
Hari mulai sore, jalanan ramai sekali. Ilya mampir di sebuah restoran enak di kota itu. Restoran yang menyajikan makanan sehat dengan harga terjangkau.
Ilya memarkirkan sepeda motornya di depan restoran tersebut. Berjalan menghampiri pintu restoran yang terlihat ramai itu. Saat memasuki pintu restoran, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
"Ilya…." Seseorang berteriak memanggil namanya. Ilya mencari sumber suara tersebut, hingga akhirnya ketemu dan ternyata itu Finna. Ilya menghampiri kedua sahabatnya. Ya, Finna tidak sendirian, melainkan ia datang ke restoran bersama Alkis, pacarnya Finna.
"Hai, Alkis, Finna," sapa Ilya saat ia sampai di depan mereka.
"Halo …." jawab mereka bersamaan.
"Cie, jodoh." Ilya menggoda pasangan yang ada di depannya. Sedangkan sepasang sejoli itu hanya tersenyum dan saling mencuri pandang.
"Aamiin." ucap Finna, kemudian mereka duduk di bangku restoran tersebut.
Alkis memanggil seorang pelayan. Pelayan tersebut pun datang menghampiri Alkis. Alkis menanyakan kepada kedua wanita itu dan langsung dijawab oleh mereka. Pelayan tersebut pun meninggalkan mereka untuk membuatkan apa yang ketiga pelanggannya pesan.
"Kapan kalian nikah?" Pertanyaan yang muncul begitu saja dari mulut Ilya. Sedangkan dua sejoli yang ditanyakan oleh Ilya hanya tersenyum dan saling pandang. Kemudian menggelengkan kepala.
"Rahasia!" jawab mereka kompak. Ilya yang mendengar jawaban mereka, hanya bisa menghembuskan nafas kesal.
Setelah dirasa cukup lama berada di restoran tersebut, Ilya pamit pulang kepada pasangan muda itu yang sedang asyik pacaran. Awalnya Ilya mengajak Finna pulang bareng, melihat jawaban dari Finna yang mengisyaratkan dengan matanya yang melirik Alkis berkali-kali, Ilya pun mengerti. Kemudian ia pamit dan menuju tempat motornya berada.
Melaju dengan kecepatan pelan, karena jalanan yang masih ramai. Waktu menunjukan pukul 19:00, menurutnya ini sudah malam. Menurut Ilya, pukul 19:00 adalah waktunya untuk membaca buku novel kesayangannya. Tapi, Ilya memilih untuk membersihkan badannya yang lengket itu.
Mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi. Cape, itulah yang Ilya rasakan saat ini. Ya, jadi dokter bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu. Waktu untuk bersenang-senang, waktu bersama keluarga, bahkan waktu untuk istirahat saja kurang. Tapi dengan pekerjaan ini, Ilya setidaknya bisa menabung untuk masa depan adik-adiknya.
Setelah membersihkan diri, Ilya keluar dari kamarnya. Menonton tv dan membuka laptopnya. Ponselnya ia tinggalkan di dalam kamar. Sibuk mengotak-ngatik laptopnya, laptop yang setia menemaninya saat mengerjakan tugas kuliah. Laptop yang selalu digunakan untuk menonton drama Korea, kini sudah lecet penuh goresan. Sebenarnya Ilya niat sekali mengganti laptop yang lecetnya dengan yang baru. Namun di pikirannya lebih mengutamakan masa depan adik-adiknya.
__ADS_1
Mengerjakan tugas, berhadapan dengan laptop dan beberapa berkas, juga tv yang masih setia menemani kesunyian di ruangan itu. Sesekali melihat jam dinding, karena menurutnya masih sore, Ilya melanjutkan kerjaannya.
Tidak terasa, jam menunjukan pukul 22:00. Namun Finna belum pulang juga. Ilya mencari ponselnya, namun tidak juga menemukannya. Dan kini ia ingat, bahwa ponselnya sekarang ada di kamarnya. Ilya setengah berlari menuju kamarnya. Dilihatnya sepuluh panggilan tak terjawab dari sahabatnya, Finna.
Ketika Ilya hendak menelpon balik, tapi sudah keduluan oleh Finna. Finna menelpon Ilya, diangkatnya panggilan tersebut. Terdengar bahwa Finna sedang menguap, selesai menguap, Finna mengucapkan salam. Kemudian langsung marah-marah.
"Ampun deh, Ilya. Kamu kemana aja? Ditelepon nggak diangkat-angkat." Finna terus berkata, sampai Ilya menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Maaf, tadi aku sedang mengerjakan tugas. Lupa kalau ponselku ada di kamar," jawab Ilya jujur.
"Jadi gini, aku hari ini nggak bisa pulang. Jadi kamu malam ini sendirian," jelas Finna.
"Kamu di mana?" tanya Ilya.
"Aku sedang berada di rumah Alkis. Calon mertua ku tidak mengizinkan aku pulang, jadi aku nginap di sini deh." Finna menjelaskan semuanya, sedangkan Ilya hanya mengucak-ngucak matanya karena rasa kantuknya tiba.
Kemudian Ilya keluar dari kamarnya. Mengunci pintu dan jendela agar tidak ada maling masuk. Kembali ke kamar, merebahkan badannya karena rasa pegal menggerogoti badannya. Laptop dan beberapa berkasnya masih ada di ruangan di samping ruang tamu.
*Keesokan paginya
Ilya bangun pagi-pagi, menyiapkan segala keperluannya, melaksanakan shalat subuh, dan kegiatan pagi lainnya. Suara klakson mobil berbunyi dari luar.
Tiiit …
Ilya keluar dari kamarnya dan melihat siapa pemilik dari mobil tersebut dari kaca jendela. Dilihatnya seorang wanita cantik yang tidak asing lagi bagi dirinya, yaitu Finna. Finna keluar dari mobil Alkis dengan menjinjing kantong kresek ukuran sedang.
Ilya menghampiri dua sejoli itu dan menyapanya. Kemudian, Ilya menawarkan bantuan kepada Finna agar Ilya saja yang membawa kantong yang dibawa Finna. Ilya masuk ke rumah terlebih dahulu, kemudian Ilya keluar, dan ternyata mobil Alkis sudah melaju.
__ADS_1
Finna berjalan ke arah Ilya, Ilya hanya diam memperhatikan Finna yang menghampirinya. Ilya yang sudah rapi dengan pakaian putih, jas kedokterannya sudah terpasang di badannya.
"Sudah rapi saja kamu, Ilya." Finna berkata sambil menepuk pundak Ilya.
Ilya menganggukan kepalanya, " Sudah dong, kan mau berangkat kerja."
Finna masuk ke dalam rumah, sementara Ilya sedang asyik minum secangkir teh di teras depan rumah. Teh yang diminum Ilya sudah habis, saatnya ia berangkat bekerja. Diambilnya tas yang selalu Ilya bawa saat berangkat ke rumah sakit. Tas yang hanya berisi beberapa permen dan beberapa kartu pribadinya.
Mengendarai motor. Melaju dengan kecepatan normal. Mengisi jalanan yang sudah padat dengan kendaraan mobil dan motor, juga beberapa sepeda dan pejalan kaki yang berjalan di trotoar samping jalan raya itu.
Setelah sekian lama mengendarai motor, akhirnya sampai juga di rumah sakit tempat ia bekerja. Memarkirkan motornya dan melangkahkan kakinya menuju gerbang rumah sakit.
Menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya. Dengan senang hati pula orang yang selalu berpapasan dengan dokter cantik itu membalas senyuman Ilya.
"Ilya." Panggilan yang begitu nyaring di iringi langkah kaki yang sedikit berlari. Ilya menoleh ke belakang, kemudian berhenti sejenak menunggu seseorang yang memanggilnya tadi.
"Pagi, Rin," sapa Ilya saat mereka melanjutkan perjalanannya.
"Pagi. Kamu jalannya cepet, hah … hah …." jawab Rina dengan nafas terengah-engah.
"Hehehe," Ilya hanya tersenyum cengengesan.
Mereka berjalan santai menuju ruangan masing-masing. Bibirnya selalu tersenyum setiap bertegur sapa.
"Dah, Ilya, aku duluan." Rina masuk ke dalam ruangannya. Ilya tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Dan akhirnya tiba di depan ruangannya sendiri. Membuka pintu, melanjutkan langkahnya menuju kursi kekuasaannya. Duduk. Meletakan tas yang selalu ia bawa. Dan membuka laptopnya.
__ADS_1