
"Kalian nanti pada ikut nggak?" tanya Vian.
"Ikut apaan?" tanya Rina karena ia tidak tau.
"Itu, acara ulang tahun rumah sakit," seru Vian.
"Yang pastinya kami ikut. Iya gak Ran?" kata Rina.
"Iya dong kami pasti ikut," Rani menjawab.
"Kamu Alan dan Ilya, ikut nggak?" kini giliran Ilya dan Alan yang ditanyakan.
"Aku ikut, sama adik-adik aku dan mamah," seru Ilya.
"Wah, keluargamu ikut, pasti seru. Udah engga sabar pengen lihat adik-adik kamu yang lucu." kata Rani. Sahabatnya tau bahwa Ilya punya dua adik dan mamah yang baik bahkan mereka juga tau bahwa papah Ilya sedah meninggal, karena Ilya menceritakannya kepada mereka.
"Kamu, Alan?" tanya Vian memandang ke arah Alan.
"Aku apa kata nanti aja," jawab Alan.
__ADS_1
Mereka melanjutkan memakan makanan mereka. Tiba-tiba ada yang sengaja menumpahkan air jeruk ke wajah Ilya. Ilya hanya diam, dan para sahabatnya lah yang melabrak seseorang yang menyiram air jeruk ke wajah Ilya.
"Eh, maksud kamu apa-apaan? Kita nggak punya salah ke kamu, kenapa kamu marah-marah?" tanya Rina dengan nada tinggi karena amarahnya yang sudah memuncak.
"Udah Rin, aku gapapa ko," kata Ilya agar sahabatnya tidak menjadi-jadi kemarahannya.
"Kita biarkan dulu Dr. Sarae akan berbuat apa. Kalau sudah lebih dari ini baru kita bertindak." kata Ilya menenangkan sahabatnya.
"Bilang aja, kamu nggak berani lawan aku kan? Hahaha dasar pengecut," tertawa Sarae yang merasa bahwa dirinya menang.
Alan dan Vian hanya menonton. Karena mereka pernah memisahkan Sarae dan Sahabtnya Ilya agar tidak ribut tapi hasilnya tetap sama.
"Heh jal*ng, udah deh kamu ngaku ke semua orang siapa kamu sebenarnya," kata Sarae yang membuat semua orang bingung. Apa tujuan Sarae berbicara seperti itu.
Sebelum Ilya menladeni ucapan Sarae, munculah Marha di belakang Sarae. Ilya yang melihat bosnya tepat di depannya ia memilih diam, dan biarkan Sarae berbicara.
"Kenapa? Nggak berani kan, dasar pengecut," kata Sarae yang menekankan nada PENGECUT dan meninggikannya.
"Ekheem… ada apa ini?" Marha berdehem dan bertanya tentang apa yang terjadi. Marha ada di kantin karena ada perlu dengan Alan. Marha sudah mencoba menghubungi Alan namun tidak ada jawaban jadi ia memilih ke ruangan Alan. Setibanya di ruangan, Marha tetap tidak menemui Alan. Jadi ia berpikir bahwa Alan sedang istirahat.
__ADS_1
Mendengar deheman Marha dari belakang, Sarae langsung menelan salifanya sendiri. Karena kaget ia pun gugup.
"Pa….pak Marha," kata Sarae dengan rasa gugupnya.
"Saya bertanya, ada apa ini?" tanya Marha lagi.
"Ngga ada apa-apa ko pak," jawab Ilya dengan senyuman. Dan diangguki oleh sahabatnya.
"Kamu Dr. Sarae dan Dr. Ilya, nanti sore ke ruangan saya jelaskan apa yang terjadi. Alan ikut saya." kata Marha sambil menunjuk orang yang disebutnya.
Alan dan Marha keluar dari kantin. Ilya dan Sarae saling memandang.
"Ilya, yuk kembali ke ruangan," ajak Rani.
"Yuk ah." kata Ilya. Kemudian mereka pun pergi meninggalkan kantin.
Seperti biasa para dokter masih sibuk dengan pasien mereka masing-masing. Hari menjelang sore, dan sore menjelang malam. Dokter yang bekerja pada jam pagi sampai sore pun pulang, terkecuali Ilya. Ilya masih sibuk dengan pasiennya yang bertambah. Akhirnya Ilya bisa pulang, ia pulang dengan menaiki bus malam yang melintas.
Ilya lupa kalau ia tadi dipanggil oleh Marha bersama Galis juga. Ilya berdoa dalam hatinya, semoga bos nya tidak marah karena kepikunannya.
__ADS_1