
*Ditempat Marha
Semenjak bertemu dengan Ilya, Marha merasa bahwa Ilya adalah istrinya dulu. Kecantikan yang dimiliki Ilya, membuat Marha betah berada di rumah sakit tersebut. Yang awalnya hanya memenuhi keinginan daddy nya agar tidak terlalu lelah dalam menangani setiap masalah pada rumah sakit yang dibangunnya. Kini semakin lama semakin betah berada di rumah sakit dalam waktu lama. Ruangan yang begitu luas, sengaja didesain ulang sesuai selera Marha.
Ruangan yang hanya diperbolehkan masuk untuk orang-orang tertentu. Ruangan yang berada di lantai tiga.
Marha sedang sibuk memandangi layar laptopnya sambil tangannya menari di keyboard begitu lincah. Sambil sesekali membuka berkas-berkas hasil laporan para dokter.
Tiba-tiba seorang wanita cantik datang menghampirinya. Tanpa pikir panjang wanita itu duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Marha memang sudah terbiasa melihat wanita itu.
Sera terlahir dari keluarga yang sederhana. Ia pintar dalam bidang menggambar dan menghitung. Sosok gadis cantik yang lugu dalam bertindak. Manja kepada orang yang ia sayang, dan cuek pada orang yang ia benci.
"Kapan kamu pulang, Dek?" Marha bangun dari kursinya.
"Barusan, tuh kopernya masih ada di luar ruangan," jawab santai wanita itu. Sera Rahsyah.
Sera Rahsyah. Gadis cantik yang cukup bar-bar, jika tidak menyukai seseorang maka ia akan bicara langsung di depan orang tersebut.
Sera dari bandara langsung ke rumah sakit, memberikan kejutan untuk kakaknya. Ia meneruskan pendidikannya di Universitas luar negeri, yaitu di Yunani.
Sera adalah anak angkat. Karen sewaktu ia kecil, mama dan papanya meninggal karena penyakit yang diderita mereka masing-masing. Papanya memiliki penyakit jantung, dan mamanya mengalami stroke berat. Sehingga membuat sang ibu tak bisa berbicara dan akhirnya lumpuh dan meninggal beberapa bulan setelah penyakit itu melanda.
Kedua orang tua Sera meninggal saat ia berusia 6 tahun. Waktu itu Sera sering bolak-balik ke rumah sakit milik Joe. Sang pemilik rumah sakit seringkali melihat Sera berkeliaran seorang diri sambil menangis. Hingga akhirnya mommy dan daddynya Marha mengadopsi Sera saat mama Sera sudah meninggal. (Itulah cerita singkat Sera diangkat jadi anak Nie dan Joe).
"Kak, kakak kapan sih nikahnya?" tanya Sera sambil tersenyum.
"Kenapa, Dek? Kok kamu pulang-pulang bertanya begitu. Tanya kabar kakak kek, mommy atau dedy kek. Kamu datang malah nanya kayak gitu." Marha bangun dari kursi sofa dan mulai membuka laptopnya.
"Maaf, kak. Kakak apa kabar? Mommy sama daddy sehat, kan?" Sera menghampiri kakaknya.
"Kakak sehat, Dek. Mom sama dad juga sehat. Sudah sana pulang," usir Marha halus.
"Iya nih aku pulang." Sera langsung keluar dari ruangan kakaknya.
Sera turun ke lantai bawah. Mencari pintu keluar yang lebih dekat dengan parkiran. Berjalan santai sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba ia bertabrakan dengan seorang dokter cantik. Ya, dokter cantik itu adalah Ilya.
__ADS_1
Sera terjatuh dan ponsel yang dipegangnya juga ikut terjatuh mencelat. Ilya menyodorkan tangannya, bermaksud membantu Sera berdiri. Begitupun dengan Sera, ia menerima uluran tangan Ilya.
"Kamu tidak apa-apa?" Ilya bertanya saat Sera sudah berdiri.
"Tidak apa-apa. Bisa tolong ambilkan ponselku," pinta Sera. Ilya langsung mengambil ponsel Sera, yang kebetulan jatuhnya di dekat Ilya.
"Ini." Ilya menyerahkan ponsel itu kepada sang pemiliknya.
Sera memandangi wajah cantik Ilya. Begitu mempesona, menurutnya. Dari bawah sampai ke atas, dipandangi terus penampilan Ilya olehnya. Cantik dengan make up natural, tanpa perhiasan. Hanya ada arloji yang melilit di tangannya.
"Mbak." Ilya melambaikan tangannya di depan wajah Sera.
Sera pun tersadar dari pandangannya. Sera pikir Ilya adalah Gia. Sehingga Sera menatap Ilya begitu fokus.
"Dokter baru di sini, ya?" Sera bertanya untuk mengurangi rasa penasarannya.
"Lumayan lama," jawab Ilya.
"Kenalkan, aku Sera." Sera memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Ia merasa nyaman ketika bertemu dengan Ilya.
Sera melihat arlojinya, waktu menunjukan bahwa hari sudah sore. Akan tetapi ia juga ingin mengenal lebih dalam tentang orang yang kini ada di depannya.
"Maaf, Dok. Saya harus pergi sekarang, lain kali kita berbincang lagi. Itupun kalau Dokternya mau," kata Sera.
"Iya tidak apa-apa. Saya punya banyak waktu untuk berbicara dengan Anda," jawab Ilya dengan bahasa yang baku.
Sera setengah berlari sambil berteriak, "Lain kali kita jumpa lagi!" Teriakan yang begitu menggema. Ilya hanya melambaikan tangannya.
Sera keluar dari gedung besar itu. Berjalan sambil mendorong kopernya. Ternyata ia sudah dijemput oleh supir pribadi keluarganya.
Suasana kota yang dirindukan kini terbalas dengan pulang ke tanah kelahirannya. Melihat gedung yang begitu tinggi, jalanan yang begitu ramai, dan taman kota yang begitu padat.
Tak menunggu waktu lama, Sera pun sampai di rumah yang begitu mewah. Langkah kakinya mulai menaiki anak tangga satu persatu. Taman di samping rumah yang begitu hijau alami.
Sera mulai mengetuk pintu. Dibuka lah pintu itu oleh pembantu yang ada di rumah. Kini langkah Sera mulai memasuki rumah yang luas itu. Seorang wanita paruh baya sedang memperhatikannya dari anak tangga, dan menuju di mana Sera sedang menatapnya dengan penuh kerinduan.
__ADS_1
"Mommy!" Sera berlari menuju Nie. Begitupun dengan Nie, Nie langsung menuruni anak tangga begitu cepat.
Mereka pun berpelukan, saling menanyakan kabar, kesibukan saat di luar negeri dan masih banyak lagi.
"Mommy, aku tadi mampir dulu ke rumah sakit. Terus ketemu sama dokter cantik, mirip kayak kak Gia," seru Sera.
"Siapa namanya, Dek?" Mommy mulai penasaran.
"Namanya Ilya, Mom. Cantik, aku kira dia itu beneran kak Gia," jawab Sera
"Dari namanya saja sudah cantik, apalagi orangnya." Nie semakin penasaran.
"Nanti aku mau nanya sama kak Marha, biar dia yang jawab. Aku ke kamar yah, Mom. Cape." Sera meninggalkan Nie sendirian yang sedang membaca majalah.
*Di rumah sakit
Ilya sedang bersantai, karena semua pekerjaannya sudah ia selesaikan dengan cepat dan teliti. Tiba-tiba ponselnya berdering, panggilan video dari sang mama. Diangkatnya panggilan video tersebut, tampak dua anak kecil dengan senyuman yang mengembang, begitupun dengan Ilya. Ia sangat rindu melihat senyuman itu.
"Kakak!" Dua anak itu berteriak dari seberang telepon. Ilya tersenyum senang.
"Iya, Dek. Kalian apa kabar?" tanya Ilya.
"Aku sehat kok, Kak," jawab Rangga.
"Radit juga sehat," jawab Radit.
"Kakak kapan pulang?" tanya Radit.
"Kakak pulangnya minggu depan. Tapi kakak nggak janji, yah," kata Ilya.
Mereka asyik mengobrol, bercanda ria, tertawa lepas. Hingga lupa waktu, bahwa sudah saatnya ia memeriksa pasiennya.
Pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Ilya pun menutup panggilan video itu. Menaruh ponselnya ke saku jas putih yang ia pakai. Dan berjalan menuju pintu yang diketuk itu.
Dibuka lah pintu tersebut. Seorang wanita cantik yang begitu imut, siapa lagi kalau bukan, Rani. Mereka masuk dan duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut. Kebetulan Rani membawa dua cangkir kopi, untuk minuman mereka saat merasa haus.
__ADS_1