Anasrasya Putri Harilya (Revisi)

Anasrasya Putri Harilya (Revisi)
Mimpi


__ADS_3

Karena ia akan pindah dan tinggal lebih jauh dari tempat ini. Karena hari masih siang menjelang sore, Ilya pergi membeli kebutuhan dapur dan membeli beberapa makanan ringan di supermarket terdekat.


Kini Ilya sudah membeli apa yang ia inginkan. Saat dalam perjalanannya menuju rumah, ponselnya bergetar. Diraihnya ponsel, dan ternyata tertera nama dr. Sarae pada layar ponselnya. Diangkatnya panggilan itu dengan helaan nafas yang lesu.


"Halo," sapa Ilya.


"Gimana? Kalau kamu tetap mendekati Marha, maka mama kamu akan kami bunuh," ancaman Sarae berhasil membuat Ilya menitikan air mata.


Tubuh Ilya tiba-tiba lemas. Dan ia memilih duduk di kursi pinggir jalan.


"Tolong lepaskan mama dan adik-adik saya, saya sudah mengundurkan diri dari rumah sakit itu," kata Ilya dengan nada sesegukan.


Disisi lain, yaitu rumah sakit.


Rapat telah usai. Semua dokter pulang ke rumah masing-masing termasuk Marha. Kecuali para dokter yang sedang bertugas. Saat sudah sampai di gebang, pak Resno mengetuk kaca pintu mobil Marha dan menyodorkan amplop yang diberikan Ilya siang itu.


"Ini dari siapa, pak?" tanya Marha.


"Dari dr. Ilya," kata pak Resno.


"Oke terimakasih." kata Marha. Kemudian menutup kaca mobil dan kembali melaju.


Saat sampai di rumahnya, Marha membuka amplop itu. Ia kaget saat tertera nama Ilya bahwa ia akan mengundurkan diri. Marha langsung menghubungi Alan. Tanpa menunggu waktu lama panggilan pun tersambung.


Alan sudah mendapatkan informasi tentang keluarga Ilya di Bandung. Ia mencari tau tentang siapa yang berani menyiksa mama Ilya dan adik-adik Ilya.


Ponsel milik Alan berdering. Diambilah ponselnya dan tertera nama Marha di ponselnya. Diangkatlah panggilan itu.


"Halo, Bro?" kata Alan.


"Alan, coba kamu cari informasi tentang kenapa Ilya berhenti bekerja," perintah Marha.


"Serius kamu, bro?" kata Alan kaget.


"Iya, makannya saya suruh kamu untuk mencari tau," kata Marha.


"Aku udah tau, apa alasan Ilya keluar dari pekerjaannya," kata Alan.


"Apa?" tanya Marha.


"Jadi gini," Alan menceritakan semua yang terjadi pada Ilya. Marha kaget dan langsung menyuruh Alan untuk mencari cara agar ibu dan adik-adik Ilya baik-baik saja.


Malam ini mereka berencana untuk berkunjung ke rumah Ilya. Dan membahas rencana untuk membebaskan ibu dan adik-adik Ilya. 


Ilya yang sedari tadi melamun, tiba-tiba dikagetkan oleh Finna.

__ADS_1


"Dorr," Finna berhasil membuat Ilya kaget dan terbangun dari lamunannya.


"Kebiasaan kamu, Fin" kata Ilya mengelus dadanya.


"Kamu kenapa? Lagi-lagi melamun," tanya Ilya.


"Aku akan pulang ke Bandung dan akan pindah ke Palembang," kata Ilya.


"Apa? Serius kamu, Il?" kata Finna.


"Yah berarti kamu tidak bisa datang ke acara pernikahanku dong," lanjutnya dengan muka sedih.


"Pasti datang lah. Kan kamu sahabat aku." kata Ilya memeluk Finna.


Malam telah tiba. Alan dan Marha dalam perjalanan menuju tempat Ilya tinggal. Setibanya di rumah Ilya, mereka mengetuk pintu dan dibukakan oleh Finna. Finna mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Finna pun pergi ke belakang untuk membuatkan mereka minuman.


Ilya masih berada di dalam kamarnya. Memainkan ponselnya sambil rebahan. Sebelum ke belakang, Finna mengetuk pintu kamar Ilya.


"Ada apa Fin?" tanya Ilya.


"Itu, di depan ada tamu kamu," kata Finna.


"Siapa?" tanya Ilya.


Ilya menuju ruang tamu. Dan ia kaget ketika melihat Marha dan Alan bertamu di kontrakannya. Ilya menghampiri mereka dan menyapanya dengan mengatakan, selamat malam.


"Ilya," panggil Alan.


"Iya," sahut Ilya.


"Kami sudah tahu, kenapa kamu berhenti bekerja di rumah sakit milik Marha," kata Alan. Ilya kaget mendengar ucapan Alan yang seakan-akan tahu setiap kejadian yang terjadi pada dirinya.


"Iya, kami ingin kamu ikut bersama kami ke Bandung," kata Marha.


"Aku memang berencana ke Bandung besok malam. Aku tidak ingin kalian ikut. Aku takut mereka akan mencelakai ibu dan adik-adikku," kata Ilya.


"Kami tahu apa yang akan kami lakukan," kata Alan.


"Aku mohon, kalian jangan ikut ke Bandung. Jika terjadi sesuatu pada ibuku, maka aku akan sangat membenci kalian," kata Ilya  sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


"Tidak, Ilya. Kami tetap akan membantu kamu. Jika terjadi sesuatu pada Ibu dan adik-adik kamu, biarkan kami yang bertanggung jawab," kata Alan. Marha hanya mengangguk.


"Katakan siapa Galis?" tanya Alan.


"Galis adalah seseorang yang merebut pacar aku," kata Ilya.

__ADS_1


"Kamu punya nomor hp mantan pacar kamu?" tanya Alan.


"Punya," jawab Ilya sambil mencari kontak Nagit.


"Nih," lanjut Ilya menyerahkan ponselnya.


Alan menerima ponsek Ilya dan mencatat nomor hp Nagit ke ponselnya. Lalu langsung menghubungi sang pemilik nomor tersebut. Panggilan belum dijawab. Bahkan sudah tiga kali namun masih tidak ada jawaban.


"Gimana ini? Ko ga diangkat-angakat," kata Alan.


"Coba sekali lagi," kata Ilya. Dan diangguki oleh Alan.


Alan mencoba sekali lagi menghubungi nomor tersebut dan akhirnya diangkat juga.


"Halo," kata Nagit di balik telepon.


"Halo, apa benar ini, Nagit" kata Alan.


"Iya benar," kata Nagit.


Alan menceritakan tujuan ia menelepon, Nagit. Nagit awalnya tidak percaya dengan ucapan Alan. Hingga Ilya turun tangan dan merebut ponsel Alan yang sedang berada di tangan sang pemiliknya.


Ilya menceritakan panjang × lebar. Hingga akhirnya Nagit percaya dan Nagit pun menyusun rencana untuk menceraikan Galis.


Panggilan ditutup. Marha dan Alan pun pulang. Ilya kembali kekamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur busanya. Ia memainkan ponselnya. Karena tidak bisa tidur, Ilya membuat minuman untuknya dan beberapa cemilan yang dibelinya tadi sore. Ia pun terlelap terbawa alam mimpinya.


Ilya terlelap dalam mimpinya. Ia terbangun, seketika semuanya menjadi putih. Sungguh bingung perasaannya kali ini.


"Nak, jaga adik-adik kamu ya. Menikahlah dengan Marha, dia sangat baik kepada ibu dan adik-adik kamu," kata Mamah Ilya dalam mimpi Ilya. Mamah Ilya datang dari sebuah cahaya yang menyilaukan.


"Mamah, mamah mau kemana? Jangan tinggalkan Ilya. Ilya takut, Ilya takut kalau mamah pergi berarti Ilya kesepian lagi," kata Ilya menangis sesegukan.


"Mamah minta satu permintaan. Jaga adik-adikmu dan menikahlah dengan Marha, ketika ia mengutarakan perasaannya padamu," kata Mamah Ilya.


"Apapun yang mamah minta, Ilya akan lakukan selagi Ilya bisa. Asalkan mamah jangan tinggalkan kami," kata Ilya memeluk mamanya.


"Nak, mamah akan selalu ada di sini, mamah akan sering bertemu dengan kalian, meski hanya lewat mimpi," kata Mamah Ilya sambil menunjuk dada Ilya.


"Ga mau. Ilya ga mau, mamah ninggalin kita. Mamahkan udah janji ga akan pergi." kata Ilya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ilya, kamu udah besar belajarlah mandiri. Mamah yakin kamu bisa. Ikhlaskan mamah pergi." kata mamah Ilya. Kemudian ia berjalan mundur sambil melambaikan tangannya.


~_~_~_~_~_~_~_~_~_~》》》


Kali ini Author bawakan eps yang panjang buat kalian. Dukung terus karya ,Day yah. Day akan senang ketika kalian like, komen, vote, dan tambahkan ke fav. Day sangat berterimakasih kepada pembaca setia Day. See U Next Eps. Bye bye.

__ADS_1


__ADS_2