Anasrasya Putri Harilya (Revisi)

Anasrasya Putri Harilya (Revisi)
Meninggalkan Pekerjaan


__ADS_3

Setelah Ilya sedikit lebih tenang, Finna memulai pertanyaanya.


"Ilya, kamu kenapa?" tanya Finna dengan lembut.


"Mamah, Fin Mamah," kata Ilya yang terus meneteskan air matanya.


"Iya, Mamah kamu kenapa?" tanya Finna lagi.


"Mamah sedang disiksa oleh Dr. Sarae dan Galis," kata Ilya.


"Ya ampun. Galis yang menikah dengan pacar kamu?" kata Finna kaget. Ilya menganggukan kepalanya.


"Terus apa yang mereka katakan?" tanya Finna yang seakan mengintrogasi sahabatnya.


"Mereka akan menyiksa Mamah kalau aku terus bertemu dengan pak Marha," kata Ilya.


"Kamu keluar dari rumah sakit itu, kita bikin usaha kecil-kecilan di depan rumah," kata finna mencari solusi.


"Tapi, aku nggak tau harus usaha apa," kata Ilya.


"Sudah jangan dipikirkan, lebih baik kita tidur sekarang." kata Finna dan diangguki oleh Ilya.


Mereka tidur terlelap.


Paginya Ilya sudah siap dengan pakaian rapi. Membawa tas kesayangannya dan mengendarai motor milik sahabatnya.


Sesampainya di rumah sakit, Ilya langsung mengemasi barang-barangnya dan membuat surat mengundurkan diri.


Karena hari masih sangat pagi, ia mampir di Kafe dekat rumah sakit sambil menunggu waktunya untuk menyerahkan surat pengunduran diri tersebut.


"Pagi, Il" sapa Rani.


"Juga," jawab Ilya.


Dokter kembar duduk satu meja dengan Ilya. Mereka sebelumnya sudah memesan kopi. Mereka sedikit heran dengan penampilan Ilya hari ini. Pasalnya hari ini ada rapat untuk para dokter, tapi kenapa Ilya memakai pakaian rapi seperti orang kantoran bukan seperti dokter.


"Ilya, kamu nggak salah pakai baju kan?" tanya Rina. Ilya menggelengkan kepalanya.


"Tapi hari ini ada rapat loh," kata Rina.

__ADS_1


"Iya, aku tau ko kalau hari ini ada rapat," jawab Ilya tersenyum.


"Jadi, kenapa kamu pake baju ini?" tanya Rina.


"Nanti juga kalian tau." kata Ilya yang membuat dua sahabatnya penasaran.


Alan dan Vian menghampiri tiga gadis itu. Mereka duduk dan menyapa selamat pagi kepada tiga gadis itu.


"Dr. Alan dan dr. Vian kenapa kalian baru masuk kerja?" tanya Rani penasaran.


"Tadi kami ada tugas dari bos," jawab Vian enteng. Sedangkan Alan pergi untuk memesan kopi.


"Bos?" kata ketiga gadis itu barengan.


"Dr. Vian, kalau kamu mau jujur coba katakan bos-nya siapa?" tanya Ilya.


"Bos kami siapa lagi kalau bukan Pak Marha," kata Vian yang membuat mereka semakin penasaran.


"Tugas apa yang diberikan Pak Marha?" kata Ilya yang diangguki dua sahabatnya.


"Tugas ke luar kota untuk menangani korban kecelakaan," kata Alan yang baru datang. Kenapa Alan yang menjawab? Karena jika Vian yang menjawab maka dia akan bilang seadanya.


"Nah iya betul yang dikatakan dr. Alan. Thanks kopinya." kata Vian sambil cengengesan.


Kini semua dokter mulai sibuk dengan pasien mereka masing-masing. Hari ini adalah hari minggu itu sebabnya Ilya terus berada di ruangannya, menatapi langit-langit ruangan tersebut. Dan mengingat pertama kali masuk ruangan tersebut. 


Sungguh berat perasaannya untuk meninggalkan pekerjaan yang selama ini mengisi waktu kosongnya. Ilya menitikan air mata dan menghapusnya dengan lembut. Ilya duduk di kursi kebesarannya yang selaku sebagai dokter.


"Demi Mamah, aku akan meninggalkan pekerjaan ini dan mencari pekerjaan yang baru." kata Ilya kepada dirinya sendiri sambil menangis sesegukan.


Seseorang mengetuk pintu ruangan Ilya. Ilya menghapus kasar air mata yang ada di pipinya dan membuka pintu tersebut.


Siang, dr. Ilya" sapa Alan.


"Siang juga, dr. Alan. Apa ada masalah?" tanya Ilya.


"Jadi gini, ada beberapa hal yang belum dr. Ilya masukan dalam dokumen ini," kata Alan sambil menyodorkan dokumen itu. Alan menatap heran ruangan Ilya yang seakan-akan pemiliknya akan pindah. Bahkan terdapat box besar dan amplop coklat di atas box tersebut.


"Ahh maaf atas keteledoran saya. Saya akan memperbaikinya." kata Ilya menerima dokumen dari tangan Alan. Ilya mengerjakannya dengan sangat teliti. Satu jam berlalu. Alan masih berada di ruangan Ilya dan masih menatapnya dengan perasaan heran.

__ADS_1


Ilya sudah menyelesaikan dokumen itu dengan sangat teliti dan menyerahkannya kepada Alan. Alan keluar dari ruangan Ilya. Namun pikirannya masih bertanya-tanya. Dan akan menyuruh anak buahnya untuk memeriksa keadaan mama dan adik-adik Ilya.


Sebelum rapat dimulai, Ilya keluar dari gedung besar itu dan menghampiri satpam yang berjaga.


"Siang, pak Resno" sapa Ilya pada satpam ketika sudah berada di gerbang.


"Siang juga, dr. Ilya" kata pak Resno.


"Ada yang perlu saya bantu," lanjut pak Resno. Karena melihat Ilya membawa box besar.


"Tolong bawa dan ikatkan pada motor punya teman saya ya, pak," kata Ilya meminta tolong.


"Siap, Dok" kata pak Resno membawa box besar itu.


Setelah sampai di tempat parkiran motor, pak Resno mengikatkan box itu pada motor yang dikendarai Ilya. Setelah itu, Ilya menyerahkan amplop yang berisi selembar kertas yang tak lain adalah surat pengunduran diri.


"Pak, tolong berikan pada pak Marha yah," kata Ilya sambil menyodorkan amplop itu.


"Surat apa ini, dok?" tanya pak Resno penasaran. Ilya hanya tersenyum.


"Ini ada uang, tolong diterima walaupun tidak banyak," kata Ilya menyodorkan uang seratus ribu.


"Kalau begitu saya pamit ya, pak. Sampai jumpa," kata Ilya.


"Iya, bu. Terimakasih." kata pak Resno.


Rapat dimulai. Semua dokter dan para perawat lainnya sudah berkumpul di ruangan tersebut. Terkecuali Ilya dan Sarae dan beberapa dokter yang ditugaskan untuk menangani pasien yang gawat darurat. Kalau Sarae tidak ikut rapat itu sudah biasa, tapi yang mereka cari adalah Ilya. Pasalnya Ilya pagi tadi berangkat dan saling menyapa.


Sebenarnya banyak dokter yang heran akan penampilan Ilya yang seakan-akan karyawan kantor. Tapi mereka juga tau bahwa hari minggu adalah hari libur untuk dokter cantik itu.


"Kemana dr. Ilya?" tanya Marha yang baru menyadari bahwa Ilya tidak berada dalam ruangan tersebut.


"Dia bilang, katanya ada keperluan mendadak yang harus ia selesaikan," kata Rani.


Marha menatap Alan. Alan mengerti dengan tatapan Marha yang menatapnya begitu serius. Alan langsung mengedipkan matanya sebagai jawaban bahwa yang dikatakan Rani itu benar.


Ilya kini sampai di rumah. Sebelumnya ia berpikir panjang. Jika ia berpikir bahwa lebih baik ia pulang ke Bandung untuk melindungi mamanya dan adik-adiknya.


Saat sudah tiba di rumah kontrakannya, ia masuk kedalam kamarnya dan mengemasi semua barang miliknya.

__ADS_1


^-^-^-^-^-^-^-^-^》》》


Hai semua. Mohon maafkan author yang jarang up. Author juga manusia punya rasa lelah. Terimakasih sudah membaca karya ku. Jgn lupa dukung karyaku dgn cara like, komen, vote, & tambahkan ke favorit.


__ADS_2