Anasrasya Putri Harilya (Revisi)

Anasrasya Putri Harilya (Revisi)
Pekerjaan Baru (Revisi)


__ADS_3

Ilya bekerja sebagai dokter kecantikan di sebuah rumah sakit ternama di kota, di pulau Borneo. Rumah sakit yang dikenal memiliki fasilitas mumpuni dan tim medis yang handal. Dan Ilya adalah salah satu dari mereka.


Ada perasaan senang dan sedih ketika Ilya sudah berada di pulau Borneo. Perasaan senang karena ia tak menyangka bahwa ia akan diterima di sebuah rumah sakit yang terkenal itu. Dan sedihnya kali ini ia jauh dari sang mama dan kedua adiknya.


*Keesokan harinya


Ilya begitu bersemangat karena hari ini dimana ia mulai bekerja sesuai dengan profesinya. Ilya sudah siap dengan pakaian kedokteran dan menjinjing tas selempangnya pada bahu kanannya.


Ilya menatap dirinya dari cermin yang begitu besar. Setelah dirasa cukup akan penampilannya hari ini, Ilya pamit kepada sahabat barunya yaitu Finna.


Setelah semua yang dilakukannya selesai, Ilya berangkat ke tempat kerjanya dengan menaiki angkutan umum. Ia sangat canggung, karena banyak pasang mata yang melihatnya dengan tatapan mengagumkan. 


Tidak butuh waktu lama, kini ia sampai di tempat tujuan. Dengan mengucapkan Bismillah, Ilya melangkahkan kakinya dan menghampiri pak satpam yang sedang menjalankan tugasnya.


"Pagi, Pak Trisno," sapa Ilya kepada Pak Trisno yang sedang bertugas.


"Pagi, Dok," jawab pak Trisno dengan tersenyum.


Kemudian Ilya melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam gedung bangunan besar tersebut. Mungkin semua dokter sudah tahu bahwa ada dokter baru yang bekerja di rumah sakit ini. Dan masih ada beberapa dokter yang belum mengetahuinya.


Ilya terus berjalan sambil tersenyum kepada para dokter yang berpapasan dengannya. Ilya kini sudah sampai pada ruangannya. Ruangan yang cukup luas. Ilya tau ruangan tersebut khusus untuknya, karena waktu di-interview dan dinyatakan bahwa ia diterima bekerja di rumah sakit itu, pak Trisno menunjukan ruangan khusus untuknya.


Ilya duduk di kursi kerjanya dan memeriksa data pasien yang sudah memiliki janji dengan dokter sebelum Ilya masuk. Ilya menatap setiap sudut ruangan itu.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya. pintu diketuk begitu pelan, tapi tetap terdengar. Ilya melangkahkan kakinya dengan tujuan membuka pintu.


Ilya membuka pintu dan terlihat seorang dokter cantik yang begitu imut. Rani, nama dokter yang sedang berada di hadapannya. Rani adalah dokter spesialis jantung. Dia menatap Ilya begitu kagum akan kecantikan yang Ilya miliki sejak lahir. Hingga tak sadar bahwa orang yang ada di depannya memperhatikannya dengan bingung.

__ADS_1


Ilya melambaikan tangannya di depan wajah Rani.


"Halo …" kata Ilya. Rina tersadar dari lamunannya.


"Hai …" sapa Ilya lagi, ketika orang yang ada di hadapannya sudah sadar dari lamunannya.


Rina yang merasa malu karena terciduk. Dan kini Rina tersenyum dengan gelagepan.


"Hai, dok." kata Rina mengulurkan tangannya kemudian memperkenalkan diri, "Saya Rina, dokter spesialis jantung disini," ujar Rina. Kemudian Ilya membalas uluran tangan Rina dan ia juga memperkenalkan diri, "Saya Ilya, dokter kecantikan," Ilya tersenyum. Lalu ia mempersilahkan Rina untuk masuk ke dalam ruangannya.


Mereka mengobrol dan bercanda. Tidak butuh waktu lama, kini mereka sangat akrab. Bercanda gurau, bertukar akun media sosial, bertukar nomor handphone, dan keasikan lainnya. Mereka takut jika ada yang mengetahui bahwa mereka sedang bercanda di jam kerja, Rina pamit untuk kembali ke ruangannya.


Ilya keluar dari ruangannya untuk memeriksa pasiennya. 


Disepanjang perjalanan menuju raungan pasiennya, banyak dokter laki-laki yang menatapnya begitu kagum. Ilya hanya menanggapinya dengan senyuman. Ilya sudah sampai di ruangan pasiennya. Ternyata pasiennya mengalami penyakit Rosacea.


Ilya memberikan resep dengan secarik kertas berupa tulisan resep yang perlu ditebus di apotik,contohnya Antibiotik minum, obat tetes mata, dan Salep atau krim wajah yang mengandung oxymetazoline, metronidazole, asam azelaic, atau ivermectin, untuk meredakan kemerahan dan bintik kulit yang menyerupai jerawat.


Setelah memberikan resep tersebut, Ilya keluar dari ruangan pasiennya. Seperti biasa, Ilya selalu ditatap kagum oleh kaum hawa maupun kaum adam.


*Satu bulan kemudian


Ilya kini sudah mendapatkan teman baru, yaitu Rina, Rina adalah dokter jantung. Rani, kembaran Rina tapi dia adalah dokter bedah, dengan perawakan yang tinggi dan juga dengan sifat dewasanya juga tak kalah imut dengan Rina adiknya.


Vian, nama dokter laki-laki yang sekarang berteman dengan Ilya. Vian juga seorang dokter spesialis untuk anak-anak. Tubuhnya yang seperti atletis, gagah, dan penuh senyuman serta humoris.


Alkis, nama singkatan dari Alam Kisniah. Seorang dokter spesialis mata. Juga tak kalah tampan dari Vian.

__ADS_1


Kini mereka sedang ada di sebuah kafe depan rumah sakit tempat mereka bekerja. Tiba-tiba ponsel Ilya berdering, diambilah ponsel tersebut dari tas yang ia bawa. Tertera nama mama di layar ponsel. Ilya mengangkat telepon tersebut dan mengucapkan salam.


"Hallo, Ma," sapa Ilya.


"Hai, Nak. Mama mau minta tolong," kata Mama.


"Tolong apa, Ma?" tanya Ilya.


"Rangga sakit demam, Nak. Sekarang Mama butuh uang buat biaya rumah sakitnya. Mama sudah tidak punya uang. Semua uang sudah habis, untuk makan, bayar kontrakan, dan lain-lain." jelas Mana Ilya panjang lebar.


"Ya sudah. Mama tenang dulu yah. Ilya akan segara mengirimkan uangnya," ucap Ilya berbohong.


Tak lama panggilan telepon pun terputus. Sedari tadi, keempat sahabatnya hanya menyimak apa yang Ilya katakan, karena bahasa yang Ilya gunakan adalah bahasa sunda. (Anggap saja yah Ilya lagi ngomong sama mama nya pake bahasa sunda).


Ilya menatap mereka heran dan bertanya-tanya. 'Kenapa mereka menatapku seperti itu?' batin Ilya bertanya-tanya. Tiba-tiba ia tahu kenapa mereka berekspresi seperti orang yang sedang bingung. 'Ternyata mereka tidak mengerti obrolan aku dengan mama. Bagus deh,' batinnya lagi.


"Kamu ngomong apa, Il?" tanya Rina. Ilya menggelengkan kepalanya. Keempat temannya menghembuskan nafas dengan kasar.


Waktunya para dokter melanjutkan pekerjaannya. Banyaknya pasien yang ditangani oleh Ilya, membuat ia lupa makan. 


Sebuah pengumuman dari grup chat para dokter rumah sakit yang ia tepati. Pengumuman itu berisikan bahwa dua hari lagi akan diadakan rapat untuk para dokter.


Dilihatnya jam yang ada di tangannya bahwa waktu menunjukan sudah sore. Ilya merapikan meja kerjanya dan bergegas pulang.


Perutnya sudah berbunyi, pertanda minta diisi. Ilya mampir di sebuah warung makan dan memesan satu porsi nasi beserta lauknya. Ilya terbiasa dengan makanan rumahan sejak Papanya meninggal.


Kini perutnya sudah kenyang. Ilya melanjutkan perjalanannya dengan menaiki angkot yang lewat di depannya. Tak butuh waktu lama, kini Ilya sampai pada tempat tujuan yaitu kontrakan tempat yang ia tempati sekarang.

__ADS_1


__ADS_2