
Ilya yang terkenal dengan kealimannya dan tipe pendiamnya kini berubah menjadi sosok yang sulit ditebak. Ternyata memang benar kata orang 'orang pendiam sekalinya marah bisa bahaya' begitulah dengan Ilya.
"Wuih hebat, sekarang kamu berani sama saya hah," kata Sarae dengan lantang.
"Saya diam bukan berarti takut dengan, anda. Tapi saya pengen tau seberapa besar anda membenci saya," kata Ilya.
"Sekarang saya tau ternyata hati anda tidak secantik wajah anda," lanjut Ilya.
Sarae yang merasa dipermalukan di depan umum langsung berlari meninggalkan kantin rumah sakit tersebut.
"Ilya ternyata kamu berani juga yah. Hebat kamu, Il," kata Rina. Ilya hanya tersenyum.
"Kita sama-sama makan nasi, sama-sama makhluk ciptaan tuhan. Buat apa kita takut," kata Ilya. Ketiga temannya sungguh salut, baru pertama kali mereka melihat sahabatnya setegas itu.
"Udah sekarang kita masuk ke ruangan masing-masing. Kalau Pak Marha tau bisa kena omel kita," kata Rani.
Mereka berempat menuju ruangan mereka masing-masing. Ilya kembali menangani para pasien yang ingin mempercantik wajahnya.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~`》》
*Di tempat Sarae
Sarae adalah dokter yang menangani hewan yang sakit. Sarae sangat mencintai Marha. Hingga ia tidak suka dengan setiap orang yang mendekati Marha.
"Awas aja kamu, Ilya." katanya dalam hati.
__ADS_1
Sarae menelepon seseorang. Dan sambungan telepon pun tersambung.
"Hai, Galis," sapa Sarae pada seseorang di seberang telepon. Sarae menelepon Galis dan menceritakan rencana yang akan mereka lakukan pada Ilya.
"Oke, kamu atur waktunya. Kalau sudah siap kita jalankan rencana kita," kata Galis
"Ya sudah aku tutup teleponnya." kata Sarae. Tuuut...tuut, tanda telepon terpurus.
"Awas kau Ilya. Aku akan membunuhmu." kata Sarae pada dirinya sendiri.
Marha menunggu kabar dari Alan setelah 3 hari Alan sudah mendapatkan info tentang keluarga Ilya.
"Halo Alan. Gimana udah dapat?" tanya Marha.
"Hai juga bro. Saya sudah dapat info tentang keluarganya Ilya." kata Alan.
"Jadi, siapa yang sakit?" tanya Marha.
"Yang sakit adiknya yang bernama Rangga," jawab Alan.
"Sakit apa?" tanya Marha lagi.
"Dia sakit paru-paru dan membutuhkan biaya yang cukup mahal," jawab Alan lagi.
"Sekarang kamu ke administrasi, bayar semua yang harus dibayar. Nanti saya ganti uang kamu," perintah Alan.
__ADS_1
"Siap, bro." kata Alan. Kemudian panggilan telepon terputus.
Satu minggu sudah berlalu. Ilya belum sempat untuk ke rumah Marha. Mommy sungguh kangen kepada Ilya. Namun mommy tidak tahu dimana Ilya tinggal.
Marha baru sampai rumah. Mommy mendengar suara mobil masuk ke garasi langsung menghampiri sang pemilik mobil yakni Marha.
"Marha kenapa kamu tidak membawa Ilya kemari lagi?" tanya mommy.
"Maaf mom, di rumah sakit sangat sibuk. Lain kali yah mom," jawab Marha.
Mommy yang mendengar jawaban dari Marha bahwa di rumah sakit sibuk. Kini menekukkan mukanya.
Di sisi lain Marha yaitu Ilya.
Drrrt….drrrt.
Getaran hp Ilya membangunkan ia untuk menjawab telepon. Ilya melihat siapa yang meneleponnya selarut ini. Dan ternyata tertera nama mamah di hp nya.
"Halo, mah," sapa Ilya.
"Nak, Rangga ingin bicara sama kamu. Apa mamah mengganggu kamu tidur?" kata mamah.
"Berikan hp nya ke Rangga. Mamah engga ganggu aku kok," kata Ilya.
Mamah memberikan hp nya ke Rangga.
__ADS_1
"Hai, kak," sapa Rangga.
"Halo juga, dek. Apa kamu sudah mendingan?" tanya Ilya.