
"Nak, mamah berangkat dari rumah menuju bandara sekitar setengah jam, menunggu pesawat setengah jam, dan berada di pesawat dua jam. Setelah mamah sampai bandara yang ada di sana dan ingin menuju rumah kamu itu berapa jam?" kata mamah dalam telepon.
"Mamah berangkatnya jam berapa?" tanya Ilya.
"Mamah berangkat jam 09.30," jawab mamah.
"Berarti mamah sampai di kontrakan Ilya jam dua sore," jelas Ilya. Setelah mendapat jawaban dari Ilya, mamah pun menutup teleponnya.
Ilya melanjutkan aktivitas kerjanya. Ilya sudah tidak sabar untuk bertemu mamah dan adik-adiknya. Tiba-tiba pintu ruangannya ada yang mengetuk, Ilya langsung mempersilahkan orang tersebut masuk. Dan ternyata adalah Marha.
"Eh pak Marha, ada apa pak?" tanya Ilya kemudian ia berdiri. Karena tidak biasanya Marha datang ke ruangannya. Bahkan jika ada sesuatu Ilya yang harus ke ruangan Marha.
"Tolong kumpulkan data orang yang akan ikut acara nanti," kata Marha kemudian menutup pintu ruangan Ilya.
"Ah baiklah. Sekiranya pak Marha perlunya kapan?" tanya Ilya agar lebih tau waktu untuk ia memberikan data tersebut.
__ADS_1
Ilya selaku sekretaris pada acara tersebut sangatlah penting untuk mengumpulkan data-data para dokter yang hendak ikut di acara ulang tahun rumah sakit nanti.
"Besok sore harus ada di meja saya," perintah Marha kemudian Marha berdiri dan meninggalkan ruangan Ilya.
Ilya menghela nafasnya sangat dalam. Ia sungguh rindu pelukan dari mamanya dan canda tawa adik adiknya.
Ilya keluar dari ruangannya dan mengecek data orang yang akan ikut. Hampir semua dokter juga membawa keluarga tercinta mereka termasuk Ilya yang juga membawa sahabat serumahnya.
Hari sudah sore, Ilya berpikir pasti orang tersayangnya sudah sampai di rumah kontrakannya. Finna yang menjemput mamah dan adik-adiknya Ilya.
Tugas yang Marha berikan sudah Ilya selesaikan dengan cepat. Ilya pulang menggunakan sepeda motor milik Finna. Karena Finna sedang libur dan klinik tempatnya pun tutup jadi Ilya meminjam sepeda motor milik Finna.
"Mba, ata mamah ita mau alan-alan ya," kata Radit dengan bahasa bayinya itu.
"Iya, adek mau ikut?" tanya Ilya sembari mencubit gemas pipi Radit yang cubi.
__ADS_1
"Takit mba," kata Radik yang mengelus pipi bekas cubitan dari Ilya. Ilya tertawa mendengar Radit merajuk.
"Mba, Rangga juga boleh ikut kan?" tanya Rangga yang sedari tadi menyimak pembicaraan kakak beradik itu.
"Boleh dong, kan kalian adik mba yang paling ganteng," kata Ilya mengelus rambut adik-adiknya penuh sayang.
"Rangga, Radit kalian masuk ke kamar mba Finna yah. Tuh mba Finna lagi asik makan," kata mamah manghampiri Ilyan
Radit dan Rangga suka sekali makan, makannya mereka cubi dan gendut. Mendengar mba Finna makan, mereka langsung lari menuju kamar Finna.
Ilya dan mamah tersenyum melihat dua bocah itu belapan lari demi makanan. Mamah mengajak Ilya duduk di kursi yang ada di teras rumah. Ilya pun duduk dan mendengarkan mamahnya berbicara.
"Nak, apa kamu yakin mengajak kami pergi?" tanya mamah Ilya memasrikan kembali ajakan Ilya.
"Yakin mah, orantua atasan Ilya yang mengajak mamah dan adek-adek untuk ikut," kata Ilya yang membuat mamanya tersenyum atas jawaban dan keyakinan dari mulut Ilya.
__ADS_1
"Ya udah yuk makan, kamu pasti lapar," kata mamah Ilya mengajak Ilya makan.
Ilya sungguh rindu makanan yan dibuat oleh mamanya. Ilya menghabiskan semua menu yang ada di meja dan diakhiri dengan memakan buah segar.