
*Alan dan Marha
Mereka masih mencari keberadaan Sarae, Rangga dan Radit. Saat mendapatkan kabar dari anak buahnya, bahwa Mamah Ilya meninggal. Mereka turut belasungkawa. Namun mereka tidak bisa menemui dan mengikuti acara pemakaman tersebut karena Ilya melarangnya.
Beberapa minggu berlalu.
Kini mereka sedang berada di Jogja. Masih mencari informasi tentang keberadaan Sarae. Menurut sahabatnya Alan yang berada di Jogja, ia melihat Sarae dan kedua bocah dengan menyeretnya penuh pemaksaan.
Azim, nama sahabatnya Alan. Azim melihat Sarae bersama dua bocah kecil dan memaksanya masuk ke mobil Sarae. Azim diam-diam mengikuti mobil tersebut dari kejauhan.
Dan Sarae sampai di tempat dimana semua anak berkumpul. Namun bukan panti asuhan. Bukan juga taman bermain. Ada beberapa preman yang menyuruh anak-anak tersebut untuk mengemis di pinggir jalanan.
Azim menatap Sarae penuh ragu. "Apa yang akan mereka lakukan di tempat itu?" tanyanya dalam hati. Sarae dan kedua bocah kecil itu masuk ke dalam rumah yang mirip panti itu.
"Apa, dia akan menyuruhuh mereka untuk mengemis?" tanyanya dalam hati.
Azik hendak masuk ke dalam. Namun dihadang oleh dua orang bertubuh kekar. Ia langsung menjauh dan melaporkan apa yang ia lihat kepada Alan. Alan merasa kaget atau senang? Hanya Alan yang tau.
Marha, Alan, dan Azim langsung menghampiri rumah yang dimaksud Azim. Mereka dihadang oleh laki-laki bertubuh kekar. Khas preman pasar. Alan mencari akal agar bisa masuk ke rumah itu. Namun preman itu masih tidak mengizinkan mereka untuk masuk selagi tidak punya alasan yang jelas.
Tiba-tiba ide datang di pikiran Marha. Marha berbisik pada Alan dan Azim. Mereka setuju dengan apa yang dibisikan Marha kepada mereka.
"Jadi begini, bang. Kami kesini untuk membeli salah satu bocah yang ada disini." bisik Alan ditelinga salah satu preman itu.
Setelah preman itu dibisikan oleh Alan. Mereka menganggukan kepala dan mengizinkan mereka masuk. Alan, Marha, dan Azim masuk kedalam rumah sempit itu. Ditemuinya seorang lelaki muda yang menurut mereka dia lah pemilik rumah ini.
"Permisi, Tuan. Ini ada tamu yang akan membeli salah satu anak yang ada disini." kata preman yang mempersilahkan mereka masuk.
Lelaki muda itu memutarkan kursinya untuk menatap mereka dan mengisyaratkan kepada sang preman itu agar meninggalkan mereka. Kini tinggal mereka berempat.
"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya lelaki muda itu yang masih santai di kursi yang ia duduki.
__ADS_1
"Kami ingin membeli salah satu anak yang ada disini," kata Alan.
"Syukur-syukur kami membelinya dua," sambung Marha yang berhasil membuat lelaki itu langsung berdiri mempersilahkan mereka memilih anak tersebut.
"Mari-mari. Silahkan pilih salah satu dari mereka." kata lelaki itu yang langsung berdiri.
Mereka menelusuri beberapa kamar anak kecil. Kamarnya sungguh kumuh. Tak layak untuk mereka tinggali. Marha terus melirikan matanya mencari dua bocah yang ia cari. Namun hasilnya nihil. Mereka tidak menemukannya.
Setengah jam mereka mengelilingi setiap ruangan namun tak juga bertemu dengan Rangga dan Radit. Setelah mereka memutuskan lain kali lagi. Namun ketika mereka menuju mobil, mereka mendengar tangisan dua bocah kecil. Marha yakin bahwa itu adalah suara tangisan Radit.
"Boleh kami melihat anak itu?" tanya Marha sambil menunjuk dua anak kecil yang sedang menangis bersama seorang perempuan.
"Silahkan." kata lelaki itu sambil mempersilahkan mereka.
Mereka berempat menuju dua anak itu. Seorang perempuan meninggalkan mereka. Rangga hendak berteriak. Tapi Marha meletakkan telunjuknya di depan mulutnya. Mengisyaratkan agar tidak berteriak.
"Siapa nama kalian?" tanya Marha pura-pura tidak tahu.
"Aku Angga, ini adik aku, Adit," kata Rangga berbohong.
Marha sungguh merasa iba dan salut. Karena badan Rangga dan Radit yang tadinya gemuk menjadi kurus dan dekil. Salutnya adalah Rangga bisa berpura-pura dan mengikuti permainannya.
"Kenalkan nama om Marha, ini teman om Alan dan Azim." Marha mengenalkan diri dan sahabatnya.
Seketika Radit yang mendengar nama Marha. Ia langsung berdiri dan menghampiri Marha kemudian memeluknya.
Lelaki itu merasa heran. Kenapa dua anak ini langsung akrab dengan mereka. Namun pikirannya langsung ia tepis. Karena sebentar lagi ia akan menerima uang.
"Jadi gimana? Apa kalian mau ambil anak ini?" tanya lelaki itu.
"Iya. Kami akan membeli dua anak ini," kara Marha meyakinkan diri.
__ADS_1
Mereka dengan terpaksa mengeluarkan uang sejumlah dua miliar untuk membebaskan Rangga dan Radit. Marha sungguh sangat bersyukur bisa bertemu kembali dengan kedua adik Ilya. Sedangkan ia masih mengikuti Ilya dari kejauhan meski beda negara.
Beberapa minggu kemudian setelah Radit dan Rangga ditemukan.
Marha masih menyusun rencana agar Ilya tidak menghindari pertemuannya. Namun berkali-kali Ilya terus menolaknya. Sekarang Marha menemukan kedua adiknya dan mencoba untuk menemui Ilya.
Marha sangat memanjakan mereka. Dari mulai dibelikan mainan, cemilan, hingga dibuatkan kamar khusus untuk mereka. Mommy dan Papah nya Marha sungguh tidak keberatan. Mereka senang karena sekarang sudah ramai dengan tingkah menggemaskan dua anak itu.
Namun mommy sangat merindukan sosok Ilya. Sosok yang begitu sopan, ramah, dan perhatian. Setiap melihat dua anak kecil itu yang wajahnya mirip dengan Ilya pasti teringat akan sosok Ilya.
"Mommy, mommy main sama Adit yuk." ajak Radit pada mommy. Iya l, sekarang kedua adik Ilya memanggil Jesy dengan sebutan Mommy setelah tahu ketika mama mereka sudah dimakamkan.
"Ayo. Mommy mau ambil cemilan dulu yah." kata Jesy meninggalkan kedua anak itu.
Radit dan Rangga bersorak hore, ketika Jesy datang membawakan cemilan kesukaan mereka, yaitu keripik kentang. Jesy meletakan cemilan dan beberapa gelas minuman.
"Mau main apa?" tanya Jesy kepada kedua anak itu.
"Main ludo di hp nya mommy," kata Radit.
"Kalian tau dari mana mommy punya permainan ludo?" tanya Jesy.
"Om Marha yang kasih tau kita. Sebelum tidur juga kita main ludo," jelas Rangga.
"Baiklah kita main ludo sekarang." kata Jesy sambil mengeluarkan hp miliknya dari sakunya. Mereka memainkan ludo.
Waktu menunjukan pukul 15.00 saatnya mereka mandi. Mereka dengan berlarian menuju kamar dengan menaiki tangga. Radit yang tak mau kalah, ia pun berlari hingga terjatuh dan menangis. Jesy yang mendengar Radit menangis langsung berlari ke sumber suara.
Digendongnya tubuh mungil yang gendut itu dan mengelus lututnya yang sakit. Sambil menenangkan dengan menimangnya seperti anak bayi.
Kini usia Radit menginjak lima tahun dan Rangga delapan tahun. Mereka sungguh merindukan sosok kakaknya yang seperti pahlawan kedua baginya. Setiap tidur mereka memeluk foto sang kakak yang mereka rindukan.
__ADS_1