
Sore harinya, Ilya pulang dari rumah sakit. Mengendarai sepeda motor dan menggunakan helm demi mematuhi peraturan. Jalanan sangat ramai, jam kerja sudah selesai. Banyak para pengendara sepeda motor ketimbang mobil.
Jalanan kota selalu macet di jam-jam pulang kerja seperti ini. Maka dari itu, masyarakat di pulau Borneo lebih memilih untuk mengendarai motor daripada mobil. Dengan santainya Ilya mengendarai motor sambil sesekali bernyanyi.
Saking ramainya jalanan membuat Ilya memajukan sepeda motornya pelan-pelan. Begitu pelannya motor yang dikendarai Ilya, kini akhirnya ia sampai juga di kontrakan tempat ia tinggal.
Sebuah mobil sport terparkir di depan kontrakannya. Ilya memerhatikan mobil itu. Ilya memarkirkan motornya di teras depan rumah. Setelah itu Ilya masuk ke dalam rumahnya sambil mengucapkan salam.
Seorang laki-laki menjawab salam dari Ilya. Suara yang tak asing bagi Ilya. Suara yang sangat Ilya kenal dan Ilya pun menghampiri laki-laki itu.
"Alkis?" Ilya menoel punggung laki-laki yang membelakanginya. Laki-laki itu menengok ke belakang.
"Ilya! Ya ampun, kamu ngapain ada di sini?" tanya Alkis tak kalah terkejut dari Ilya.
"Justru aku yang seharusnya bertanya. Kamu ngapain ada di sini? Ini tempat tinggal aku," ucap Ilya.
"Aku di sini hanya menemui Finna, dia pacar ku." jelas Alkis sambil kembali duduk di kursi.
"Ilya, kamu sudah pulang?" kata Finna membawa dua cangkir minuman dingin beserta cemilan keripik kentang.
"Sudah, kalian pacaran?" tanya Ilya kepada dua orang yang ada di depannya. Dan kedua orang tersebut hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan tersenyum.
Ilya ikutan duduk bersama dua temannya. Mereka mengobrol banyak hal, karena tidak ingin mengganggu kedua temannya yang sedang asik pacaran. Ilya pun memilih kembali ke kamarnya.
Membersihkan diri. Setelah itu, Ilya memainkan ponselnya. Jari-jarinya begitu cepat menekan tombol keyboard pada layar ponselnya. Saking asyiknya bermain ponsel, perutnya berbunyi minta diisi.
Ilya keluar dari kamarnya. Tidak terlihat adanya Finna dan Alkis. Ilya menuju dapur dan menyeduh mie instan. Perutnya sudah tidak tahan, aroma mie instan yang begitu harum. Selesai sudah menyeduh mie goreng instan yang sangat menggugah selera tersebut.
__ADS_1
Ilya memakan habis mie tersebut dan membersihkan piring yang digunakannya tadi. Suara klakson mobil berbunyi.
Tit ….
Ilya keluar dari rumahnya. Melihat kedua temannya sedang berada di depan rumah. Alkis berpamitan kepada Finna dan juga Ilya. Finna membawa banyak makanan, Ilya yang masih lapar pun ikutan memakan makanan yang dibawa Finna.
Kenyang, itulah yang dirasakan Ilya dan Finna. Finna kembali ke kamarnya terlebih dahulu, sedangkan Ilya masih betah di ruangan yang sunyi itu. Seperti biasa, memainkan ponselnya dan memutar lagu dengan memasangkan headset di telinganya.
Matanya sudah terasa berat, rasa kantuk sudah datang. Dengan langkah terpogoh-pogoh, Ilya akhirnya sampai di pulau kapuk kesayangannya.
*Pagi hari
Ilya bangun dari tidur nyenyaknya, ia takut nanti akan terlambat lagi. Langkah kakinya tergesa-gesa menuju kamar mandi. Hari ini ia tidak ingin terlambat lagi, makanya Ilya dengan kecepatannya masih memiliki waktu untuk memoleskan bedak dan lipstiknya. Setelah dirasa cukup puas dengan penampilannya untuk hari ini, Ilya keluar dari kamarnya. Menjinjing tas kesayangannya dan memakai sepatu kesukaannya. Mengambil kunci motor di nakas, samping tempat tidur.
Ilya melihat Finna sedang asyik bermain ponselnya. Dan Ilya pun menghampiri temannya.
Ilya keluar dari rumah tersebut dan meninggalkan Finna yang berada di dalam.
Mengendarai motor dengan memakai helm dan dengan kecepatan normal. Menikmati indahnya kota dipagi hari. Waktu berjalan dan jalanan yang tadinya sepi, sekarang menjadi ramai.
Kini Ilya sampai di tempat kerjanya. Ilya, melangkahkan kakinya setelah memarkirkan motornya di tempat parkiran. Berjalan dan tersenyum kepada semua orang yang berpapasan dengannya disepanjang jalan.
Pekerjaan dimulai, disibukkan dengan alat-alat dokter. Sehingga lupa untuk menyalakan ponselnya kembali, karena jam istirahat, Ilya menyalakan ponselnya. Banyak panggilan masuk yang tidak terjawab. Baik dari mama nya maupun dari sahabatnya, bahkan banyak nomor asing yang selalu menelponnya saat malam tiba.
Dengan santainya Ilya memainkan ponselnya sambil memakan cemilan yang ada di meja kerjanya. Ibu jarinya menari dengan cepat di layar ponselnya. Sekarang giliran ia memperhatikan beberapa berkas yang ada di meja kerjanya. Berkas yang tidak terlalu banyak tapi tetap harus segera ia selesaikan.
"Alhamdulillah." ucap syukur Ilya saat pekerjaannya sudah selesai dan merenggangkan otot-ototnya yang mulai kaku.
__ADS_1
Dilihatnya arloji yang ada di pergelangan tangannya sebelah kiri. Waktu menunjukan pukul 15:00, dimana hari mulai semakin sore. Saatnya ia memeriksa para pasiennya.
Saat di perjalanan menuju ruangan pasiennya, Ilya berpapasan dengan Marha. Ilya melemparkan senyumannya, kemudian menunduk. Marha hanya menatap sekilas dan pandangannya matanya kembali ke depan. Banyak para dokter perempuan yang mengintip Marha dari jendela secara diam-diam.
Kini Ilya sudah sampai di ruangan pasiennya, karena Ilya dokter kecantikan, maka pasiennya kebanyakan wanita muda dan berkarir. Para pasiennya juga tidak heran dengan kecantikan yang Ilya punya, makanya tidak ada yang meragukannya sebagai dokter kecantikan.
"Dokter, laki-laki tadi ganteng yah," seru salah satu pasiennya. Ilya hanya menanggapi pasiennya dengan senyuman.
"Dokter juga cantik. Kalian sepertinya pasangan yang cocok," kata pasiennya lagi. Ilya yang sedang memegang pena, penanya terjatuh di lantai. Kemudian Ilya langsung mengambil pena tersebut dan kembali menuliskan resep yang perlu ditebus.
Ilya menyerahkan selembar kertas bertuliskan resep obat yang perlu ditebus di apotek.
"Dokter," panggil seorang pasien yang ada di depannya. Ilya menatap wanita itu.
"Dokter tidak apa-apa? Apa dokter mendengar ucapanku barusan?" tanya pasiennya.
"Iya, saya dengar kok," jawab Ilya tersenyum. Dan kembali memandangi beberapa berkas yang ada di meja kerjanya.
Pasien itu pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ilya acuh tak acuh ketika ada yang menjodohkannya. Sifatnya yang ramah bisa mendadak cuek. Ilya mencoba menyibukan diri di dalam ruangan itu.
Tiba-tiba ponselnya berdering, terpampang nama Mama di layar ponselnya. Diangkat lah panggilan tersebut dengan mengucapkan salam dan bertanya tentang kabar mereka. Dan tibalah ke inti pembicaraan mereka.
"Maaf mama mengganggu waktu kamu, Nak. Seperti yang kamu dengar tadi, Rangga mengeluh selalu ingin bertemu denganmu," jelas Liya.
"Nanti kalau cuti, Ilya pulang kok," jawab Ilya.
"Iya, nanti kamu bilang aja kalau sudah sampai di bandara. Biar mama jemput," kata Liya.
__ADS_1
Panggilan ditutup karena Ilya masih dalam jam kerja. Kangen, rindu, itulah yang Ilya rasakan saat ini. Kangen dengan kedua adiknya yang gemuk-gemuk. Rindu masakan mama nya yang penuh cita rasa. Juga kangen berkunjung ke makam papa nya. Diletakannya kembali ponsel miliknya ke dalam tas selempang.