
Robin dipanggil oleh ayahnya Vie, dia ditanyai ini dan itu. Untungnya pria itu bisa menjawab semuanya dan sepertinya bos besarnya juga cukup menyukai semua jawaban yang diberikan oleh Robin.
Selepas kepergian Robin, seorang pria yang menutup sebagian besar wajahnya dengan topeng muncul entah dari mana. Pria itu mengatakan akan mengintai Robin untuk ke depannya, siapa yang tahu kalau mungkin saja pria itu sangat pandai berbohong san berakting. Namun, si bos malah menghentikannya. Dia percaya semua yang dikatakan Robin adalah kebenaran. Lagi pula tak buruk juga memiliki calon menantu seperti Robin, jadi anaknya tetap akan tinggal di rumahnya meski sudah menikah. Itu hal yang baik untuk dirinya.
Baru beberapa menit Robin pergi, pintu ruangan ayah Vie kembali terbuka lebar dengan sedikit keras. Susah pasti pelaku yang berani berbuat seperti itu adalah anaknya sendiri. Rupanya Vie meminta untuk diizinkan berlibur. Dia akan membawa pelayan dan kesatria dalam jumlah sedikit. Sang ayah tak setuju dengan itu, tapi tetap saja mencegah anaknya melakukan apa yang dia mau itu terlalu mustahil dilakukan.
"Baiklah, kamu bisa pergi seperti yang kamu inginkan. Tapi jangan terlibat dalam masalah yang membahayakan! Kamu paham, sayang?" tukas sang ayah setelah diam cukup lama.
"Terima kasih, papa. Aku tak akan melakukan hal berbahaya dan hanya bermain selama liburan," ucap Vie memeluk ayahnya singkat sebelum dia meninggalkan ruangan sang ayah.
Selepas anaknya meninggalkan ruangannya, sang ayah pun menjentikkan jarinya satu kali. "Ada apa, tuan?" tanya seorang pria yang entah muncul dari mana.
"Kamu dengar apa yang anakku katakan tadi, bukan?" si bawahan mengangguk dengan wajah serius. "Kawal gadis kesayanganku diam-diam, ikuti dan selesaikan semua bahaya yang mungkin mengganggu liburan anakku!" titah tuan besar rupanya menyediakan pengawal tambahan yang bertugas mengikuti dan menjaga dari kejauhan.
"Akan saya lakukan yang terbaik, tuan!" kata pria itu langsung menghilang setelah mendapat perintah dari tuannya.
Sang ayah menghela napas pelan. "Dengan ini setidaknya aku bisa merasa lebih tenang!" ucap pria paruh baya itu seraya tersenyum lega.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Hari ini, Vie berangkat bersama dengan Robin, dan yang lainnya. Gadis itu memutuskan untuk berangkat lebih cepat dengan alasan sudah tak sabar bermain air di tempat yang dia tuju nantinya.
"Hati-hati di jalan, sayang," ucap sang ayah memeluk anaknya erat. "Kalau urusan papa sudah selesai, papa akan menyusul secepatnya!" lanjut pria itu dengan suara lembut.
__ADS_1
"Jangan terlalu cepat, biarkan aku bermain sedikit lebih lama dengan bebas," timpal Vie dengan wajah serius. "Kalau perlu papa mengurus semuanya sampai aku kembali saja tanpa perlu menyusu," lanjut gadis itu menentang ayahnya menyusul dirinya.
"Tapi papa pasti akan sangat merindukan gadis kecilku ini kalau kita terlalu lama tak bertemu," tukas sang ayah beralasan.
"Kita masih bisa bertukar kabar, aku akan mengirim surat setiap hari!" kata Vie tak mau kalah.
"Baiklah, papa akan tetap di sini dan menunggu gadis kesayanganku kembali!" ucap sang ayah mengalah.
Begitu mobil yang membawa Vie sudah cukup jauh, beberapa mobil lain pun berhenti di depan tuan besar mereka. "Ikuti dan lindungi anakku, nona kalian satu-satunya!" titah sang ayah tanpa melepas pandangannya dari depan, arah mobil anaknya sudah mengulang sejak tadi. "Ingat, jangan sampai ketahuan. Kalian harus berpura-pura sedang liburan juga kalau memang terpaksa menampakkan diri!" lanjut pria itu memberi perintah tambahan.
"Baik, tuan. Kami pergi dulu!" kata salah satu di antara mereka menjadi perwakilan.
"Kalau nona tahu, beliau akan sangat marah, tuan," ucap sang tangan kanan, orang kepercayaan ayah Vie pada tuannya saat mereka hanya tinggal berdua saja di sana.
"Kalau begitu, cukup jangan sampai gadisku tahu apa yang aku lakukan," balas si tuan besar dengan entengnya.
"Kita hanya perlu membuatnya menjadi mungkin, hanya kita yang tahu dan kalau kamu tak membuka mulut, maka tak akan ada orang lain yang tahu. Karena pastinya mulutku akan tetap terkunci dengan rapat!" si bos melirik singkat bawahannya yang paling dia percaya itu.
"Saya akan berjanji untuk menutup mulut saya, tuan!" katanya bersumpah.
"Bagus, ayo kita kembali bekerja agar aku tak terlalu memikirkan anakku yang cantik itu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Kakak cantik, kita akan ke mana?" tanya Anne antusias. "Apa kita akan bermain seperti yang terakhir kali kita lakukan?" tanya gadis kecil itu lagi. Supir yang mengemudikan mobil berharap setidaknya sang nona tak akan membentak anak kecil yang terlihat sangat antusias dan manis itu hanya karena sedikit kesal saja.
"Bermain?" Vie terlihat berpikir sebentar. "Lebih tepat kalau dikatakan jalan-jalan untuk waktu yang lama," lanjut gadis itu setelahnya.
"Aku suka jalan-jalan, dulu ibu dan kakak juga sering membawaku berkeliling, kak," timpal Anne penuh semangat.
"Hoo, mari kita cari tahu mana yang lebih kamu sukai nanti?!" ucap Vie, matanya memicing tajam penuh ambisi.
"Eng, semua pasti menyenangkan!" kata gadis kecil itu polos.
"Anne, kamu tidak boleh mengganggu nona. Biarkan nona beristirahat!" tegur si ibu menyela. "Maaf, nona. Anne terlalu antusias kalau diajak keluar seperti ini," kata wanita paruh baya itu meminta maaf.
"Tak apa, aku tak merasa terganggu sama sekali," balas Vie santai. "Kalau aku terganggu, paling akan aku buat penyebab masalahnya menghilang, gampang kan?" lanjut gadis itu.
"Nona, jangan bercanda dengan wajah serius seperti itu, saya mohon," sela Robin turun tangan ikut bicara.
"Cih, tidak seru!" decih Vie memalingkan wajah seraya menutup matanya.
"Ayo, tidur saja, Anne," ucap si ibu yang masih khawatir kalau-kalau ucapan bos anaknya itu dijadikan kenyataan. Tak akan ada yang tahu kalau mereka bertiga dilenyapkan, bahkan tak akan ada sama sekali yang menyadari kalau mereka menghilang.
Begitu sampai di tempat yang dituju, rupanya ketiga kawan Vie juga berada di sana. Mereka bertiga sudah janjian bertemu secara diam-diam tanpa ada yang tahu sama sekali. "Ho-ho, apa ini?" sambutan hangat pun didapatkan dari orang yang tak dikira, setidaknya itulah yang mereka tampilkan di permukaan. "Tak disangka kita akan bertemu di sini, Nona Embross!" lanjut orang tersebut tersenyum formal.
"Saya juga tak menyangka bisa melihat wajah anda setelah sekian lama, Nona Diaz!" balas Vie mengangkat dagu tinggi. "Kalau begitu permisi, senang bertemu dengan anda!" katanya lagi.
__ADS_1
"Kebetulan kita bertemu di sini, bagaimana kalau anda ikut hadir di acara minum teh bersama yang akan kami adakan sore ini, Nona Embross?" sela Miu mengundang Vie agar mereka bisa bebas berbicara tanpa perlu berpura-pura seperti ini.
"Haruskah?" dengus Vie membuat suasana terasa canggung dan juga tegang di saat yang bersamaan.