
Di perjalanan, Anne bertanya ini dan itu. Hal itu membuat supir yang sedang menyetir melirik dengan cemas beberapa kali ke arah gadis kecil yang naif itu. Ingin rasanya dia mencegah gadis kecil itu terus bertanya, pasalnya tuannya kalau marah pasti akan sangat menyeramkan. Bahkan lebih menyeramkan dari pada iblis yang jarang terlihat.
Untungnya hal tersebut dapat segera diatasi, Robin turun tangan saat Vie mulai jahil menakuti adiknya. Pemuda itu memohon agar Vie tak bercanda dengan wajah yang kelewat serius seperti itu. Tentu saja Vie kesal, tapi dia tak berbuat apa-apa setelahnya.
Begitu mereka sampai di tempat tujuan, rupanya sudah ada tiga nona yang menunggu di sana. Lili menyapa setengah hati, yah setidaknya itulah yang terlihat di mata orang lain. Miu mengajak Vie untuk ikut menikmati teh di sore hari. Bukannya menjawab segera, Vie malah bertanya balik dan memasang tampang menjengkelkan yang ditujukan untuk ketiganya.
"Baiklah, siapkan aku kursi terbaik yang kalian miliki!" putus Vie sambil menyeringai tipis. "Aku akan memenuhi undangan kalian!" lanjut gadis itu kemudian berlalu pergi.
Bagi pelayan yang melihat para nona mereka sedang berinteraksi, mereka akan mengira kalau itu merupakan ajakan untuk perang. Nyatanya itu mereka berempat lakukan agar tak terlihat mencolok kalau mereka bertemu.
"Nona ..., apa tak masalah?" bisik Robin khawatir. Walau dia tak begitu tahu, tapi dia bisa merasakan aura permusuhan yang kuat dari mereka. Pasti akan menjadi masalah kalau mereka berempat berkumpul di tempat yang sama.
"Jangan khawatir, aku tak akan maju kalau tidak yakin!" ucap gadis itu membalas. "Siapkan gaun terbaik yang kalian kemas untukku!" lanjut Vie memberi perintah pada kedua pelayannya.
"Akan kami lakukan, my lady!" kata kedua pelayan itu bersamaan.
Tak banyak waktu yang mereka miliki, begitu sampai, Vie langsung mandi dan bersiap. Tak ada yang namanya beristirahat pasca perjalanan jauh. "Apa tak apa kali nona tak beristirahat dulu?" tanya Robin khawatir.
"Ini belum seberapa," ucap Vie santai. "Kalian beristirahat saja, aku akan pergi sendirian," lanjut Vie yang sedang duduk dan dirias.
"Anda harus membawa pengawal setidaknya satu orang, nona!" sela Robin tak setuju majikannya pergi sendirian. Bisa-bisa majikannya habis dikeroyok tiga nona yang terlihat sangat memusuhi bosnya tadi.
"Ya, tak akan ada apa pun yang terjadi meski aku pergi sendirian," bantah Vie keras kepala.
"Waspada tak ada salahnya, nona," timpal Robin tak mau mengalah.
__ADS_1
"Aku bisa sendirian!" kata Vie melirik tak suka.
"Tapi kami akan khawatir kalau nona pergi sendirian," balas Robin takut kalau nonanya terlibat masalah dan dia juga akan terkena imbas dari tuan besarnya.
"Aku pergi ingin sendiri!" putus Vie tak mau dibantah.
"Tidak bisa, kalau mereka terlalu lelah,biar saya yang menemani anda!" kata Robin membantah.
"Aku tak suka bicara berulang-ulang, Robin!" desis Vie mulai kesal. Dia tak mungkin membawa siapa pun, bagaimana mereka bisa bicara kalau ada orang lain yang mendengarkan isi pembicaraan mereka.
"Maaf, nona. Tapi saya tak bisa mundur, saya mengkhawatirkan anda!" kata Robin menunduk singkat. Tekadnya sudah bulat, dia harus ikut dengan atau tanpa izin dari Vie yang merupakan bosnya sendiri.
"Ini acara para wanita bangsawan, tak ada tempat untuk kamu di sana!" kata Vie mendengus kesal.
"Setidaknya saya bisa menunggu tak jauh dari anda, jadi kalau ada apa-apa, saya bisa langsung datang dan menolong anda, nona," kata Robin bersikeras.
"Akan saya ingat, nona!" kata Robin sebelum dia dibawa oleh salah satu dari dua orang pelayan yang Vie bawa. Tentunya pria itu akan berganti pakaian yang lebih pantas.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Dan di sinilah mereka berdua, di taman sebuah villa yang tak terlalu jauh dari kediaman mereka. "Selamat datang di tempat kami, Nona Embross," ucap Indi menyambut kedatangan Vie. "Anda rupanya membawa seorang pengawal ke mari," lanjut gadis itu melirik Robin.
"Abaikan dia!" kata Vie dingin. "Dia terlalu keras kepala untuk mendengarkan perkataan majikannya!" lanjut gadis itu semakin sinis.
"Fu-fu-fu, sepertinya kecantikan nona telah memikat hati dan pikiran pria cantik ini," sindir Lili.
__ADS_1
"Apa kita akan terus berdiri di sini?" tanya Vie tanpa peduli ucapan yang dilontarkan Lili barusan.
"Tentu tidak, mari kita nikmati teh hangat di dalam," balas Indi mempersilakan Vie masuk.
"Maaf, tuan ksatria yang berani. Anda hanya bisa mengantar sampai di sini!" ucap Miu menghentikan langkah Robin yang terus mengikuti mereka berempat.
Robin mengedarkan pandangannya, beberapa saat kemudian dia pun mengangguk mengiyakan perkataan Miu. "Saya akan menunggu di sini, nona!" ucap pemuda itu. "Panggil saja saya kalau anda butuh bantuan!" lanjutnya mengingatkan kalau dia akan selalu siap dan menunggu di sini.
"Manis sekali, tapi tak akan terjadi apa pun hingga anda perlu dipanggil, tuan!" kata Indi terkekeh kecil.
"Tak ada yang tahu dan bisa memastikan hal tersebut, nona!" ucap Robin membalas masih dengan nada sopan.
"Ya, teruslah menunggu sambil menikmati cemilan yang disediakan!" timpal Lili acuh.
Keempat gadis itu pun masuk ke rumah kaca yang ada di tengah-tengah taman. Beberapa saat keheningan melanda setelah mereka duduk. "Apa itu tadi?" dengus Lili angkat bicara. Tak ada siapa pun kecuali mereka berempat di sini. Indi sudah mengusir pelayannya agar tak mengganggu pertemuannya kali ini. "Luar biasa, tak di sana, tidak di sini, kamu tetap populer, ya?" lanjut gadis itu.
"Kita bertemu tidak untuk membicarakan omong kosong seperti ini, kan?" balas Vie acuh.
"Itu dia! Susah tahu kalau apa yang akan kita bicarakan rahasia, tapi kamu membawa seseorang ikut ke mari!" protes Lili tak habis pikir.
"Dia terlalu keras kepala untuk mendengarkan perintahku!" ucap Vie cuek. "Setidaknya dia tak menganggu, jadi tak usah dipedulikan!" lanjut gadis itu.
"Apa ada yang berubah?" tanya Miu mengalihkan topik.
"Tidak, aku sudah mengikuti saran kalian. Berbuat jahat, menghukum, mengacau, dan hal lainnya. Tapi tetap saja, kita masih di sini!" balas Vie malas.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang kurang?" ucap Lili kesal. "Aku hanya ingin kembali, tak peduli betapa sulitnya tugas yang akan aku hadapi di sana!" gadis itu merasa putus asa.
"Apa aku harus mencoba bunuh diri? gimana Vie menuai pelototan ganas dari ketiga orang yang ada bersama dengannya. Mereka tak percaya mendengar itu dari seorang Vie yang terkenal tanpa darah dan air mata ini.