Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
23


__ADS_3

Bru satu hari Robin ditugaskan untuk menulis cerita baru, pria itu sudah membawa hasil kerjanya pada keesokan harinya. Vie cukup senang, tapi gadis itu menegur cara kerja Robin yang sangat gila-gilaan. Memang bagus bersikap rajin dan bekerja keras, tapi tetap harus memikirkan kondisi tubuh dan mengutamakan kesehatan diri dulu. Masa nekat bergadang hanya karena ingin cepat menyelesaikan cerita yang dibuat, bahkan tanpa tidur sama sekali.


Robin menerima kritikan dari bosnya, dia mengatakan kalau dirinya akan bekerja secukupnya ke depannya. Keduanya pun menghabiskan waktu, Robin banyak bertanya tentang ini dan itu. Hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk membuat cerita baru tentang penjahat yang berakhir bahagia. Vie cukup antusias mendengarnya, yah tak ada juga larangan yang melarang penjahat untuk memiliki akhir yang bahagia bukan.


Dengan semangat menggebu dan ide yang mengalir deras, Robin bergegas pergi untuk kembali menulis. Baru saja dia mau mencoret penanya di atas kerta, suara ketukan pintu menghentikan gerakan tangannya. Rupanya seorang pelayan datang dan menyampaikan bahwa Robin dipanggil oleh tuan besar mereka. Robin pun meminta untuk diantar, dengan pikiran yang berkecamuk memikirkan mengapa dia dipanggil, Robin melangkah mengikuti pelayan yang berjalan di depannya dengan wajah tenang.


"Tuan, saya membawa Tuan Robin ke mari, tuan," si pelayan mengetuk pelan ruangan majikannya.


"Masuk," kata pria paruh baya itu. "Dan kamu bisa pergi sekarang!" lanjutnya mengusir pelayan yang datang bersama dengan Robin.


"Saya permisi, tuan besar," katanya pamit sebelum benar-benar pergi.


"Duduklah," titah ayah Vie. "Mau kopi atau teh?" lanjutnya menawarkan minuman.


"Tidak perlu repot-repot, tuan," tolak Robin halus.


"Kamu pasti bertanya-tanya mengapa saya memanggil kamu, bukan?" tatapan pria tua itu tak lepas dari Robin.


"Mungkin ini ada hubungannya dengan nona," tebak Robin.


Tuan besar mengangguk membenarkan tebakan Robin barusan. "Gadisku tak pernah membawa seorang pria ke rumah, dan baru kamu yang dibawanya selama ini. Yang pertama dan mungkin satu-satunya!" ada nada kesal dalam suara pria itu saat dia berbicara barusan.


"Nona hanya menyukai hasil tulisan tangan saya, tuan," ucap Robin membalas.

__ADS_1


"Itu mungkin benar, tap mengapa kamu hanya menulis sisi negatif dari kesayanganku itu?!" decaknya kesal.


"Nona yang meminta hal tersebut, saya hanya memenuhi apa yang nona perintahkan pada saya, tuan," balas Robin serius.


"Kamu belum menikah?" tanya sang tuan besar tiba-tiba.


"Saya terlalu sibuk menulis dan memperhatikan keluarga saya, tuan," jawab Robin cepat.


"Tidak punya tunangan juga?" tanya pria tua itu lagi.


"Belum," balas Robin singkat.


"Gadis yang kamu suka?" makin ke sini, tuan besar rupanya semakin kepo mencari tahu soal Robin.


"Belum bertemu dan belum terpikirkan untuk mengurus masalah percintaan sebelum adik saya cukup dewasa," kata Robin menarik napas panjang sebelum menjawab. Ya, apakah ini kekhawatiran seorang ayah yang mempunyai anak gadis. Apa semua ayah akan begini kalau melihat anaknya dekat dengan seorang pria. Tapi jujur, dia tak memiliki perasaan romantis sama sekali pada majikannya itu. Dan Robin yakin itu juga berlaku sebaliknya, nonanya tak mungkin memiliki perasaan padanya yang hanya pemuda biasa dan miskin ini.


"Saya masih ingin bekerja dengan baik, kali saya memiliki wanita di sisi saya, waktu saya pasti akan berkurang sedikit banyaknya dan itu akan memengaruhi kinerja saya dalam menyelesaikan tulisan yang nona minta," jelas Robin sekaligus menolak tawaran dari tuan besarnya.


"Baiklah, kalau begitu. Kamu boleh pergi dan tolong rahasiakan pertemuan ini dari gadisku!" kata bos besar tersenyum tipis.


"Akan saya lakukan sesuai permintaan anda, tuan!" kata Robin membalas. "Kalau begitu saya permisi," lanjut pria itu kemudian berlalu pergi.


Setelah menutup pintu, Robin menarik napas dalam sambil memejamkan matanya. Sungguh dia hanya ingin bekerja dan mengumpulkan uang yang banyak untuk membahagiakan ibu dan adiknya. Dia sama sekali tak pernah berpikir untuk memanfaatkan kebaikan nonanya dan bergantung pada wanita itu untuk menaiki status sosial dengan cepat. "Apa aku kurang terlihat bekerja keras, ya?" gumam Robin sambil berjalan kembali ke ruangannya. "Entahlah, lebih baik aku kembali menulis!" katanya mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


"Bagaimana, tuan? Apa harus saya ikuti dan perhatikan?" di dalam ruangan ayah Vie, seorang pria bertopeng tiba-tiba muncul entah dari mana. "Siapa yang tahu kalau dia sedang berbohong?!" ucap pria itu mencurigai Robin.


"Tak perlu, aku yakin dia mengatakan yang sebenarnya!" kata sang tuan besar mencegah anak buahnya untuk bertindak.


"Anda sudah tak curiga?" tanyanya dengan wajah datar.


Si bos besar malah menyeringai tipis. "Tak buruk juga kalau anakku menginginkan bocah lugu itu. Jadi gadis kesayanganku tak akan pergi ke mana pun bahkan setelah dia menikah!" katanya enteng.


"Baiklah, perintah anda akan saya laksanakan!" kata pria itu lalu kembali menghilang begitu saja.


"Tak buruk, sama sekali tak ada buruknya!" gumam ayah Vie tersenyum tipis. "Anak itu cukup lucu dan juga jujur," katanya memuji.


Baru saja sang ayah ingin kembali mengurus dokumen, ruangannya dibuka tanpa permisi. Pria itu sudah hapal di luar kepala siapa yang berani berlaku seperti itu kepadanya. Siapa lagi kalau bukan anaknya sendiri. "Papa, aku ingin pergi liburan!" kata gadis itu langsung ke intinya.


"Baiklah, coba papa dengarkan gadisku ingin pergi ke mana?" kata sang ayah kembali meletakkan dokumen yang tadi baru saja hendak dibacanya.


"Pantai, dengan banyak pemandangan indah, dan cukup hangat," kata Vie cepat.


"Akan papa siapkan. Papa akan menyusul setelah urusan di sini selesai," balas sang ayah mengabulkan begitu saja permintaan anaknya dengan mudahnya.


"Aku akan pergi bersama dua pelayan, dua pengawal, Robin, dan juga keluarganya! Papa akan mengizinkannya, kan?" tanya Vie antusias.


"Hanya dua?" sang ayah mengernyit tak suka. "Bahkan dua puluh pengawal dan sepuluh pelayan saja masih kurang menurut papa, sayang," lanjut si ayah sedikit keberatan dengan orang-orang yang dibawa anaknya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin liburan dengan tenang. Aku juga tak suka kalau ada rumor yang beredar selama aku berlibur, papa!" kata Vie menjelaskan alasan dia membawa orang sesedikit mungkin.


Sang ayah terlihat tak suka, tapi dia juga tak berdaya melawan keinginan anaknya. Jadilah keduanya diam sejenak sebelum sang ayah membuka kembali mulutnya.


__ADS_2