Anasrasya Putri Harilya (Revisi)

Anasrasya Putri Harilya (Revisi)
Permintaan Mamah


__ADS_3

"Nak," kata mamah Ilya memanggil Marha dengan suara seraknya. Marha yang mendengar langsung menghampiri orang yang memanggilnya.


"Iya ada apa tan?" tanya Marha langsung duduk di kursi samping ranjang.


"Boleh tante minta tolong?" kata mamah Ilya yang mulai menjatuhkan air matanya.


"Apapun itu tan, saya akan melakukannya selagi saya bisa." kata Marha menghapus air mata Mamah Ilya dengan lembut.


"Tante titip anak-anak tante yah. Supaya kalau tante pergi mereka ada yang jagain." kata mama Ilya.


Prang


Suara rantang jatuh. Ternyata Ilya sudah ada di ruangan tersebut.


"Mamah, mamah ngomong apa?" kata Ilya menghampiri mamanya.


"Ilya nggak mau mamah pergi," kata Ilya menangis.


"Mamah nggak akan pergi ko," kata Mamah Ilya.


Beberapa hari kemudian. Mamah Ilya sudah keluar dari rumah sakit dan lebih memilih pulang ke Bandung. Ilya sangat merasa kesepian, karena orang-orang yang disayanginya sudah pulang ke kampung halaman.


"Ilya, kita main ludo yuk," kata Finna mengajak Ilya bermain.


"Ayo." kata Ilya. 


Mereka bermain hingga tak mengenal waktu. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan dibukakan oleh Ilya. Tamu tersebut adalah mommy dan Marha.


"Tanteee," kata Ilya memeluk seorang yang ada di depannya. Mommy pun membalas pelukannya.


"Masuk yuk tan, pak" kata Ilya mempersilahkan mereka masuk.


Mereka pun masuk dan disambut oleh Finna. Ilya pamit untuk membuatkan mereka minuman dan cemilan. Finna mengajak mommy Marha ngobrol, sedangkan Marha sibuk dengan benda yang ada di tangannya yaitu ponselnya.


Ilya kembali dengan membawa nampan yang berisikan minuman dan makanan ringan. Kemudian mereka mengobrol sampai puas.


Disisi lain ada Galis dan Sarae.


"Sepertinya wanita tua itu tidak berbicara tentang apa-apa," kata Sarae. Yang dimaksudkan wanita tua adalah mamah Ilya.


"Iya, sepertinya begitu. Jadi, kita bisa meneruskan rencana kita," kata Galis sambil tersenyum liciknya.

__ADS_1


Rencana Sarae dan Galis adalah menyusul Mamah Ilya yang ada di Bandung. Menyiksa mamah Ilya, kemudian menculik adik-adiknya.


Malam itu Galis dan Sarae menuju bandara. Kini mereka tiba di Bandung dan beristirahat di Hotel bintang 5. Mereka tersenyum bahagia, karena sebentar lagi akan menyiksa orang yang menghalangi rencananya.


Mommy dan Marha pamit pulang karena hari mulai malam. Ilya tersenyum ceria, karena baru pertama kali Mommy Marha mampir di kontrakan kecilnya. Ilya dan Finna tidur disatu kamar yaitu kamar Ilya.


"Adik-adik kamu lucu yah. Kalau aku makan mereka ikutan," kata Finna mengingat dua bocah kecil itu. Ilya tersenyum untuk menanggapi ucapan sahabatnya.


"Iya, bahkan waktu aku bawa Rangga ke rumah sakit teman-teman aku pada bilang bahwa aku sudah cocok menjadi ibu," kata Ilya yang membayangkan dulu waktu ia membawa adiknya.


"Emang benar Il, kamu nggak mau nikah?" tanya Finna yang tadinya rebahan kini duduk di ranjang.


"Ah kamu Fin. Kalau urusan nikah, aku belum memikirkannya," kata Ilya yang ikutan duduk.


"Kamu sendiri bagaimana, kamu ngga mau nikah?" tanya balik Ilya.


"Aku akan menikah bulan depan," kata Finna tersenyum bahagia.


"Apa? Kamu nikah bulan depan. Dengan siapa?" kata Ilya kaget. Finna mengangguk.


"Aku sudah dijodohkan oleh Bunda aku yang ada di Jakarta. Dan akan menikah dengan orang Surabaya," kata Finna dengan raut wajah sedih.


"Hei jangan bersedih. Kalau kamu sedih nanti aku ikutan sedih lagi," bujuk Ilya agar sahabatnya tidak bersedih. Finna tersenyum kembali.


Karena hari ini adalah hari sabtu, maka Ilya bekerja di klinik bersama Finna. Mereka berjalan kaki menuju tempat klinik tersebut. Ketika dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Nenek-nenek yang ada di pinggir jalan. Ilya dan Finna menghampiri nenek tersebut dan menuntunnya menyebrangi jalanan ramai itu.


"Terimakasih nak," kata nenek itu ketika sudah menyebrangi jalan.


"Iya nek sama-sama," kata Finna. Ilya hanya tersenyum.


Nenek itu memandang Ilya. "Nak, jaga ibu dan adik-adik kamu, karena mereka dalam bahaya." kata nenek itu. Ilya bingung, kenapa dia mengucapkan  nama ibu dan adik-adiknya. Nenek itu pergi dan menghilang entah ke mana. 


Setelah mendengar ucapan sang nenek, Ilya menjadi sering melamun. Kini perasaan Ilya jadi tidak tenang karena ucapan sang nenek itu. 


Disatu sisi kini Galis dan Sarae sudah berada di rumah Mamah Ilya. Galis sudah menyandera mereka di sebuah gudang yang ada di rumah tersebut.


Mamah Ilya dan kedua anaknya sudah disekap dan diikat pada sebuah kursi mata mereka pun ditutup kain teba, tak hanya mata mulut mereka juga disumpal dengan kain kotak-kotak.


"Mmmm," jeritan mamah Ilya.


"Ada apa tante. Apa tante haus?" tanya Galis tersenyum licik.

__ADS_1


"Hahaha. Biarkan dia dehidrasi, biar dia mati sekalian," kata Sarae menjambak rambut panjang Mamah Ilya.


"Mmm," jeritan Mamah Ilya semakin kencang karena menahan sakit akibat jambakan Sarae.


"Kita telepon putri kesayangannya. Agar dia menjauhi Marha," kata Sarae.


"Oke. Dimana ponselmu?" kata Galis.


"Di tas yang ada pisau lipatnya," jawab Sarae.


Galis mengambil ponsel milik Ilya dan mencari nama Ilya di kontak telepon tersebut.


"Sarae, apa nama kontak jal*ng itu?" kata Galis.


"Jal*ng, karena lebih cocok dia pake nama itu," jawab Sarae.


Galis menelpon Ilya tidak menunggu waktu lama telepon pun tersambung. Galis berdehem untuk mengawali pembicaraan.


"Halo," sapa Ilya dari seberang telepon.


"Hai, Ilya," kata Galis menjawab sapaan Ilya.


"Dr. Sarae, ini telepon milik dr. Sarae kan?" tanya Ilya.


Sarae langsung mengambil ponselnya dari tangan Galis. Karena ia tidak ingin bertele-tele.


"Iya ini gue," kata Sarae.


"Ada apa dr. Sarae menghubungi saya?" tanya Ilya polos.


"Jauhi Marha, atau ibu kamu yang aku siksa," ancaman Sarae membuat Ilya semakin tak karuan


"Apa yang kamu lakukan kepada ibu saya?" kata Ilya yang mulai terpancing emosi.


Kemudian Galis membuka penutup mulut yang sedari tadi menutupi mulut Mamah Ilya. Sarae menjambak rambut Mamah Ilya dengan sangat kencang.


"Aaaaa," teriakan Mamah Ilya ketika rambutnya dijambak oleh Sarae.


"Tolong, tolong lepaskan Mamah saya," kata Ilyaa yang mulai meneteskan air mata.


"Jauhi Marha jika lo ingin ibu lo selamat," kata Sarae dengan penuh penekanan pada setiap kalimatnya. Kemudian panggilan ditutup.

__ADS_1


"Mamaaaah, hiks...hiks," tangis Ilya pecah ketika panggilan ditutup.


Finna langsung menghampiri sahabatnya yang sedang menangis sesegukan di kamarnya. Finna mengelus pundak Ilya dan menenangkannya. Sebenarnya Finna tidak tau, kenapa sahabatnya menangis sampai memanggil mamanya berulang kali.


__ADS_2