Anasrasya Putri Harilya (Revisi)

Anasrasya Putri Harilya (Revisi)
Kegalauan Ilya


__ADS_3

"Iya kak, Rangga sudah mendingan. Kapan kakak jengukin Rangga?" tanya Rangga.


"Iya nanti kapan-kapan yah, dek. Kakak sibuk banget," kata Ilya.


"Tapi kakak janji, kakak akan pulang," lanjutnya lagi.


"Janji yah, kak," kata Rangga.


Mereka mengobrol sampai tidak kenal waktu. Ilya sangat mengantuk dan panggilan telepon pun terputus.


Pagi telah tiba. Ilya bergegas menuju kamar mandi dan segera membuat sarapan. Ilya lupa bahwa kemarin seharusnya ia mampir ke rumah Marha. Karena ia ingkar janji maka setidaknya hari ini ia harus menepati janjinya.


Ilya berangkat ke kantor dengan menaiki angkot yang lewat di depan rumahnya. Setibanya di kantor ia melihat Rina dan Rani sedang duduk di taman bersama Vian.


Ilya menghampiri mereka dan menyapanya dengan ucapan selamat pagi. Mereka mengobrol dengan asyik sambil menunggu jam kerja dimulai.


"Ilya kamu tau nggak?" tanya Rani.


"Enggak lah, kan kamu belum memberi tau," jawab Ilya.


"Yaudah aku beritahu, sekarang ada dokter baru di rumah sakit ini," kata Rani dan yang lain menganggukan kepalanya.


"Dokter apa?" tanya Ilya penasaran.


"Dokter spesialis anak. Dokter yang menggantikan bu Tina," jawab Rani.


"Syukur kalau sudah ada yang menggantikannya," kata Ilya polos.


"Tapi Ilya, yang kita denger katanya dokter itu ganteng banget," kata Rina.


"Sayangnya aku tidak tertarik," kata Ilya.


"Iyalah, Ilya tertariknya sama aku," kata Vian.


"Emang bener Il?" tanya Rina.


"Enggaklah, kata kata Vian kamu dengerin," kata Ilya.


"Hahaha." mereka berempat tertawa.


Jam kerja pun dimulai. Semua dokter sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Ilya keluar dari ruangan pasiennya.


Hari menjelang sore. Dokter yang bertugas dari pagi sampai sore sudah pulang begitupun dengan Ilya. Sebelum Ilya pulang ia tak lupa mampir ke rumah Marha.


Ilya menaiki angkot yang lewat di depan rumah sakit. Sebelum naik angkot ia tak lupa membawa buah-buahan untuk buah tangan.


Saat tiba di rumah Marha Ilya mengetuk pintu. Yang membuka pintu adalah Marha.

__ADS_1


"Ilya, ayo silahkan masuk," Marha mempersilahkan Ilya untuk masuk.


Mereka masuk dan menuju tempat dimana mommy berada.


"Ilya, ya ampun tante kangen banget," kata mommy.


"Iya Ilya juga kangen tante. Maaf yah tan, kemarin Ilya ingkar janji," kata Ilya yang merasa bersalah.


"Udah gapapa ko. Kata Marha kamu akhir-akhir ini sibuk," kata mommy.


"Hehe iya tan, Ilya akhir-akhir ini sungguh sibuk," kata Ilya.


"Maaf Nya mengganggu, makan malam sudah siap." kata asisten rumah tangga.


"Iya bi, terimakasih," kata mommy.


"Nak, kamu makan malam di sini ya." Ajak mommy. Ilya hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


Mereka menikmati makan malam dengan suasana hening, hanya ada suara piring dan sendok yang saling terbentur.


Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga memakan buah-buahan yang Ilya bawa. Marha yang sangat menyukai buah naga menyuruh asisten rumah tangga untuk membuatkan jus buah naga.


Saat sedang asik-asiknya mereka mengobrol tiba-tiba hp Ilya bergetar tanpa bersuara. Ilya pamif untuk menjawab telepon dari mamahnya.


"Halo mah," sapa Ilya.


"Ilya kan anak mama," kata Ilya santai namun untuk apa mamanya berterimakasih sedangkan ia masih memikirkan uang untuk biaya adiknya.


"Kamu bener-bener anak mamah yang pengertian," kata mamah yang membuat Ilya semakin penasaran.


"Bentar, maksud mamah apa? Ilya engga paham," kata Ilya yang semakin penasaran.


"Kamu sudah membiayai Rangga. Kamu nggak nyadar kemarin kan kamu habis ngomong sama Rangga," kata mamah.


"Ilya aja belum gajian mah, mana mungkin Ilya membiayai Rangga. Sedangkan biaya rumah sakit tidak murah. Coba mamah ceritakan," kata Ilya.


Mamah Ilya menceritakan tentang biaya yang sudah dibayar mengatas namakan Ilya. Dari mulai mamah bertanya pada dokter dan sampai Rangga bisa sembuh. Ilya tidak percaya, ia bertanya-tanya siapa yang membiayai adiknya? Pikirannya kini kemana-mana.


Seperti biasa setiap Ilya menerima telepon pasti ia melamun. Marha yang merasa Ilya lama sekali menerima telepon tak kunjung datang lagi. Kini ia menghampiri Ilya yang sedang duduk di teras depan sembari melamun.


"Ilya," kata Marha. Namun yang dipanggil tidak menyahut. Marha mencoba sekali lagi.


"Il...Ilya," kata Marha lagi. Ilya sontak melihat siapa yang memanggil namanya. 


"Eh pak Marha," kata Ilya cengengesan.


"Kamu kenapa? Saya perhatikan kamu akhir-akhir ini sering melamun," kata Marha.

__ADS_1


"Eeh engga ko pak," jawab Ilya.


Marha tahu bahwa Ilya berbohong. Marha tidak akan memaksa Ilyaa untuk bicara jujur.


"Yaudah kamu masuk yah, mommy sudah menunggu kamu." kata Marha. Ilya menganggukan kepalanya dan pergi meninggalkan Marha.


"Ilya kamu cantik, baik, polos lagi. Kamu sungguh kriteria wanita yang aku cari." kata Marha pada dirinya sendiri.


Malam semakin larut. Ilya ingin pulang malam itu juga. Tapi dicegah oleh mommy, karena mommy sungguh sangat rindu pada Ilya. Ilya mengalah dan akhirnya ia menginap di rumah Marha lagi.


"Ilya, kamu ke kamar dulu yah bersih-bersih pasti badan kamu lengket kan?" kata mommy.


"Iya tan, tapi Ilya nggak bawa baju ganti," kata Ilya polos.


"Yaudah kamu ke kamar, nanti bibi yang akan membawa baju ganti untukmu." perintah mommy. Ilya menganggukan kepala dan pergi meninggalkan mommy dan papah Marha yang sedang asik mengobrol.


"Tante udah nyiapin baju untuk kamu," kata mommy.


"Bi….bibi," teriak mommy memanggil asisten rumah tangga. Asisten rumah tangga pun datang.


"Iya Nya," kata asisten rumah tangga tersebut.


"Tolong bibi ambilkan kotak kado warna biru yang ada di lemari kamar tempat baju saya," perintah mommy kepada asisten rumah tangganya.


"Baik Nya." kata asisten rumah tangga tersebut dan pergi ke ruangan yang diperintahkan oleh majikannya.


Asisten rumah tangga sudah membawa kotak yang dimaksudkan oleh majikannya dan diperintahkan kembali untuk mengantarkannya ke kamar Ilya.


Marha dan papanya kini duduk di teras depan rumahnya. Mereka menikmati angin malam dan kopi hitam tanpa gula.


"Pah, aku sudah menemukan info tentang keluarganya Ilya yang ada di Bandung," kata Marha.


"Benarkah?" tanya papah. Marha menganggukan kepalanya.


"Alan sudah memberitahuku bahwa adik Ilya yang ada di Bandung sedang menderita sakit paru-paru," kata Marha.


"Terus?" kata papah yang kini mulai penasaran.


Marha menceritakan semuanya. Papah mendengarkan cerita Marha sambil sekali-sekali minum kopi. Marha selesai bercerita, dan ia pun meminum kopi.


"Bagus, kamu selangkah lebih maju," puji papah.


Marha tersenyum atas pujian yang keluar dari mulut papanya.


Hari sudah sangat malam. Mereka masuk ke kamar masing-masing. Dan seperti biasa mommy dan Ilya tidur bersama di kamar Ilya.


^-^-^-^-^-^-^-^-^-^-^-^-^-^》》》》

__ADS_1


Hai readers, mohon maaf bila ada typo yang berterbangan dimana-mana. Jgn lupa dukung karyaku dgn cara like, komen, vote & rate 5. Terimakasih😊. Kali ini lebih panjang dari sebelumnya😊😀.


__ADS_2