
Vie membiarkan tamunya beristirahat dengan tenang selama dua hari. Dia juga tak pernah menemui pria yang dia undang secara sepihak ke rumahnya sama sekali. Pria itu bebas ke mana saja di rumah ini, taman, danau, semua tempat boleh dia datangi. Bahkan kalau pria itu mau ke rumah penyimpanan harta pun mungkin Vie tak akan keberatan. Dia tak peduli asalkan pria penulis itu tetap berada di rumahnya sampai dia mengutarakan apa maksud sebenarnya dia menyuruh pria itu mengikuti dirinya.
Lain halnya dengan pria muda nan malang itu, dia malah berpikir kalau ini trik jahat yang digunakan sang antagonis sebelum menggantung lawannya sampai mati. Sibuk berpikir ini dan itu, akhirnya undangan makan dari sang nona jahat pun tiba. Pria tadi menerima undangan tersebut setelah mengumpulkan banyak keberanian, dia hanya bisa berharap kalau itu bukan perjamuan terakhir sebelum dia dihukum mati. Dia masih harus menafkahi adik dan ibunya, jadi dia harus hidup untuk waktu yang cukup lama.
Setelah melewati rangkaian persiapan yang banyak, pria itu telah lebih dulu diantarkan ke ruang makan di lantai teratas. Pemandangan di sana membuat pria tadi hanyut dan terbuai, sampai-sampai dia tak tahu kalau si nona jahat yang dia takuti sudah berada di depannya, duduk dengan nyaman di kursinya nan megah.
Vie mengajak pria tadi memulai makan sebelum mereka membicarakan soal bisnis. Pria itu mengangguk patuh, makan dengan cukup lahap meski pikirannya cukup banyak. Dia tak tahu bisnis apa yang akan mereka bicarakan. Tapi dia berharap kalau dirinya bisa menolak seandainya dia merasa tak mampu ikut campur dalam hal tersebut. Semoga saja nona di depannya ini mau mengerti kalau memang itu yang terjadi.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Jadi, bisa kita mulai berbicara dengan serius?" tanya Vie yang duduk bersandar dengan santainya.
Pria di depannya mengangguk kecil setelah melihat ke sekitar, banyak pelayan yang berlalu lalang untuk membereskan meja makan. Jadi dia berpikir tak akan ada masalah kalau mendengarkan saat ini. Yah, walau dia merasa pencernaannya pasti akan terganggu. Dia baru saja selesai menyantap berbagai makanan, jadi dia lebih merasa tak enak karena terlalu tegang menunggu apa yang akan nona itu katakan padanya.
"Baiklah, langsung saja, oke?!" kata Vie sekali lagi memastikan. Pria itu masih mengangguk seolah setuju, padahal dia tak punya pilihan lain selain mengiyakan apa yang dikatakan oleh nona besar di depannya ini.
__ADS_1
Vie mengisyaratkan agar pelayan-pelayannya segera pergi meninggalkan mereka berdua, dengan segera semua melaksanakan perintah sang nona. Tentu saja si penulis ketar-ketir melihatnya. Apa sekarang dia sudah boleh panik, tak ada siapa pun selain mereka berdua. Rasanya sungguh semakin mencekik dan menakutkan. "Bekerjalah untukku!" tukas Vie dengan santainya. "Akan kuberi gaji lebih banyak dari pekerjaan anda sebelumnya, anda juga boleh tinggal di kediaman para pekerja di belakang, tentu akan ada libur dan uang bonus tahunan yang memang disediakan untuk semua pekerja di sini. Jadi, apa jawaban anda?" lanjut Vie seraya menyodorkan selembar kertas ke arah pria itu.
"Saya hanya penulis biasa, nona. Saya tak pernah menjadi pelayan apa lagi menyenangkan seorang lady seperti anda," kata si pria berkeringat dingin, berpikir kalau dia ditawari pekerjaan yang bukan-bukan.
"Itu sudah cukup, kamu dipekerjakan memang karena kamu seorang penulis," timpal Vie acuh.
"Saya tak bisa tinggal di sini, saya mengkhawatirkan adik saya yang masih kecil dan ibu saya yang sudah tua, nona," kata pria itu sedikit bernapas lega. Setidaknya dia bukannya disuruh menjadi badut yang harus terus menghibur majikannya atau bekerja sebagai pemuas yang harus selalu menuruti apa keinginan sang majikan.
"Pilih antara dua, kamu bolak-balik atau mereka kamu ajak tinggal di sini," balas Vie tanpa berpikir. Ayahnya pasti tak keberatan kalau dia mengajak satu keluarga tinggal. Lagi pula mereka bisa mengurus segala sesuatunya sendirian, dia hanya membutuhkan penulis yang bersedia menuliskan cerita tentang dirinya. Pasti kejahatan tentang dirinya lebih terkenal luas kalau disebar melalui tulisan.
"Siapa yang ingin mempekerjakan mereka berdua?" Vie bertanya dengan nada malas. "Hanya kamu yang bekerja dan mereka bisa tinggal di sini selama kamu bekerja di rumah ini," lanjut gadis itu sangat paham dengan jalan pikiran pria muda di depannya ini. "Tanda tangan kalau kamu setuju!" tambah Vie melirik kertas yang tadi dia sodorkan.
"Bisa saya meminta waktu untuk berpikir, nona?" tanya pria itu masih meragu.
Vie mengangguk, tangannya ke depan dengan jari-jari yang terbuka lebar. "Saya akan memberi kabar dalam lima hari, nona!" kata si pria yang merasa senang, dia mengira kalau Vie mengizinkan dia berpikir selama lima hari.
__ADS_1
"Terlalu lama!" dengus gadis itu menarik kembali tangannya yang terulur ke depan.
"Enggg, lima jam?" tanya si penulis menggaruk pipinya yang sama sekali tak gatal.
"Masih lama!" sanggah Vie mendelik tak sabar.
"Anda ingin saya memikirkannya hanya dalam lima menit?" tukas pria itu menebak sekali lagi.
Vie tersenyum tipis. "Tepatnya empat menit tiga puluh detik!" rapat gadis itu tak berperasaan. "Dan waktu terus berjalan," lanjutnya tak peduli kalau lawan bicaranya kesal.
"Tidak perlu! Saya akan tanda tangan sekarang!" kata si penulis menyambar kertas tadi dan menandatanganinya dengan ekspresi kesal.
"Bagus, selamat bergabung!" kata Vie terlihat senang meski tak kentara. "Tulislah karya sebanyak mungkin," lanjutnya meninggalkan ruangan tersebut. "Ah, kalau kamu ingin menjemput keluarga mu. Gunakan saja mobil, biar supir yang menemani," tambah Vie seenaknya sebelum dia benar-benar pergi.
"Sial, aku benci ini!" umpat pria itu menendang udara kosong. "Tapi ini juga merupakan kesempatan yang bagus," desah pria itu dengan wajah tak berdaya. "Ibu dan adikku tak akan merasakan kedinginan lagi saat malam," lanjutnya sedih. Dia sudah berusaha sebaik mungkin, tapi semakin lama rumah yang dia tempati semakin mahal saja sewanya. Harga sewa yang terus meningkat tak sebanding dengan perbaikan yang terlalu jarang dilakukan oleh pemilik bangunan. Mungkin dengan pindah ke sini, dia bisa menyimpan sedikit kelebihan uang dan suatu saat membeli rumah sendiri meski pun kecil. Dengan harapan itu, sang penulis pun tersenyum senang. Berharap kalau keputusan yang dia ambil bukanlah jalan menuju neraka.
__ADS_1