sengaja membawamu ke sini untuk membahas tentang berhentinya papah dan sekaligus salam perpisahan untukmu yang akan sama seperti papah untuk berhenti, karena bukan papah yang akan berhentu di dunia gelap ini, kamu juga akan papah diperhentikan sebagai anggota mafia".ucap panjang lebar Nalendra dengan tegas sambil menatap Rey dengan wajah seriusnya
Ray mendengar itu seketika dadanya memburu ia dengan cepat dan lantangnya mengucapkan
"Tidak".lantang Ray sambil menatap Nalendra, Nalendra tak peduli teriakan dari sang anak karena ia tahu pasti anaknya akan protes
"Kenapa tidak?".tanya Nalendra dengan santainya
Nalendra hanya menghembus kasar, Nalendra juga sebenarnya tidak ingin membuat Ray kecewa karena keputusannya, namun ia juga khawatir pada putranya yang pastinya akan seperti dirinya yang musuh akan pasti ada apalagi sampai menghilangkan nyawa
"Tapi, apa kau tidak liat bagaimana kehidupan papah yang menggeluti dunia bawah hmm, Ray papah melarang kamu tidak melanjutkan Mafia itu karena konsekuensinya besar kamu pasti tau sendirikan".ucap Nalendra yang memberikan nasihat pada Ray
"Papah, Ray tau Ray paham tapi Ray ingin melanjutkan keinginan Ray sendiri".kekeh Ray
"Ray tau konsekuensinya seperti apa, tapi Ray terpaksa menetap sebagai anggota Mafia ini karena ada suatu hal yang mungkin papah belum tau".lanjut Ray namun di akhir kalimat ia tampak ragu untuk mengungkapkannya
Nalendra mendengar itu seketika menyeringatkan dahinya dan sekaligus ia penasaran juga, memangnya ada apa dan masalah apa yang anaknya hadapi tanpa diketahui oleh orang tua
"Masalah apa".tanya Nalendra dengan penasaran
"A aku memiliki musuh, karena saat itu aku pernah melukai kakaknya". terbata Ray dengan menundukan kepala karena ia tak berani menatap sang ayahnya, apalagi ia merasakan aura yang sangat mencekam disana
"Kenapa bisa begitu son".dingin Nalendra
__ADS_1
"Hmmm Ray gak sanggup mengatakannya, yang jelas dia kakaknya itu hampir nyaris menabrak Tasya karena di tolak cintanya".ucap Ray yang masih menudukan kepalanya
"Apaaaa, hampir di tabrak, hanya karena cintanya di tolak astaga, kenapa kakaknya bisa kenal orang itu pada Tasya".pekik Nalendra
"Ya karena kakaknya itu guru matematikanya Tasya di sekolahnya pah".ucap Ray
"Ck. dasar karena di tolak sampai ia berani mau mencelakai anakku, terus setelah itu".
"Ya aku menyeretnya ke markas lalu detik itu aku membunuhnya".ucap Ray
"Maka dari itu adiknya membalas dendam, kau bodoh sekali Ray, terus apa ini berkaitan dengan mafia".omel Nalendra, meskipun dia meras geram pada pria yang hampir menabrak putri kecilnya tapi ia tak suka jika orang itu langsung di bunuh begitu saja
Ray mendengar pertanyaan itu dari papah, tanpa ragu ia langsung mengiyakan
Nalendra langsung melotot, dan dia pun menanyakan kembali
"Apa nama Mafia itu". Tanya Nalendra
"King Kobra". Ucap Ray
Mendengar itu Nalendra langsung berdiri dan dia ...
"Kau inget mafia itu berada di indonesia sementara Tasya berada di Indonesia apa kamu tidak berfikir ke sana hah".bentak Nalendra dengan tunjuk tunjuk ke arah Ray yang sedang menunduk
"Kenapa kamu gak dari dulu sebelum adek berangkat kuliah ke Indoesia, kalau papah tau soal ini mungkin sekarang kita masih berkumpul Ray, dan kita akan aman".omel Nalendra dengan wajah marahnya
"Habisnya aku gak tega liat adek sedih pah, dan papah tenang di sana kan ada Rey yang menjaganya, karena Rey sengaja ingin ke Indonesia bukan untuk menjadi Dosen aja tapi sekaligus jadi pengawas adek disana jadi papah tenang saja".ucap Ray dengan raut wajah memelasnya pada Nalendra yang kini ia sudah mulai berani melihat wajah Papahnya yang nampak merah padam, kemudian ia mencoba menenangkan papahnya, Ray berdiri menghadap Nalendra
Kemudian mereka berdua duduk kembali, meski tadi ada sedikit adegan ketegangan dari situasi tadi namun beberapa saat mereka sudah tenang kemudian melanjutkan percakapan mereka
"Tapi tetep aja Ray namanya juga orang tua, pasti ada ke khawatiran ".ucap Nalendra yang kini sudah mulai mengotrol emosinya
"Papah aku juga paham rasa kekhawatiran papah, tapi papah tenang di sana kan ada granpa dan grandma yang pastinya bakal menjaga cucunya pah, jadi papah tenang aja oke".ucap Ray
Nalendra mendengar itu pun terdiam, berfikir sejenak dan setelah ia menimbang nimbangkan memang benar disana tidak hanya berdua ada orang tuanya
Dan Nalendra pun mau tidak mau mengiyakan keputusan Ray meski dia ada sedikit rasa kekhawatirannya
__ADS_1
Bersambung