
Mereka sungguh merindukan sosok kakaknya yang seperti pahlawan kedua baginya. Setiap tidur mereka memeluk foto sang kakak yang mereka rindukan.
"Kak, kami sangat rindu, kakak." kata Rangga pelan dan terus menangis.
"Cepat pulang, kak" katanya lagi.
Rangga tidak bisa tidur. Matanya yang bulat, kini seperti mata panda. Rangga terus memeluk foto kakaknya dan menangisi dalam diam.
Keesokan paginya. Mereka bangun dari tidurnya. Cahaya yang menghangatkan dan menyilaukan di setiap celah gorden. Setelah selesai mandi, mereka turun ke bawah untuk sarapan. Selesai sarapan, mereka berangkat ke sekolah.
"Om, kami masuk ke sekolah dulu yah," pamit Rangga.
Radit sudah disekolahkan di Taman Kanak (TK), Rangga sudah kelas tiga Sekolah Dasar (SD).
"Iya, belajar yang rajin yah." kata Marha. Kemudian mobilnya melaju dengan normal meninggalkan dua anak itu.
"Dit, masuk yuk." ajak Rangga menarik tangan adiknya. Radit hanya mengikuti langkah kakaknya dari belakang
Waktu istirahat sekolah telah tiba. Mereka lupa membawa bekal dari rumah. Hingga memilih makan siang di kantin yang ada di sekolah. Mereka memesan dua porsi nasi uduk dan memakannya di tempat duduk yang sudah tersediakan.
Tiba-tiba seorang anak gadis menghampiri mereka. Lolita, nama anak gadis itu. Lolita berumur enam tahun, gadis cantik berkulit putih. Lolita duduk disamping Radit.
"Hai, boleh aku duduk disini?" tanya Loli.
Rangga hanya menganggukan kepalanya.
Mereka memakan makanan yang mereka pesan. Sebelum jam istirahat berakhir, Lolita melemparkan sebuah pertanyaan kepada mereka.
__ADS_1
"Kenalkan nama aku Lolita. Panggil aja Loli," kata gadis mungil itu.
"Aku Rangga, ini adik aku Radit," kata Rangga singkat tanpa sebuah senyuman. Sedangkan Radit tersenyum ceria.
Kriiing … kriiing … kriiing
Bel berbunyi pertanda bahwa istirahat telah berakhir. Banyak siswa yang berlarian meninggalkan kantin tersebut dan menuju kelas masing-masing.
*Tempat Ilya.
Ilya tinggal di tempat kontrakan. Kini prosesnya bukan seorang dokter lagi, melainkan seorang pegawai toko. Awalnya Ilya tidak sanggup menerima takdir yang begitu kejam, hingga ia berani mengambil resiko. Kenapa Ilya harus pindah negara? Sedangkan di negara yang Ilya tinggal sekarang belum tentu adiknya ada disana?.
Ilya tidak kuat akan kenangan yang ia lalui dulu bersama mamanya dan adik-adik tercintanya. Ia lebih memilih untuk tidak mengganggu keluarga Marha. Namun kini ia sadar. Bahwa pilihannya sekarang adalah sebuah pilihan yang salah.
Setelah dua tahun Ilya berada di negara orang, ia pulang untuk melanjutkan tujuannya, yaitu mencari kedua adiknya.
Ilya melihat Sarae berjalan bersama seorang pria yang sedang mendorong kereta bayi. Ilya bertanya-tanya, siapa orang yang bersama sarae, batin Ilya.
Ilya menaiki taxi yang lewat di depannya. Karena perjalanan menuju bandara memakan waktu lama, ia tertidur di dalam taxi itu.
Waktu begitu cepat. Ilya sampai di bandara, tempat ia akan menuju ke negara kelahirannya. Masih ada satu jam untuk penerbangan. Ia memilih untuk makan siang karena waktu sudah menunjukan pukul 14.00.
Ilya menuju restoran cepat saji untuk mengisi perutnya yang sudah mulai keroncongan. Dipesannya satu porsi pasta yang akan ia makan untuk makan siang kali ini. Selesai makan siang, Ilya mengelilingi bandara dan menghampiri toko oleh-oleh untuk adik-adiknya saat ia bertemu nanti.
Dibelikannya enam pasang baju dengan ukuran berbeda. Masing masing mendapatkan dua pasang baju untuk ia dan adik-adiknya. Tak hanya baju, ia juga membeli beberapa aksesoris gelang, kalung dan anting-anting lainnya.
Ilya teringat kepada Jesy, betapa baiknya Jesy kepada keluarganya dulu. Ilya juga membelikan mug besar untuk Jesy dan memberikannya saat ia sampai nanti.
__ADS_1
Bandara yang begitu luas. Yang berisikan para turis yang hendak pulang ke negaranya maupun berlibur.
Ditatapnya sebuah taman yang begitu rapi di depan bandara. Namun waktu sudah menunjukan saatnya pesawat yang Ilya naiki akan mulai terbang. Dengan langkah kaki yang sedikit berlari, Ilya menggendong tas kecilnya dan mendorong kopernya. Pesawat sudah melaju dan sudah berada di atas awan. Terukirnya sebuah senyuman manis. Kembalinya teringat akan kenangan sang mama serta adik-adiknya yang sangat ia rindu.
Waktu begitu cepat. Ilya sudah sampai di negara tercintanya yaitu Indonesia. Dihirupnya udara segar setelah keluar dari pintu pesawat. Kemudian ia berjalan mencari pintu keluar.
Tak menunggu waktu lama. Hari mulai sore, Ilya mencari hotel yang murah untuk menginap malam ini. Setibanya di hotel, ia membaringkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa lelah akibat perjalanan hari ini.
Ilya mencari kontrakan kecil lewat media sosial dan bertanya kepada sahabatnya.Ilya mendapatkan banyak tawaran agar ia bisa tinggal bersama sahabatnya. Ilya menolak dengan alasan tidak ingin menyusahkan orang lain.
Ilya terus memandangi foto adiknya yang ada di layar handphone-nya. Tiba-tiba air matanya terjatuh begitu deras. Sungguh ia sangat merindukan adik-adiknya yang kini jauh darinya. Ilya mendapatkan kabar bahwa ada sebuah kontrakan kecil dengan harga terjangkau. Namun dilihat dari lokasinya yang lumayan dekat dari hotel yang ia inap hari ini.
Keesokan paginya, Ilya mampir ke makan mama dan papa nya untuk mendoakan mereka. Ilya lagi-lagi menangis, ia merasa bahwa akhir-akhir ini dirinya sangat cengeng. Hampir setiap hari menangis.
"Ma, pa Ilya nggak bisa jaga Rangga dan Radit. Nyatanya sudah dua tahun Ilya mencari mereka namun masih belum menemukannya juga. Ilya minta maaf ma, pah," kata Ilya yang mulai menangis sesegukan.
"Ilya nggak mampu menjaga mereka tanpa kalian. Hiks … hiks," katanya lagi.
Ilya menangis sesegukan diantara dua makam itu. Seketika ingatan akan kenangan manis saat mereka masih ada terlintas di benaknya. Dipanjatkan sebuah do'a agar kedua orang tuanya selalu bahagia di surga-nya Allah. Setelah ia selesai berziarah ke makam kedua orang tuanya, ia melanjutkan perjalanannya ke kontrakan yang ia cari tau semalam.
*Rangga dan Radit.
Hari-hari mereka seperti biasa. Hidup bahagia namun masih belum lengkap ketika orang yang mereka sayangi tidak ada disampingnya. Hari ini adalah hari minggu. Rencana mereka dipagi ini akan mendoakan sang mama dan papa nya selalu bahagia di alam sana.
```````````````````
Maafkan aku yang sangat jarang sekali untuk up. Mohon dukung novel aku. Hiks… sedih aku kalau tiba-tiba pembaca turun drastis. Tapi ini juga kesalahanku yang jarang banget untuk up. Jangan lupa like, komen, vote, rate, dan tambahkan ke fav kalian yah😀
__ADS_1