Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
26


__ADS_3

Vie memenuhi undangan Indi dan yang lainnya, mereka akan mengadakan pesta teh di sore hari di kediaman Indi yang ada di sini. Undangan yang seperti peperangan di mata pihak luar itu pun mau tak mau membuat Robin khawatir. Apa lagi nonanya malah berniat pergi sendirian, tentu saja dia tak bisa membiarkan itu terjadi.


Sedikit adu mulut, tapi tetap dimenangkan oleh Robin. Pria itu bersikeras untuk ikut meski tak diizinkan. Vie pun membiarkan, tapi dia mengatakan kalau Robin harus menunggu tanpa mengganggu pertemuan mereka berempat.


Dan di sinilah Robin sekarang, duduk di sebuah gazebo yang tak jauh dari rumah kaca yang menjadi tempat pertemuan nonanya. Dia menunggu dengan sikap siaga, Robin selalu bersiap untuk bertindak kalau-kalau bosnya memanggil nanti.


Di dalam malah terjadi hal gila, seorang Vie mengatakan akan mencoba untuk mati. Siapa tahu dengan begitu mereka bisa kembali ke dunia asal mereka. Mata ketiga kawannya melotot ganas mendengar itu, mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.


"Bunuh diri?" tanya Lili melotot tak percaya. "Sudah gila, ya?!" lanjut gadis itu kesal. Dia juga berniat untuk kembali, tapi dia tak mau membuat kekacauan di sini dengan melakukan hal-hal gila seperti yang dikatakan oleh kawannya ini.


"Jangan gegabah, pikirkan juga apa yang akan dilakukan Tuan Embross jika kamu benar-benar nekat?!" ucap Miu mengingatkan. Gadis itu sangat khawatir, pasalnya temannya itu selalu melakukan apa yang dia pikirkan tanpa pernah memikirkan konsekuensi dari perbuatannya sama sekali.


"Mungkin benua ini akan diratakan dan dikubur bersama dengan tubuh berharga itu," kata Indi menimpali.


"Aku hanya asal bicara, lupakan!" tukas Vie dengan nada datar.


"Jangan pernah berpikir untuk melukai diri sendiri! Bisakah kamu berjanji?" sambung Miu menatap lurus Vie.


"Baiklah, aku tak akan melakukannya!" ujar Vie berjanji.


Mereka terus berbicara, tanpa tahu kalau Robin yang sedang sedang menunggu di luar merasa sangat cemas. Setiap menit yang bertambah, kecemasannya ikut bertambah pula. "Kuharap anda baik-baik saja, nona," gumam pemuda itu terus menatap ke arah pintu rumah kaca.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


"Perbuatan jahat tak berguna, meminta untuk kembali pun juga sama hasilnya. Kira-kira apa yang belum kita coba?" ucap Lili setelah mereka cukup lama diam.


"Entahlah, padahal kita pun sudah mencoba untuk bertengkar saat bertemu terakhir kali," sahut Indi tak memiliki ide sama sekali.


"Haruskah kita menyadari kalau ini dunia di dalam novel?" gumam Vie dengan tampang serius.


"Memang ada di antara kita yang tak tahu akan fakta tersebut?" sahut Vie tak terlalu tertarik.


"Kita memang tahu, tapi mungkin otak kita belum mengakui saja," tambah Miu menyela.


"Sungguh aku sangat ingin kembali!" desah Lili putus asa.


"Tapi kita malah terjebak di sini tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi?!" tambah Indi sedikit kesal dengan fakta yang harus dia ucapkan dengan bibirnya sendiri barusan.


"Haruskah kita coba sekarang?" kata Lili antusias.


"Apa ini akan berhasil?" kali ini Indi yang bertanya dengan nada ragu.


"Kita tak akan tahu hasilnya kalau belum mencoba!" ucap Miu berpikiran positif.


"Mari mencoba setidaknya sekali," tukas Indi ikut berbicara.


Keempat gadis itu pun memejamkan mata samb berpegangan tangan

__ADS_1


Mereka berharap agar bisa kembali dengan sangat tulus dari lubuk hati mereka sendiri. Cahaya keemasan menyelimuti keempatnya. Robin yang melihat itu pun bergegas berdiri. "Anda gak boleh mengganggu,.tuan?!" ucap seorang pelayan menghentikan langkah Robin.


"Minggir, aku harus menolong nonaku!!!" desis Robin kesal.


"Nona kami jelas mengatakan tak ada yang boleh mengganggu mereka!" kata pelayan yang menghentikan Robin tadi.


"Tapi nonaku berada dalam bahaya?!" ucap Robin sengaja meninggikan suaranya.


"Bahaya ap–, ya dewa, NONA!" ucapan pelayan itu terputus saat dia menoleh ke belakang, dia melihat sinar yang sangat terang berasal dari tempat nona mereka sedang berbincang tadi. "Lakukan sesuatu?!" pekiknya panik.


Robin menggunakan kesempatan itu untuk mendekati tempat nonanya berada, dia mencoba membuka pintunya, tapi pintu itu sama sekali tak mau bergerak. "Si*l, apa yang harus aku lakukan?" katanya terus berusaha mendobrak pintu.


Tak berapa lama, sinar yang begitu menyilaukan tadi berangsur meredup. Pintu yang tadinya sulit dibuka, dengan mudahnya terbuka hanya dengan sedikit kekuatan saja. "Nona, nona! Sadarlah?!" suara Robin terdengar sangat panik begitu dia melihat nonanya tak sadarkan diri.


"Nona, tolong buka mata anda?!" ucap pelayan lain membangunkan nona mereka masing-masing.


"Saya pamit dulu, saya harus membawa nona saya kembali secepatnya!" kata Robin menggendong Vie dan berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari siapa pun. Intinya dia sudah pamit, jadi tak masalah kalau dia langsung pulang.


"Langsung kembali ke kediaman!" kata Robin begitu sampai di dekat mobil mereka.


"Apa nona kelelahan?" tanya si supir berkomentar.


"Aku bersyukur kalau memang itu yang terjadi saat ini!" jawab Robin berupa gumaman. "Saya juga kurang tahu," kata Robin mengusap wajahnya kasar. Apa yang harus dia sampaikan pada tuan besarnya kalau begini. Yah, dia hanya bisa berharap nonanya sadar dengan cepat dan bisa menjelaskan sendiri apa yang terjadi pada tuan besar mereka setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2