
Vie diperiksa dokter, dokter itu mengatakan kalau Vie hanya butuh istirahat saja. Vie terlalu banyak berpikir dan itu berujung stress sehingga membuat kesehatannya menurun. Sang ayah mengusir dokter yang baru saja selesai memeriksa anaknya, dia menyuruh dokter itu memeriksa Vie secara berkala ke depannya. Si dokter berjanji akan memeriksa dua jam sekali, dia juga pamit untuk membuatkan obat yang bagus agar nonanya cepat sembuh.
Tuan besar rupanya malah mengajak pelayan yang selalu di sisi anaknya mengikuti dirinya ke ruangan sebelah, ada yang ingin dia tanyakan tentang anaknya, mengapa sang anak bisa stress seperti yang dokter simpulkan barusan. Si pelayan pun mengatakan semua yang dia tahu, tentang kegiatan nonanya akhir-akhir ini. Dia juga mengatakan kalau sang nona sangat jarang keluar rumah, bahkan nonanya tak mengikuti pesta teh lagi dari beberapa waktu lalu.
Si pelayan baru bisa bernapas lega saat tuannya kembali ke kamar sang nona, dia bahkan sampai menangis karena tak percaya dirinya bisa selamat dari sang tuan yang terkenal lebih tiran dari pada nona mereka.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Semalaman ayah Vie terjaga di sisi Vie yang terus tertidur, hingga pagi datang pun gadis itu terlihat enggan membuka matanya.
"Tuan besar, sudah waktunya anda–," si tangan kanan meneguk ludah susah payah begitu mendapat tatapan tajam dari tuannya, dia pun langsung memilih menutup rapat mulutnya.
"Bukankah sudah kukatakan untuk membatalkan semua sampai anakku sehat?!" desis sang majikan dengan suara sepelan mungkin, takut mengganggu tidur anaknya.
"Maafkan saya, akan saya lakukan sesuai perintah anda, tuan besar!"kata si tangan kanan membungkuk dalam sebagai permintaan maaf. Ayah Vie melambaikan tangannya, mengusir tanpa suara sang bawahan yang menurutnya kurang berguna itu. "Kalau begitu saya permisi dulu, tuan besar!" katanya pamit pergi untuk mengatur ulang jadwal majikannya yang kacau karena insiden tak terduga.
"Ugh ...," suara lenguhan kecil terdengar.
Dengan cepat sang ayah bergerak, mendekati anaknya setelah membunyikan bel untuk memanggil pelayan. "Kesayangan papa, jangan buat papa mu yang tua ini cemas, hmm," bisik pria itu dengan wajah sedih.
"Anda memanggil, tuan?" kata pelayan yang baru saja datang secepat yang dia bisa.
"Panggilkan dokter!" balas si tuan tanpa menoleh ke belakang, pria itu sibuk memperhatikan anaknya.
__ADS_1
"Baik, tuan!" kata si pelayan segera melaksanakan perintah dari tuannya.
"Papa ..., aku haus," bisik Vie dengan suara lirih.
"Sebentar!" timpal sang ayah segera menuangkan air ke dalam gelas untuk putrinya dengan gerakan teramat cekat. "Minum perlahan, sayang," kata pria itu sambil membantu memegangi gelas. "Bagaimana perasaan kamu, sayang? Apa yang tak enak?" tanya sang ayah setelah anaknya selesai minum.
Vie menggeleng pelan. "Tak ada, hanya sedikit pusing, papa," kata gadis itu tersenyum tipis.
"Kalau kamu sudah baikan, mari kita pergi jalan-jalan ke luar seharian!" ajak sang ayah berharap anaknya lebih cepat sembuh.
"Aku suka mendengarnya," timpal Vie sedikit tak sabar menghabiskan waktu bersama dengan ayahnya. "Papa tak bekerja?" tanya Vie saat menyadari kalau matahari sudah cukup tinggi.
"Sudah selesai!" kata sang ayah jelas berbohong. Si tangan kanan yang kebetulan datang bersama dokter hanya tersenyum kaku mendengar itu. Sudah dari mananya, satu pun dokumen tak ada yang disentuh. Pertemuan ditunda entah sampai kapan. Apa itu yang dimaksud dengan sudah.
Setelah diperiksa, Vie disuruh makan makanan yang mudah dicerna. Gadis itu hanya menurut saja agar dia bisa segera sembuh.
"Kamu mau ke mana, sayang?" tanya sang ayah begitu melihat anaknya langsung pergi begitu mereka kembali ke rumah. Biasanya anaknya langsung ke kamar, tapi kali ini tidak. Sebenarnya anaknya ini mau ke mana.
"Ah, aku ingin melihat nona kecil yang manis, papa," balas Vie. "Dia adik dari salah satu pekerja di sini," lanjut gadis itu.
Seseorang yang terus berdiri di sisi ayahnya Vie pun mendekat ke arah tuannya lalu berbisik sejenak, sang tuan besar mengangguk paham. "Biarkan papa ikut, papa juga ingin melihat semanis apa nona kecil yang gadis kesayanganku ini ingin lihat," kata sang ayah. "Mari pergi bersama, sayangku!" lanjutnya mengulurkan tangan. Keduanya menuju rumah Robin sambil berpegangan tangan.
"Nona, ada apa malam-malam begini?" tanya Robin yang cukup terkejut melihat nona majikannya datang, apa lagi ada seorang pria yang dia tahu adalah penguasa kediaman ini, dia tahu itu dari potret kelurga yang pernah dia lihat terpajang di rumah utama.
__ADS_1
"Apa ada larangan sehingga aku tak boleh ke sini pada waktu begini?" tanya Vie dengan wajah dingin. "Aku bisa ke mana saja yang aku inginkan, apa lagi ini masih di area kediaman ku?!" lanjut gadis itu terdengar angkuh.
"Maafkan ketidaksopanan anak saya, nona. Robin hanya terkejut melihat nona datang, itu saja," kata ibunya Robin menengahi. "Mari masuk, apa anda mau makan bersama?" ajak ibunya Robin kelewat ramah. Matanya terus tertuju pada pria yang ada di sisi sang nona, dia belum pernah melihat pria itu sekali pun, tapi entah kenapa dia merasa takut dan tertekan hanya dengan kehadirannya saja.
"Apa papa ingin mampir?" tanya Vie menatap ayahnya.
"Lakukan sesukamu, sayangku!" kata sang ayah tersenyum penuh kasih, dia bisa melakukan apa saja yang diinginkan anaknya. Bahkan dia akan membuat pria jelek ini menjadi menantu kesayangannya kalau memang itu yang anaknya inginkan saat ini juga. Kalau pria itu menolak, maka dia akan melakukan paksaan agar semua berjalan sesuai dengan keinginan anaknya. Itu semua dia lakukan untuk melihat sang putri selalu tersenyum dan bahagia sepanjang hidupnya.
"Kakak cantik!" sapaan hangat dengan nada ceria terdengar menyambut kedatangan mereka begitu keduanya memasuki ambang pintu.
"Hallo, nona manis!" balas Vie menyunggingkan senyum kecil.
"Apa kabar, kakak cantik?" tanya gadis kecil itu. "Apa kakak cantik datang untuk makan bersama Anne?" tanyanya lagi sambil menelengkan kepalanya.
Vie menggelengkan kepalanya, jelas dia sudah sangat kenyang, jadi dia tak mungkin datang untuk makan di sini. "Aku sangat-sangat baik hari ini!" balas Vie melakukan percakapan hangat yang tak pernah dia lakukan dengan gadis seusianya di sini. "Ah, aku datang untuk memberikan ini padamu, nona manis," kata Vie menyerahkan dua kantongan kecil.
"Apa ini?" kata gadis itu dengan mata berbinar. Dia jarang mendapatkan hadiah, tentu saja dia merasa sangat senang mendapatkannya di saat yang tak diduga. "Woah, cantiknya," kata gadis itu kagum. "Ini sungguh untukku?" tanyanya menatap Vie penuh harap.
"Tentu, atau haruskah aku ambil kembali?" tanya Vie main-main.
"Tidak, yang sudah diberikan tidak boleh diambil lagi, kakak cantik?!" kata gadis kecil itu memeluk erat kedua bingkisan yang diberikan Vie.
"Ha-ha, baiklah, baiklah. Lalu, aku akan pergi sekarang!" ucap Vie pamit, dia tak ingin menyita waktu berharga orang lain.
__ADS_1
"Terima kasih atas kebaikan anda, nona. Maaf, Anne masih kecil dan dia belum mengerti tata krama," kata ibunya Robin meminta maaf dengan tulus.
"Tak apa, aku pergi sekarang. Maaf sudah mengganggu!" kata Vie pergi tanpa menoleh. Sang ayah melihat anaknya dengan seksama, jadi anaknya ke sana benar-benar hanya untuk melihat gadis kecil itu. Artinya yang anaknya sukai adalah si gadis kecil, bukan kakaknya kan. Untuk alasan yang tak bisa dijelaskan, ayah Vie merasa lega, seakan kekhawatirannya menghilang begitu saja. Tapi dia tak tahu apa yang sebenarnya dia khawatirkan.