
"Mamaaah," teriak Ilya ketika bayangan mamanya hilang.
Ilya terus berteriak memanggil mamanya. Tiba-tiba suara petir terdengar kencang berhasil membangunkan Ilya dari mimpinya. Ilya berteriak memanggil sang mamah. Finna yang mendengarkan teriakan Ilya, ia langsung membuka pintu kamar Ilya dan masuk kedalam untuk memeluk sahabatnya.
"Mamah…...hiks…..hiks," kata Ilya sesegukan.
"Sabar yah, Ilya. Aku yakin tante ga bakal kenapa-kenapa," kata Finna menenangkan sahabatnya.
Keesokan paginya, mereka berangkat menuju Bandung untuk menyelamatkan mamah dan adik-adik Ilya. Mereka menaiki pesawat dengan penerbangan pukul 07.00.
Setibanya di Bandung mereka langsung menuju tempat pertemuan untuk menyusun siasat bersama Nagit yaitu di Kafe. Namun yang ditunggu tak kunjung datang, hingga menyita banyak waktu.
Tak mereka sangka, ternyata di tempat mereka berada ada beberapa anak buah Galis. Mereka langsung menghubungi bosnya dan memberikan info tentang apa yang mereka lihat.
Galis dan Sarae kaget dan mereka juga menyusun rencana tak kalah kejam dari sebelumnya. Galis membawa cambuk dari rotan dan mulai menyabet mamah Ilya dengan semangat.
Nagit datang bersama mamanya, mereka telat 30 menit. Tanpa basa basi, mereka langsung menuju tempat dimana mamah dan adik-adik Ilya berada. Dalam perjalanan, mereka diikuti oleh anak buah Galis dan Sarae.
Saat mereka sampai, mereka dihadang oleh beberapa anak buah Galis. Mereka berkelahi dan saling memainkan beberapa senjata yang ada di tangan mereka masing-masing.
Dor…..dor…..dor
Suara peluru milik Marha terdengar sangat kencang dan tepat mengenai jantung para anak buah Galis. Namun tak mudah bagi mereka untuk melawan para penjahat itu. Kurang lebih ada 20 penjaga ruangan yang menempati rumah kosong tersebut.
Alan yang terkena pisau lipat di tangan sebelah kirinya. Marha yang terkena tembakan di pundaknya dengan darah segar yang terus mengalir. Namun tidak ada kata menyerah bagi mereka. Ilya terus menangis menanggil nama mamah dan adik-adiknya. Sedangkan mamah Nagit yang ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh mungil Ilya.
Cukup memakan banyak waktu untuk menyelesaikan peperangan ini. Tanpa disadari, mamah Ilya sudah tidak sadarkan diri karena cambukan beracun yang diberikan oleh Sarae untuk mencambuk mamah Ilya.
Kini mereka sudah masuk ke dalam rumah tersebut dan mulai mencari dimana keberadaan orang-orang yang sangat berarti untuk Ilya.
Ilya menatap tubuh seseorang yang penuh dengan bekas luka dari sabetan yang ada di sampingnya. Ilya menghampiri tubuh itu dan menatap wajah yang sangat ia kenali.
"Mamaaaaah," teriak Ilya sembari menggoyangkan badan mamanya.
__ADS_1
Sungguh miris nasibnya. Sementara Alan dan Marha masih mencari si pelaku yang melakukan kejahatan tersebut. Adik-adik Ilya dibawa kabur oleh Sarae. Galis tertangkap dan Sarae berhasil meloloskan diri.
"Galis, mamah ga nyangka kamu berbuat seperti ini!" kata mamah Nagit.
"Mamah! Mah, maafkan Galis. Galis ga akan ulangi lagi," kata Galis dengan penuh kekhawatiran.
"Kamu aku ceraikan," kata Nagit tegas.
"Mas, aku mohon maafkan aku," kata Galis.
Mamah Ilya di bawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penolongan dari pada medis. Air mata Ilya terus mengalir membasahi pipi putihnya. Sungguh kini ia tak kuasa menahan semua musibah diluar dugaannya.
"Pak Marha, dr. Alan, aku udah bilang, kalian jangan ikut!" kata Ilya dengan nada lemah karena terus menangis.
"Kalian kenapa ga dengerin ucapan aku," kata Ilya lagi.
Dokter keluar dari ruangan UGD, dan disambut langsung oleh Ilya, Marha, dan Alan l. Ilya pun mulai bertanya.
"Bagaimana keadaan mamah, dok?" tanya Ilya dengan jantung yang terpacu lebih kencang.
"Apa masih ada harapan untuk sadar?" tanya Ilya.
"Kecil harapan untuk membuatnya sadar." Jawab dokter.
Kini hari-hari Ilya merasa hampa. Hidupnya seperti gelandangan yang kehilangan kekayaan harta. Namun Ilya tak bisa berbuat lebih, karena semuanya telah terenggut oleh waktu.
Tiga hari kemudian.
Mamah Ilya terbangun dari komanya dan memandangi setiap sudut ruangan. Mamah Ilya menatap anaknya yang begitu kurus dan matanya yang membengkak. Dielusnya rambut sang putri dengan penuh sayang.
Ilya yang merasakan ada yang memegang rambut lurusnya dengan panjang sepinggang. Ilya pun terbangun dari mimpinya. Ditatapnya mata coklat milik seseorang yang ia tunggu-tunggu dan tersenyum manis padanya.
"Mamah," kata Ilya. Sang pemilik nama menatapnya penuh senyuman. Meski rasa sakit masih menjalari di tubuhnya.
__ADS_1
"Mah, Ilya panggilkan dokter dulu yah," kata Ilya tersenyum gembira. Mamah Ilya menggelengkan kepala. Ilya menatap bingung wajah sang mamah.
"Dimana adik-adikmu?" tanya Mamah Ilya.
"Mereka ada di rumah kok, mah" kata Ilya berbohong.
"Tolong kamu jaga mereka yah! Kamu juga jaga diri kamu baik-baik. Menikahlah dengan Marha, maka mamah akan bahagia," kata mamah Ilya tersenyum ceria.
"Mamah, kita jaga ade-ade sampai melihat mereka sukses," kata Ilya memegang dan mengelus lembut tangan sang mamah. Mamah Ilya menggelengkan kepalanya.
"Mamah titip mereka yah. Mamah harap kamu bisa menjaga mereka. Maafkan mamah yang pernah memaksa kamu untuk nikah sama om-om," kata mamah Ilya.
Mamah Ilya pun kejang-kejang seperti orang sakaratul maut. Ilya keluar dari ruangan tersebut dan berteriak memanggil dokter. Setelah diperiksa, dokter keluar dari ruangan itu dengan wajah belasungkawanya.
"Mamah bagaimana, dok?" tanya Ilya khawatir.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tuhan berkehendak lain," kata dokter itu.
"Maksud, dokter apa? Mamah saya bisa sembuh kan?" tanya Ilya berlagak seperti orang bod*oh.
"Mamah anda sudah meninggal," kata dokter.
"Ga. Itu ga mungkin. Mamaaah…." teriak Ilya dan menghampiri tubuh tak berdaya itu.
"Mah… hiks….hiks," tangis Ilya pecah ketika melihat orang tersayangnya terbujur kaku tak bernyawa.
"Mamah, kenapa mamah tega." kata Ilya yang terus-menerus menangis.
Acara pemakaman berlangsung. Banyak para kerabat yang turut berduka termasuk sahabatnya dan para dokter lainnya yang pernah bekerja bareng di Balikpapan. Terkecuali Marha dan Alan.
Acara pemakaman telah usai. Ilya masih menangis atas kepergian sang mamah yang ia sayangi. Sahabatnya juga sedih melihatnya menangis dalam duka dan kekhawatiran. Sampai saat ini, Rangga dan Radit masih belum diketahui keberadaannya.
Memang, mereka juga ia larang menemui mamanya dan menemui dirinya. Ilya sungguh benci kepada Alan dan Marha. Ilya belum mengetahui kebenaran yang sebenarnya terjadi. Hingga ia bersikap egois dan tidak ingin mendengar kan penjelasan dari mereka.
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian.
Ilya sudah bisa mengikhlaskan mamanya pergi dari sisinya. Ia juga masih terus mencari keberadaan adik-adik tersayangnya. Kini Ilya tinggal di negara Malaysia. Mengawali hidupnya yang baru. Tak mudah baginya meninggalkan negara tercinta yaitu Indonesia. Namun takdirnya begitu pahit setelah kepergian orang-orang tersayangnya.