Anasrasya Putri Harilya (Revisi)

Anasrasya Putri Harilya (Revisi)
Pertemuan Pertama (Revisi)


__ADS_3

*Keesokan harinya.


Seperti biasa, Ilya selalu bersemangat untuk berangkat bekerja. Kali ini ia berangkat mengendarai sepeda motornya yang baru ia beli, meskipun masih nyicil.


Saat dalam perjalanan, Ilya melihat seorang Nenek tua yang ingin menyebrang jalanan yang ramai itu. Ilya berhenti sejenak untuk membantu Nenek tua itu menyeberang jalan. Setelah sampai di seberang jalan, ia langsung menuju ke tempat sepeda motornya berada.


Ilya tidak tahu bahwa ada mobil yang sedang melaju dengan kecepatan cepat. Dan baru mengetahuinya ketika mobil itu membunyikan klaksonnya.


Tit … tit … tit.


Suara klakson yang begitu nyaring, membuat Ilya kaget. Ilya sontak langsung mundur dan berteriak. Teriakan Ilya membuat semua orang menatapnya. Ilya yang masih ingat dengan kejadian tiga tahun yang lalu membuat ia mematung dan berdiam di tempat.


Sang pemilik mobil langsung keluar dan menghampiri Ilya. Ilya masih terdiam dan melihat siapa yang keluar dari mobil. Dilihatnya seorang pria dengan postur tubuh seperti seorang atlet dengan ketampanan yang sangat menawan, idaman para kaum hawa. Para gadis-gadis yang berada di tempat langsung tercengang dan berteriak histeris karena pemandangan di pagi hari.


Aditia Marha Rahsyah, seorang pria yang ada di depan Ilya. Marha nama panggilannya. Sejenak Marha tercengang melihat kecantikan yang Ilya miliki sejak lahir.


Marha sangat mengenali muka Ilya. Dan menghampiri Ilya yang masih mematung di tempat. Marha melambaikan tangannya di depan wajah Ilya.


"Halo," ucap Marha


Ilya sadar yang tadinya memantung kini ia mulai bergeser jauh dari tubuh kekar laki-laki itu. Ilya merapikan pakaiannya dan meninggalkan Marha sendiri. Marha kini heran dengan tingkah Ilya yang memilih menjauh.


Marha kembali masuk ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanannya kembali. Sedangkan Ilya juga mulai menaiki sepeda motornya dan melanjutkan perjalanannya kembali.


*Ditempat Marha


Setelah kejadian pagi tadi, ia selalu terbayang-bayang dengan wajah cantik yang Ilya miliki, wajah yang selalu bersinar. Ia sempat berpikir bahwa Ilya adalah istrinya yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu.

__ADS_1


Gia trimarchi adalah istri Marha. Ia meninggal tiga tahun yang lalu karena menderita kanker payudara stadium akhir. Ia sempat menyampaikan permintaan terakhirnya yaitu sebuah permintaan kecil dengan menikahi gadis cantik yang mirip dengannya dan mempunyai anak dengan gadis tersebut.


Gia adalah sosok wanita yang lembut, cantik dan manja. Namun usianya tidak mendukungnya untuk menjadi ibu yang baik. Gia meninggal dengan membawa anak yang ada di kandungannya yang sudah berusia empat bulan.


Marha dari bandara dan menuju rumah orang tuanya. Sebelum masuk, ia mendengar perdebatan kedua orang tuanya dan mendengar namanya dalam perdebatan itu.


"Mom, Daddy akan terus menjodohkan Marha. Agar ia bisa menikah secepatnya," kata Daddy Joe (daddy-nya Marha).


"Tapi Mommy ga setuju, daddy. Biarkan Marha menjalani kehidupannya dengan berpetualang mencari kekasih cinta untuk menemani masa tuanya nanti," kata Mommy Nie (Mommy Marha).


"Stop! Mom, daddy kenapa kalian berdebat disaat aku pulang? Inikah sambutan untukku? Aku pulang, kalian malah bertengkar," ujar Marha menghampiri mereka.


"Stop! Marha tidak ingin mendengar kalian berdebat lagi. Kalau Mommy sama daddy masih berdebat, maka aku akan kembali ke Prancis." ancam Marha kepada orang tuanya. 


Marha pulang ke Indonesia karena permintaan sang daddy untuk mengambil ahli rumah sakit yang Joe bangun saat Joe sebelum menikahi Nie. 


Para tenaga medisnya saja juga beda-beda daerah dan beda negara. Para dokter dan perawatnya tak kalah cantik dan ganteng dari artis-artis papan atas di Korea.


Marha melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya dan beristirahat karena sebuah perjalanan yang panjang. Marha pun terlelap dan terhanyut dalam dunia mimpinya.


"Kak, bangun. Ayo bangun, kita sarapan setelah itu kamu berangkat kerja." ucap seorang wanita yang terus membangunkan Marha.


Marha duduk sejenak. Matanya yang masih terkunci perlahan-lahan membuka. Dilihatnya seorang wanita cantik yang ada di depannya. Menggunakan pakaian putih dan rambutnya yang disanggul begitu cantik dan menawan.


"Gia." Marha kemudian memeluk wanita yang ada di depannya.


"Udah dong lepasin. Ayo bangun!" ucap Gia lalu menarik tangan Marha.

__ADS_1


Marha bangun dan menuju kamar mandi. Marha berpikir bahwa ini nyata bukan mimpi. Ia dengan cepat menyelesaikan ritual mandinya dan turun untuk menemui istrinya. Namun yang ia lihat hanyalah sebuah meja yang kosong tanpa makanan dan tak ada seorang pun yang ada di sana.


Marha mencoba mencari istrinya di teras depan rumahnya, namun hasilnya nihil. Ia mencari di taman belakang dan akhirnya ketemu. Gia sedang berada di ayunan yang ada di taman belakang rumahnya.


Wanita itu mengusap matanya setelah ia tahu bahwa ada orang di belakangnya yang sedang memperhatikannya. Gia membalikan wajahnya menghadap Marha dan menepuk kursi kosong yang ada di depannya.


Marha menghampiri Gia dan duduk di hadapannya. Namun Gia mulai menjatuhkan air matanya. Marha yang melihat tingkah Gia yang jarang menangis kini terlihat bahwa wanita yang sangat ia cintai tanpa berhenti meneteskan air matanya.


"Kamu kenapa?" tanya Marha sambil mendongakkan kepala istrinya dan mengusap air mata yang ada di pipi wanita itu.


"Aku ingin kamu segera lupakan aku. Menikahlah dengan seseorang yang mirip denganku, karena aku yakin kamu akan bahagia, kak," kata Gia tersenyum tulus.


Marha menggelengkan kepalanya dan tersenyum walau dalam hatinya terasa sakit ketika wanita yang dicintainya mengatakan kata-kata yang tidak ingin ia dengar. Kemudian Marha memeluk tubuh wanitanya dan dalam sekejap wanita itu menghilang dalam pelukannya.


"Kenapa? Kenapa kamu hadir, disaat aku sudah menemukan gadis yang kamu, Gia!" seru Marha ketika tubuh wanita itu menghilang dari pelukannya.


Marha bangun dari mimpinya. Dengan nafas terengah-engah seperti setelah selesai maraton. Marha diam sejenak untuk memulihkan pandangannya yang tampak kabur sekejap.


Ternyata hari sudah pagi, matahari sudah memberanikan diri untuk muncul dan menerangi bumi dengan cahaya hangatnya. Marha bangun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, ia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga dan menghampiri kedua orang tuanya yang sudah menunggunya. 


"Pagi Mom, Dad," sapa Marha.


"Pagi," ucap mereka bersamaan.


Acara sarapan pun bersama tanpa ada suara terkecuali suara piring dan sendok yang saling bertubrukan. Marha menatap jam tangannya, waktu menunjukan pukul 08.00 AM. Ia sudah memiliki janji dengan temannya yaitu Alkis.

__ADS_1


Marha dengan segera menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan ponselnya.


__ADS_2