Apa Yang Terjadi 2

Apa Yang Terjadi 2
8


__ADS_3

Vie menonton opera, dia mengosongkan gedung opera tersebut. Jadi hanya dia dan para pengawalnya yang menonton keseluruhan acara itu.


Di luar, pemilik bisnis ini meratapi nasibnya. Dia berharap kalau usahanya tak akan gulung tikar hanya karena masalah kali ini. Saat sedang berkeluh-kesah, dia mendengar beberapa warga yang sering menonton di tempatnya bukan menyalahkan dirinya. Mereka malah merasa kasihan pada dirinya karena tahu kalau dia melakukan itu atas perintah dari Vie, sang wanita jahat abad ini. Priai itu pun sedikit lega dan memutuskan untuk masuk dan mendampingi Vie menonton tanpa suara.


Baru saja dia tiba, Vie sudah mengangkat tangannya. Cemas sudah pasti, dia tak tahu apa lagi kali ini keluhan yang gadis itu utarakan. Rupanya dia hanya meminta cerita yang lain yang dibawakan, sepertinya Vie bosan dengan cerita barusan.


Lagi dan lagi, si pria tambun berkeringat dingin karena penulis satu-satunya yang dia miliki maju ke depan. Berdiri di atas panggung dan menjawab semua ucapan gadis gila itu tanpa kenal rasa takut. Mati, mati, mereka semua akan mati kalau begini ceritanya. Dia harus melakukan sesuatu untuk mencegah dirinya terjerat di lumpur neraka seperti ini.


Saat hendak maju, pria tambun itu dikagetkan karena Vie meminta para pengawalnya membawa penulis yang dia miliki untuk mengikuti wanita jahat itu. Dia hendak menolong, tapi dia lebih takut dengan apa yang akan dia dapatkan kalau dia maju. Akhirnya dia hanya bisa melihat dalam diam penulisnya digiring seperti tahanan yang melakukan dosa besar.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Jangan terlalu tegang," kata Vie tanpa menatap pada pria yang duduk di sampingnya. Gadis itu menatap malas pemandangan di luar. "Kita tidak sedang menuju tiang gantungan," katanya lagi yang malah semakin membuat pria itu gelisah mendengarnya.

__ADS_1


Vie melirik sekali, lalu menarik sudut bibirnya ke atas. "Santai sedikit, kita akan segera sampai," kata Vie sambil memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang menampar wajahnya.


Penulis yang dibawa oleh Vie tak menyembunyikan keresahan hatinya, keningnya berkerut, mulutnya komat-kamit merapalkan banyak do'a agar dia tak mendapatkan masalah nantinya. Hanya satu hadapannya, dia bisa pulang kembali ke rumah setelah semua selesai. Dirinya berjanji akan melakukan banyak perbuatan baik jika semua ini telah berhasil dia lewati tanpa masalah.


"Kita sudah sampai, nona," kata si supir menghentikan laju mobilnya. Sudah ada seorang pelayan lain yang membukakan pintu mobil, menyambut kedatangan sang nona yang baru pulang dari jalan-jalan.


"Berikan dia kamar tamu, layani dengan baik!" kata Vie menunjuk pria yang berdiri sambil tertunduk di sisinya, pria itu baru saja ikut turun dari mobil setelah Vie ke luar dari sana.


"Baik, nona!" kata si pelayan menunduk patuh. "Mari saya antar, tuan," katanya sopan.


"Saya tak bisa melakukan itu, anda merupakan tamu dari nona kami yang berharga," kata si pelayan masih tetap berbicara dengan sopan. Si pria pun akhirnya memilih kembali diam, dia menggaruk pipinya yang tak gatal karena tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan atau bicarakan.


"Ini kamar untuk anda, tuan," kata pelayan tadi begitu sampai di sebuah kamar yang pintunya masih tertutup rapat. "Jika ada yang kurang atau ada yang anda perlukan, bunyikan saja bel yang ada di atas meja. Salah satu pelayan yang berada di dekat sini akan segera datang dan membantu anda, tuan!" lanjut pelayan tadi. "Kalau begitu saya permisi, selamat beristirahat!" katanya lagi sebelum pergi.

__ADS_1


Penulis itu pun menggosok lehernya canggung, dia tak pernah diperlakukan sehormat ini sekali pun dalam hidupnya. Baru kali ini dia mengalami hal ini, dan itu pun saat dia berada di sarang sang penjahat wanita yang sangat terkenal. "Sebaiknya aku segera masuk dan beristirahat dengan benar!" kata pria itu mengusap wajahnya, mencoba mengembalikan kewarasan yang dia miliki agar dirinya bisa berpikir dengan jernih.


Pintu kamar pun dibuka dengan sangat hati-hati, dia tak ingin meninggalkan kesalahan bahkan seujung debu pun. Baru saja pintu di dalamnya dia buka, pintu tadi sudah kembali tertutup dengan bunyi bantingan yang cukup kuat. Mata pria itu mengedip kosong beberapa kali. "Apa itu tadi?" gumamnya seperti seseorang yang kehilangan setengah rohnya. "Apa ini pintu portal yang mengantarkan seseorang ke negeri dongeng?" tanyanya bodoh seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Yah, kamar yang akan dia tempati terlalu mewah baginya. Sangat banyak barang berharga dan benda langka yang dipajang sebagai hiasan di setiap sudut kamar. Dia jadi meragu apa benar dia bisa menggunakan ruangan ini untuk beristirahat.


"Entah mataku yang salah, otakku yang gila, atau pemilik rumah ini yang terlalu kaya! Tak ada yang bisa aku pikirkan untuk saat ini," kekeh pria itu menggaruk kepalanya, dia pusing tapi juga merasa tertarik dengan apa yang baru saja dia alami. Ini seperti petualangan ke dunia lain, dan dia merasa menjadi tokoh utama yang menemukan sesuatu yang belum ditemukan oleh orang lain.


"Apa pun yang terjadi, bukankah aku harus menghargai pemilik yang sudah memberikan aku kamar indah ini?" kata pria itu mulai menata pikirannya. "Aku akan beristirahat dengan baik dan memikirkan soal yang lain nanti saja," lanjutnya kembali membuka pintu kamar. Dia masih merasa tertarik, beruntung, dan senang. Tapi dia juga merasa ragu dan takut. Takut kalau ini adalah umpan manis yang akan membunuhnya ke depannya. Dia hanya bisa berharap semoga saja pemikirannya yang barusan tidaklah benar.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di kamarnya, Vie menulis pesan singkat. "Sampaikan pada ayah!" kata gadis itu menyodorkan kertas kecil yang sudah terlipat dengan rapi. "Jangan berani mengintip isinya jika kamu tak ingin hanya melihat kegelapan di sisa hidup mu?!" lanjut Vie menambahkan sedikit ancaman.


"Saya tak aka. melakukan itu, nona!" kata pelayan di depannya dengan sungguh-sungguh. Siapa yang masih berani nekat dengan ancaman yang baru saja dilayangkan oleh nonanya. Jika sang nona menginginkannya, jangankan hanya mata, nyawa pun pasti akan melayang tanpa ada yang mengetahui. Mereka hanya akan dinyatakan sebagai orang hilang, sudah itu saja. Tak ada lagi penanganan kasus, semua ditutup hanya dengan satu keterangan kecil seperti itu.

__ADS_1


"Bagus, pergilah!" kata Vie tak peduli. Si pelayan pun segera pergi, melakukan perintah nonanya dengan segera. Tak ingin dikatakan tak kompeten sebagai pelayan.


__ADS_2