
Marha langsung menaiki anak tangga dan langsung segera mengambil kunci mobil dan memasangkan arloji pada pergelangan tangannya. Marha melihat dirinya dari cermin. Setelah dirasa cukup puas akan penampilannya hari ini, ia pun turun dan segera menuju garasi.
Marha mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Marha langsung menuju kafe yang memang dekat dengan rumah sakit tempat temannya bekerja. Juga rumah sakit yang akan ia pimpin.
*Tempat Ilya
Meski sudah satu hari berlalu semenjak kejadian ia yang hampir tertabrak, tapi Ilya ingat betul kejadian itu. Awalnya ia ingin marah-marah, namun tiba-tiba ia tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun saat siapa pemilik mobil tersebut keluar.
Ilya juga tidak menyadari bahwa dirinya mematung dan hanya berdiam diri. Setelah pandangan matanya menatap seorang pria dengan gagahnya berdiri di hadapannya, ia langsung pergi meninggalkan tempat kejadian.
Ya, hari ini ia tidak berangkat bekerja. Ilya mengambil cuti, karena sebuah kesibukan yang ada di klinik tempat ia bekerja bersama sahabatnya, Finna.
Klinik sangat ramai, para tenaga medis cukup kewalahan menangani para pasien yang mengalami tabrakan pada pukul 02:00 dini hari. Ilya ditemani oleh beberapa para perawat untuk membantu pasiennya yang dalam masa gawat darurat.
Rumah sakit masih sangat jauh dari tempat kejadian. Maka dari itu para pasien dilarikan ke klinik terdekat. Sebagai penolongan pertama, Ilya sudah siap dengan alat-alat kedokterannya. Dibantu dengan beberapa perawat yang setia menemaninya dan membantunya mengambil kebutuhan yang Ilya perintahkan.
Setengah jam berlalu. Ilya masih harus berhadapan dengan pasien-pasien tersebut dan akhirnya selesai juga.
Ilya ingat akan ada rapat di rumah sakit tempat ia bekerja. Ilya juga sudah bersiap, karena rapat kali ini bukan masalah serius. Ia berpikir hanya sebatas pengumuman.
Hari mulai sore, matahari masih menyinar bumi dengan kehangatannya. Ilya keluar dari klinik untuk mencari makanan. Perutnya sedari tadi sudah berbunyi.
Tukang siomay terlihat di seberang jalan dengan mendorong gerobaknya. Jalanan masih ramai, ketika tukang siomay itu berhenti dan langsung digerebek oleh para pembeli.
Ilya menyebrangi jalanan ramai tersebut ketika lampu merah tiba. Dengan langkah cepat, ia sudah sampai pada pedagang siomay tersebut. Sambil menunggu pesanannya sudah siap, Ilya memainkan ponselnya. Mengetik keyboard dengan begitu lincah dan cepat untuk membalas pesan WhatsApp dari sahabatnya.
Ketika pesanan siomay milik Ilya sudah siap, Ilya melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa melihat ke depan. Dan tiba-tiba Ilya menabrak seseorang.
__ADS_1
Bugh....
Ilya terjatuh dan mengeluh karena kesakitan. Seseorang mengulurkan tangannya bermaksud untuk menolongnya dan segera bangkit. diterimanya uluran tangan tersebut tanpa melihat si pemilik tangan tersebut. Ilya mengibaskan bajunya agar noda pasir yang menempel di bajunya sedikit menghilang.
"Apa masih sakit?" tanya seseorang dengan suara bassnya tapi tetap terdengar santai.
Ilya langsung mendongakkan kepalanya dan menatap sekilas wajah laki-laki itu. Sontak Ilya langsung memundurkan langkah kakinya. Ketika ia ingin meninggalkan tempat itu, namun tangannya sudah ditahan oleh lengan kekar milik laki-laki yang ada di hadapannya.
"Kamu mau kemana?" tanya laki-laki yang ada di hadapan Ilya.
Seorang laki-laki yang ada di depannya adalah Marha. Entah kenapa Ilya selalu menjauhi Marha, jika Marha mendekatinya.
"A … aku mau kembali ke klinik." ujar Ilya sambil menunjukkan tangannya di seberang jalan tempat klinik berada.
Marha hanya mengangguk. Ilya langsung menyebrangi jalanan sepi itu. Sungguh jantungnya sekarang terasa berdetak lebih cepat dari sebelumnya. 'Perasaan apa ini? Kenapa jantungku berdetak sangat cepat?' tanya Ilya pada dirinya sendiri.
Kini mereka sampai pada tempat tinggal mereka. Dan bersiap-siap membersihkan diri. Setelah selesai, mereka mengobrol di teras depan rumah.
Hari sudah larut. Mereka tertidur di kamar Ilya. Hari-hari yang Ilya jalani adalah hari yang melelahkan. Menjadi dokter bukan suatu hal yang mudah. Butuh perjuangan untuk mengembalikan keadaan pasien untuk kembali sadar.
*Keesokan paginya.
Hari ini Ilya bangun kesiangan. Kemarin ia merasa sangat lelah, sehingga ketika alarm jam berdering ia tidak mendengarnya. Diraihnya ponsel yang ada di nakas sisi ranjang tempat tidurnya, dan melihat jam yang ada di layar ponselnya bahwa waktu menunjukan pukul 08:00 pagi.
Ilya langsung berdiri dari ranjang dan mengambil handuk yang ada di lemari. Dengan langkah tergesa-gesa Ilya terjatuh dan kepalanya terbentur pada pintu kamarnya.
Memar dan merah sudah membekas pada keningnya. Sakit ketika disentuh. Kini ia sudah siap dengan pakaian kerjanya. Ilya memperhatikan dirinya dari kaca besar yang ada di kamarnya. Setelah dirasa cukup puas dengan penampilannya sekarang, ia pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan rumah.
__ADS_1
Perjalanan menuju rumah sakit memang cukup memakan waktu banyak. Kini ia benar-benar terlambat.
Semua dokter sudah berada di ruangan meeting. Ilya dengan langkah malu-malu memasuki ruangan tersebut.
"Permisi, maaf saya terlambat." ucap Ilya sambil membungkukan badannya. Semua mata tertuju padanya.
"Silahkan duduk," ucap seorang laki-laki dengan lembut.
"Terima kasih." ujar Ilya kemudian ia duduk di sebelah Rina.
Mereka menyimak apa yang dikatakan pemimpinnya. Dan datanglah seorang laki-laki dengan pakaian rapi dan sangat menawan, sambil membawa beberapa berkas di tas yang dijinjingnya.
"Oke. Perhatikan semuanya. Kita kedatangan tamu spesial, yaitu anak dari pemilik rumah sakit ini. Berikan tepuk tangan." ujar seorang laki-laki yang memimpin rapat pagi ini, kemudian mereka bertepuk tangan.
Seketika mata Ilya seperti terkunci. Matanya memandangi seseorang yang melangkahkan kakinya dan memasuki ruangan tersebut. Ya, dia adalah Marha. Marha adalah anak dari pemilik rumah sakit tempat Ilya bekerja.
Begitupun dengan mata Marha yang terus memandangi Ilya sambil terus melangkah. Ilya yang ditatap langsung oleh Marha, ia langsung menundukan kepalanya. Ada rasa canggung, deg-degan, dan perasaannya campur aduk.
'Ternyata dia dokter di sini juga,' kata Marha dalam hati.
"Silahkan pak Marha memperkenalkan diri." Marha menganggukan kepalanya.
"Selamat pagi semua. Perkenalkan, saya Aditia Marha Rahsyah akan menggantikan posisi ayah saya sebagai pemilik rumah sakit ini." ucap Marha dengan tegas dan diiringi tepuk tangan dari semua orang yang ada di ruangan meeting tersebut.
Meeting telah usai. Semua dokter mulai melaksanakan tugasnya masing-masing. Termasuk Ilya dan para sahabatnya. Hari ini pasien di rumah sakit tempatnya bekerja tidak banyak. Sebuah kerja keras para tenaga medis membuahkan hasil, banyak pasien yang sembuh tanpa harus berlama-lama menginap di rumah sakit.
Marha adalah seorang lelaki yang sudah memiliki darah kedokteran, karena keturunan dari seorang profesor. Ya, kakeknya adalah seorang profesor, yang telah menemukan obat-obatan tradisional dari sebuah tanaman herbal.
__ADS_1